Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
37


__ADS_3

Benny terperanjat kaget saat lelaki itu masuk tiba-tiba dan berteriak keras. Benny mencoba menenangkan hati dan degub jantungnya yang tiba-tiba berdetak dengan kencang.


Pandangannya beralih ke arah anak muda yang berteriak itu setelah tadi Benny fokus ke arah belakang kursinya untuk melihat ikatan simpul mati di tangannya.


"Oh ... Ini wajahku terasa gatal. Ingin rasanya aku menggaruknya, makanya aku menoleh ke belakang untuk menggesekkan wajahku pada sandaran kursi kayu ini," jawab Benny dengan masuk akal menjelasakan.


"Oh begitu. Apa perlu aku bantu?" tanya lelaki itu yang berusaha membantu Benny.


Benny berusaha tenang agar tidak terlihat sedang berbohong.


"Aku ingin makan. Aku lapar dan sangat haus. Kalau aku mati, kamu sendiri yang akan repot," ucap Benny menitah.


"Mau amkan apa? Padahal aku memang disuruh untuk tidak memberikanmu makan dan minum," ucap lelaki muda itu sambil menatap lekat kedua mata Benny.


"Oh seperti itu. Berarti jika aku mati, kamu sudah siap mengangkatku dan menguburkan aku?" tanya Benny dengan suara pelan.


Kini berganti lelaki muda itu yang kaget dengan ucapan Benny.


"Bukan begitu. Mungkin aku tinggalkan saja, jika kamu mati, tuan," ucap lelaki muda itu sekenanya.


"Ekhm ... Tapi aku bisa menghantuimu anak muda," ucap Benny dengan menatap lekat kedua mata lelaki muda itu.


"Cih ... Kamu sedang mengancamku, tuan?" ucap lelaki muda itu kesal.


Benny menggelengkan kepalanya dengan pelan. Pembicaraan ini seolah-olah sedang membuatnya beristirahat. Tubuhnya butuh ketenangan sedikit saja agar pikirannya pun ikut jernih dan bisa memikirkan solusi selanjutnya.


"Aku tidak mengancam kamu, anak muda. Tapi aku hanya memberi tahukan apa yang akan terjadi," ucap Benny pelan sambil tersenyum licik.


Baru saja anak muda itu akan menjawab, ponselnya berbunyi dengan sangat nyaring.

__ADS_1


"Ya ... Gimana Bos?" jawab anak muda suruhan itu.


Terlihat anak muda itu menjahuhi Benny dan hanya mengangguk pelan, saat berkomunikasi dengan seseorang di ponselnya. Wajahnya yang masih setia tertutup masker pun membuat lelaki muda itu tetap tidak terkenali.


"Baiklah. Tadi minta makan. Apa tidak apa-apa?" tanya anak muda itu sambil menggigit bibir bawahnya. Sebagai pesuruh, agak ribet juga menuruti kemauan Bos yang terkadang berbeda setiap hari.


Kening anak muda itu tiba-tiba mengerut. dirinya sedikit bingung dan kurang paham.


"Maksud Bos bagaimana?" tanyanya mengulang.


Wajahnya semakin terlihat bingung dan tegang.


"Iya. Baiklah," jawabnya pasrah dan menunduk.


Benny sejak tadi hanya mengamati dan masih berpikir mencari cara untuk bisa lolos dari tempat ini. Setelah ini sesuai pesan Tuan Herman untuk menjaga Dini. Sudah tentu gadis itu sedang berada dalam bahaya besar.


Tugas Benny setelah ini adalah mencari Dini dan mmebawa Dini pergi jauh dari orang-orang yang akan menyakitinya.


Benny masih terus berusaha membukaikatan simpul mati itu dengan cepat. Ingin rasanya cepat berlari dari tempat itu dan membersihkan semua luka yang masih terasa nyeri di bgian wajh dan sekujur tubuhnya. Lalu, Benny akan fokus terhadap Dini.


'Semoga saja semesta memang masih mempertemukan kita, anakku,' lirih Benny sambil menggigit bibirnya menahan napas untuk segera membuka ikatan simpul mati itu yang sedikita agak mengendur dan memiliki celah untuk mengeluarkan tangannya sat per satu dari tali itu dengan resiko yang menapak garis merah dan luka goresan dari tali tambang itu.


