
Zya menatap lekat keda mata Adam yang juga terlihat kaget saat teriakan itu lagi-lagi terdengar menyakitkan. Batin Dini seolah benar-benar terguncang, tapi entah apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu sebelum pemerkosaan itu terjadi.
"Tolong!! Jangan sentuh aku!! Aku ini adikmu, apa kamu sudah gila!!" teriak Dini dengan keras seolah memori terdahulu terputar begitu saja dalam bayangan dan pikirannya.
"Ekhem suara siapa itu?" tanya Zya penasaran.
Selama ini yang Zya tahu, Adam adalah satu-satunya anak Ibu Mita dan jika ada seseorang yang lain tinggal bersama mereka sudahpasti dari sejak awal Ibu Mita mengenalkan pada Zya, karena kedatangannya hari ini bukan saja yang pertama kali, tapi sudah ke sekian kalinya Zya mengunjungi Ibu Mita hanya untuk sekedar mengirimkan masakan.
Adam pun terhenyak dengan pertanyaan polos Zya yang seolah mengintimidasi. Siapa wanita yang sedang berteriak itu.
"Dia gadis cantik yang baru sja aku tolong setelah di gilr oleh beberapa lelaki dan di perkosa," ucap Adam pelan dan jujur menjawab.
"Baik sekali Kak Adam mau peduli dengan yang lain, padahal tidak mengenalnya sama sekali. Siapa tahu dia perempuan jahat yang berhtai iblis. Jaman sekarang banyak sekali modus operandi yang dilakukan orang untuk menjatuhkan atau untuk alasan lain misalnya balas dendam?" ucap Zya yang terus saja menjelaskan hal-hal yang ia takutkan sendiri.
Adam hanya menatap Zya dengan aneh.
"Kamu terlalu banyak nonton sinetron ikan terbang ya, Zy? Sampai begitu auh pemikiranmu tentang orang baru atau orang yang barelum kamu kenal? Aku hanya menjalankan apa yang seharusnya dijalankan karena kewajiban seorang manusia, untuk saling membantu," ucap Adam pelan tanpa menjatuhkan Zya, cukup menasehati wanita itu. Gelar seorang ustadzah pun tidak bisa jauh-jauh dari rasa emosional jiwanya. Tidak semua orang bisa mengendlikan perasaannya. Perasaan yang terlalu berlebihan dalam berekspresi.
Adam pun bangkit berdiri dan masuk k adalam kamar itu. Zya pun yang penasaran langsung mengikuti Adam. Begitu pun dengan Mita yang mendengar teriakan Dini langsung ikut melihat dari arah luar pintu kamar tidurnya.
Ada perasaan tidak tega melihat gadis yang begitu cantik seperti Dini jadi trganggu jiwanya karena tekanan hidup dan tekanan batin yang di alamainya selama ini. Entah kehidupan yang seperti apa, hingga gadis itu seperti ketakukan, kebingungan dan merasa tidak aman jika sendiri.
Pintu kamar yang terbuka menyembul wajah tampan Adam yang begitu adem dan tenang membuat Dini seolah sedang bertemu dengan malaikat penolong. Wajah itu, wajah yang sama saat Dini sedang berada di pematang sawah dan sedang di perkosa. Kedatangan Adam yang membawa balok kayu dan memukuli beberapa preman lelaki yang kehausan birahi pun membawa angin segar bagi Dini. Seolah penderitaannya terhenti begitu saja.
__ADS_1
"Cantik ... Kamu kenapa?" tanya Adam dengan begitu lembut.
Tiba-tiba saja Dini turun dari tempat tidurnya dan memeluk Adam dengan sangat erat selah sedang memohon bantuannya. Baru kali ini respon Dini seperti ini saat melihat Adam.
"Tolong ... Tolong aku, Mas. Sembunyikan aku, agaraku tidak di jadikan tumbal untuk mencari uang lelaki tua yang sudah aku percaya itu," ucap Dini lirih dan terbata-bata.
