Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
BINGUNG


__ADS_3

Hari ini Windu datang ke Pengadilan Agama untuk mendaftarkan gugatan cerai yang akan di layangkan kepada Wibisono.


Keputusan Windu sudah bulat dan tak bisa di ganggu gugat. Semalaman ia terus berpikir, menimbang dengan semua yang ia rasakan, mendengarkan nasihat Ibundanya. Semua ia rangkum dan hasilnya tetap sama dan bahkan keputusannay semakin bulat. Windu tetap ingin bercerai.


Sepanjang perjalanan menuju Pengan Agama. Arga beberapa kali menelepon Windu dan Arga ingin bertemu dengan Windu.


"Aku mau ada urusan pribadi, Ga. Kamu ada perlu apa sama aku?" tanya Windu pelan.


"Ada perlu apa?" tanya Arga pelan.


"Aku mau ke pengadilan agama," ucap Windu pelan.


"Untuk apa?" tanya Arga pelan. Arga bukan orang bodoh yang tidak paham dengan maksud dan tujuan Windu datang ke Kantor Pengadilan Agama.


"Mau belanja sayuran untuk keperluan Cafe," ucap Windu tertawa lebar.


"Hah? Belanja sayuran. Ku pikir kau ingin menggugat cerai Wibisono?" ucap Arga langsung menuduh.


"Sejak kapan jadi cenayang? Bisa jadi aku mengantarkan temanku ingin menikah?" ucap Windu mulai mencari alasan. Arga tahu maksudnya.


"Membaca pikiranmu dari jarak jauh begini tidak sulit, Windu. Setelah ini kau menjadi wanita mandiri? Aku akan mendekatimu lagi? Boleh dong?" tanya Arga dengan cepat.

__ADS_1


"Masih banyak wanita yang lebih baik dari aku, Ga. Jangan wanita yang banyak memiliki kekurangan seperti aku," ucap Windu pelan.


"Aku tak peduli. Kalau aku sudah cinta, kekurangan itu tak berlaku untukku. Aku hanya melihat ketulusannya," tegas Arga pelan.


"Masih mau ketemu? Atau hanya ingun berdebat di telepon?" tanya Windu pelan.


Windu kembali dilem. Ia bingung. Ingin melanjutkan atau berhenti dan tetap bertahan untuk sementara.


"Oke dimana? Sekarang aku samper," tegas Arga.


Windu pun memberukan lokasinya. Ia mencari tempat yang cukup nyaman untuk menunggu.


Tak sengaja kedua matanya menatap ke arah jalan raya. Ia melihat sosok Yasinta dengan bayi yang berada dalam gendongannya. Tapi terkihat samar. Windu seperti tak yakin karena saat ini Yasinta terlihat sepwrti gembel.


'Arghh ... Mana mungkin itu Mbak Yasinta. Mungkin aku salah lihat. Atau aku terlalu memikirkan kebahagiaan keluarga mereka yang sudah jelas sempurna.' batin Windu di dalam hatinya.


Brak ...


"Hei ... Melamun saja?" suara Arga begitu keras mengagetkan Windu.


Lamunannya seketika buyar. Tatapannya beralih ke arah Arga yang kini sudah duduk di depannya.

__ADS_1


"Arga? Kenapa ngagetin sih?" ucap Windu sesikit kesal.


Windu itu paling gak bisa di gebrak. Jantungnya langsung terpacu cepat dan napasnya memburu seperti buronan yang sedang di kejar -kejar oleh polisi.


"Maaf Ndu. Aku lupa kalau kamu punya penyakit jantungan," ucap Arga tertawa keras mengejek.


"Enak aja. Punya penyakit jantungan. Lebih tepatnya tidak suka di kejutkan," ucap Windu pelan.


Tawa Arga makin terdengar keras dan puas.


"Lalu bagaimana?" tanya Windu yang tak fokus.


"Bagaimana apanya?" tanya Arga bingung.


"Ekhemm .. Bagaimana kalau kamu lesan minuman dulu. Baru kita ngobrol," ucap Windu pelan berusaha mengalihkan maksudnya.


Tatapan Arga tajam ke arah Windu .e.buat Windu pun merasa tidak nyaman dan sedikit terganggu dengan tatapan itu. Windu pun mencari obyek lain dan tak membalas tatapan Arga yang terkesan aneh.


"Lihat? Akubsudah pesan minum sejak tadi!!" ucap Arga lantang.


Mata Windu mwngerjap. Cepat sekali. Padahal Arga baru saja datang.

__ADS_1


__ADS_2