Tubuh tambun Tuan Herman masih tergeletak lemah di salah satu ruangan kosong sunyi dan tak berpenghuni itu. Tubuh orang tua itu di biarkan lemas dan tidak berdaya.


"Siska ... Sis ...." lirih Tuan Herman memanggil-manggil nama Siska setiap saat.


Tubuh lelaki tambun itu tampak menggigil kedinginan dan suhu tubuhnya terasa sangat panas. Tiga hari berada di tempat itu tanpa beraktivitas sama seklai dengan kedua tangan dan kaki terikat kencang.


Di bagian depan gedung itu ada dua orang penjaga yang khusus untuk menjaga pintu masuk gerbang gedung tua itu.

__ADS_1


Hanya Siska yang boleh masuk ke dalam gudang sunyi itu. Gudang itu adalah bekas gudang penyimpanan besi tua milik PT. Bangkit Jaya.


Entah apa rencanaSiska sesungguhnya. Baru beberapa hari yang lalu meminta Herman untuk bisa membangun kembali usaha PT.bangkit Jaya di bawah naungan PT. Royal. Setelah Herman dengan geak cepat mengambil alih semuanya dan akan melakukan rapat paripurna bersama pemegang saham yang mau bekerja sama kemabali dengn PT. Bangkit Jaya. Siska malah mencari cara untuk menggagalkan misi Herman.


Siska sengaja menjebak Herman dan Benny dalam keberangkatannya ke luar negeri. Dengan mudahnya Herman dan Benny masuk perangkap Siska yang memang terkenal sangat licik dan kejam.


Di kamar ruamh mewah itu, Siska tertawa dengan sangat keras. Cukup melihat dengan kamera pengintai yang sudah terpasang di sudut ruangan itu tanpa di ketahuisekalipun dnegan orang-orang yang khusus menjaga tempat itu.


Rudi hanya menatap lekat wanita yang pernah menajdi kekasihnya itu. Pilihan hidupnya kini lebih memilih untuk kembali kepada Siska dan menuruti semua knginan perempuan itu. Sikap Siska sungguh berbeda dan berbanding terbalik saat Siska masih muda dulu.


Tahu sedang di tatap lekat oleh Rudi. Kedua bola mata Siska pun memutar dengan malas. Rasanya sangat jengah sekali di tatap bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya.


"Tertawamu begitu keras sekali. Apa kamu sedang bahagia, sayang?" ucap Rudi yang berusaha merayu Siska kembali dan melupakan smeua di kejadian di masa lalu yang tidak di sengajanya itu.


Rudi pun berjalan menghampiri Siska yang berdiri di depan jendela besar sambil meminum jus yang masih ada di tangannya.


Pakaian jaring-jaring yang saat ini di gunakan Siska sudah beberapa kali meningkatkan birahi Rudi. Bayangkan saja, tubuh mantan keashnya itu masih terlihat kencang dan sangat terawat, walaupun usianya sudah cukup banyak.


Kedua tangan Rudi pun melingkar di perut Siska tanpa ada penolakan. Tubuh Siska malah merapta ke belakang dan mnempel di bagian dada telanjang Rudi. Dada bidang dan tegap yang penuh dengan bulu-bulu.


Bibir Rudi muali nakal dan menyapu bersih bagian leher jenjang Siska. Rambutnya yang di cepol ke atas membua Rudi semakin beba berekspresi di bagian leher yang masih mulus tanpa ada jejak merah tanda kepemilikan Rudi.


"Euh ...." leguh Siska yang merasakan geli bercampur nikmat menjadi satu.


Rudi mendengar leguhan itu, birahinya merasa terpancing dan semakin mengeratkan pelukannya di perut Siska agar bibirnya yang nakal tidak hanya bebas bergerilya di leher Siska tapi juga menyusuri bagian punggung dan sebagian wajah Siska.


"Emhh ... Sudah mengeras?" ucap Siska lirih. Kenikamtan yang amsih di rasakan harus terhenti kala bokongnya harus menyentuh bagian tubuh Rudi yang mengeras. Rasanya bagiakan setrum yang ingin melanjutkan permainan ini lebih panas lagi.


"Kamu sudah siap Sayang?" bisik Rudi mendesah tepat di bagian telinga Siska dan ******* bibir Siska yang hanya menganga takjub.

__ADS_1


__ADS_2