Pikiran Adam melayang. Apa yang sebenarnya terjadi, dan apa maksud gadis cantik ini. Apalagi kondisinya tengah mengandung, betapa berat cobaan hidupnya di usia muda seperti ini, batin Adam. Adam mengusap lembut punggung Dini dan berusaha membuat gadis cantik itu lebih tenang dan membuatnya merasa lebih aman tinggal di rumah ini.
"Adam berikan teh hangat ini lalu ajaklah gadis ini makan di ruang makan, agar pikirannya sedikit bebas, atau ajak ke taman bunga. Ibu juga tidak tega melihat gadis ini seperti ini terus," ucap Mita dengan suara pelan menitah.
Zya hanya menatap aneh. Begitu sayang dan perhatiannya Adam kepada perempuan yang katanya baru di temukannya untuk di tolong. Sedangkan dengan dirinya tadi Adam begitu dingi dan tidak hangat.
Adam mengangguk pelan dengan apa yang di titah oleh Mita, Sang Bunda. Sambil menerima sau gelas teh manis hangat untuk menenangkan gadis itu.
Dini menatap sendu ke arah Adam lalu mengangguk perlahan. Degup jantung Dini berdegup luar biasa kencang dan ada getaran aneh saat berada di dekat Adam terlebih saat ini tubuh Dini dalam dekapan lelaki tampan dan berwajah alim itu.
Dini meneguk air teh manis hangat itu. memang benar rasanya yang manis dan hangat terasa di kerongkongannya yang mulai mengering sejak tadi membuat semuanya terasa lega dan basah.
"Habiskan," titah Adam lembut masih memegangi gelas yang di teguk oleh Dini.
Dini hanya menurut dan mencoba meneguk air teh manis hangat itu hingga habis.
"Enak kan? Siapa namanu gadis cantik?" tanya Adam pelan sekali dan begitu lembut. Usapan tangannya yang besa begitu lembut terasa di punggung Dini.
__ADS_1
"Te-terima kasih Kak," ucap Dini lirih dan sedikit terbata.
Adam mengangguk pelan dan tersenyum. Sekali lagi Adam bertanya kepada Dini, "Siapa namamu, gadis cantik?"
Dini menatap Adam dan mengerjapkan kedua matanya. Lelaki ini mirip sekali dengan lelaki yang terkadang masuk ke dalam mimpinya setiap malam. Pertanyaan Adam pun membuat Dini semakin melayang.
"A-aku Dini. Dini Akhirany. Kakak siapa? sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Dini lirih yang masih berada dalam dekapan Adam. Dini mencoba mengingat kembali, pertemua dengan lelaki yang saat ini sedang memeluknya erat. Rasanya begitu tenang dan aman.
"Hai Dini. Kakak namanya Adam bisa panggil Kak Adam," jawab Adam pelan. Kedua tangannya masih memeluk erat Dini. Rasanya masih ingin seperti ini terus dan tidak terlepas bagaikan magnet dengan dua kutub yang berbeda dan di pertemukan hingga melengkapi satu sama lain.
"Kak Adam. Maafkan Dini," ucap Dini lirih. Barusan saja Dini berteriak-teriak seperti wanita yang trauma, tapi sekarang Dini seperti lebih baik dan tidak terlihat stres dan trauma, hanya saja wajahnya memang masih terlihat murung seperti banyak masalah yang menghampiri hidupnya.
"Maaf untuk apa? Kamu tidak salah Dini ..." ucapan Adam terhenti karena mendengar suara lain yang berbunyi dengan sangat keras.
KRIUK!!
KRUKK!!
Suara perut Dini begitu keras berbuyi. Nyaring sekali, terlihat memang perutnya sangat kosong dan tterasa perih karena lapar.
Adam tersenyum lebar mendengar suara keras itu yang membuat Dini mlu dan tertunduk.
"Kamu lapar Dini? Kita makan? Kak Adam temani? Mau? Apa harus di suapi?" tanya Adam pelan sambil mengajak Dini bercanda.
__ADS_1
Wajah Zya begitu kesal. Rasanya begitu cemburu dan napasnya memburu. Sakit rasanya melihat pemandangan hangat seperti itu. Ingin rasanya Zya berada di posisi Dini saat ini, tentu rasanya bahagia sekali