Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
28


__ADS_3

"Dini ...." panggil Mita pelan. Dini melamun, meratapi nasibnya kini yang tengah berbadan dua.


"I-Iya Bu. Gimana?" jawab Dini lirih.


"Siapa Ayahnya?" tanya Mita masih dengan suara pelan.


Dini terdiam. Batinnya malah kini berkecamuk tak karuan. Rasanya ingin teriak yang keras hingga perasaan jengkel di hatinya pun menghilang. Rasanya ingin memukul sesuatu agar sesak di dadanya sedikit terobati.


"Ceritanya panjang, Bu," jawab Dini singkat.


Dini tidak ingin semua orang tahu akan masa lalunya hingga Dini di persunting herman sebagai istri kedua yang hanya di nikahi secara siri. Mungkin jika Herman saat ini ada di sini pun, Dini akan segera meminta talak, dari pada harus memberikan tubuhnya kembali untuk memuaskan hasrat para lelaki hidung belang.


Mita menatap Dini yang tengah berusaha mengusir rasa peningnya.


"Kamu tidak apa-apa? Istirahatlah, mari Ibu bantu. Nanti kalau sudah sedikit tenang, kita coba cek dengan alat pendeteksi kehamilan. Satu hal lagi, kamu harus menjaga kandungan kamu dengan baik. Kandungan kamu sedikit lemah dan bermasalah, mungkin karena usiamu terlu muda saat mengandung," ucap Mita pelan menjelaskan. Dua kali melihat Dini mengeluarkan darah itu bukan hal biasa, namun harus di waspadai dengan benar. Namun, kondisi Dini benar-benar kuat.


"Sedikit pusing Bu," jawab Dini pelan.


Mita segera membawa Dini ke dalam rumah dan kembali menemani Dini di dadalam kamar tidurnya. Rumah kecil itu hanya ada dua kamar. Satu kamar milik Adam dan satu kamar lagi milik Ibu. Rumah sederhana dan minimalis peninggalan dari Ayah Adam sewaktu masih hidup. Rumah ini di beli sebagai hadiah perkawinan bersama Mita di usia pernikahan yang ketiga tepat saat usia kandungan Mita menginjak tujuh bulan dan sehari setelah menerima kunci rumah sederhana itu.


Adam sejak tadi mengamati gerak-gerik Dini. Namun semuanya tidak ada yang perlu di curigai. Dini memang gadis polos. Wanita muda yang apa adanya tanpa ada maksud tujuan lain.


Mita kembali duduk di sofa ruang tengah dan mneyandarkan punggungnya yang mulai terasa pegal setelah menemani Dini di kamar untuk istirahat.

__ADS_1


"Bu, Ibu tidak berpikiran buruk pada Dini kan?" tanya Adam pelan kepada Sang Ibu.


Kedua mata Mita yang baru saja di pejamkan pun mentap ke arah Adam lalu tertawwa kecil seolah merasa aneh dnegan pertanyan Adam yang tak biasa itu.


"Berpikirann buruk bagaimana? Atau jangan-jangan kehamilan Dini, memang kamu penyebabnya?" tanya Mita pelan sambil menggoda.


Adam menggelengkan kepalanya dnegan cepat. Adam tidak mau ada salah paham antara dirinya dan Ibu.


"Tidak Bu. Adam berani bersumpah demi apapun. Adam dan Dini tidak saling kenal. Sewaktu Ibu bilang Dini sedang mengandung, jujur Adam pun sempat kaget, tapi hanya sebatas itu," ucap Adam pelan menjelaskan.


"Kamu kagum kan pada Dini. Sorot matamu tidak bisa membohongi Ibu," tanya Mita pelan.


Adam berpura-pura mencari aktivitas lain dan memalingkan wajahnya dari tatapan Ibu Mita. Sedikit salah tingkah sudah pasti, rahasia hatinya sedikit tertangkap basah oleh pandangan mata batin Sang Ibu.


"Bukan kagum yang bagaimana Bu. Jangan salah paham. Adam hanya salut dengan wanita itu, seprtinya Dini itu berbeda dnegan wwanita lainnya, adahal lain yang Adm belum ketahui tentang sisi kehidupannya yang lain. Pesona Dini itu berbeda dengan wanita lain, Dini lebih memancarkan sinar pesona kewanitaannya hingga orang yang memadangnya pasti menyukai gadis itu. Coba saja Ibu perhatikan," titah Adam pelan. Sulit rasanya di ungkapkan untuk menjelaskan gambaran tentang sosok Dini.


"Tapi Ibu sdah bulat memilih Zya untuk kamu, Adam," ucap Mita memohon.


Adam hanya mengangguk pelan.


"Adam ini hanya lelaki biasa. Adam adalah anak Ibu satu-satunya, setidaknya Adam ingin berbakti kepada Ibu. kebahagiaan Ibu adalah segala-galanya bagi Adam. Kalau Ibu menginginkan Zya menjadi Ibu dan Zya adalah pilihan terbaik Ibu, Adam akan menurutinya. Tapi, setidaknya beri aktu kepada Adam untuk mengenal Zya dengan cara Adam sendiri, untuk mengetahui sikap, sifat dan karakter Zya yang sesuangguhnya. Jujur ...." ucapan Adam tehenti sejenak. Rasanya ragu ingin bicara dengan jujur kepada Sang Ibu, karena yang di takutkan adalah Ibu akan murka setelah ini kepadanya atas prediksi Adam kepada Zya saat ini.


"Kenapa Dam? Katakan saja, Ibu pasti menegrti," ucap Mita pelan dan bijaksana.

__ADS_1


Tatapan Adam seolah penuh keraguan. Rasanya tidak mungkin membicrakan hal yang tidak baik tentang orang lain.


"Ekhemm ... Gimana ya? Adam bingung harus memulai dari mana?" ucap Adam lirih. Dirinya benar-bear bingung.


"Bicaralah Nak. Ini negara demokrasi kan? Setiap orang berhak mengajukan pendapatnya dan tidak boleh di cegah," ucap Mita pelan sambil tertawa terbahak-bahak.


"Ish Ibu ini. Biacra serius malah bercanda," ucap Adam sambil berpura-pura merengut.


"Bicaralah Nak. Ibu pasti mengerti. Ibu tidak akan memaksakan sesuatu hal yang sekiranya kamu kurang menyukai. Di sini Ibu hanya menyarankan, tapi saran Ibu pun terkadang bisa salah, karena Ibu juga buka malaikat, Ibu hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan," ucap Mita pelan menjelaskan.


Adam berusaha menenangkan diri dan berusaha untuk siap dnegan segala resikonya. tarikan napasnya cukup dalam kemudia di buang perlahan hingga melegakan seluruh rongga dadanya.


"Adam memnag baru hari ini mengenal Zya secara langsung. Mungkin kemarin-kemarin Adam hanya melihat Zya sekilas dan mendengarkan Zya dari cerita Ibu. Dan hari ini Zya, sosok perempuan yang Ibu inginkan itu memang hadir dan kita saling mengenal satu sma lain. tapi, sejak awal bertemu, Adam tidak merasakan perasaan apa-apa. Perasaan suka atau kagum pun tidak sama sekali. Padahal Zya itu cantik dan terlihat sempurna. Adam hany merasakan seperti ada yang di sembunyikan dari sosok Zya. berbeda dengan Dini yang memang terlihat biasa saja, bukan gadis yang beriman sepennuhnya tapi gadis itu apa adanya, jujur dan sangat polos," ucap Adam pelan.


"Lalu?" tanya Mita pelan sambil mentap lekat kedua bola mata Adam.


"Ya ... Adam tidak suka," jawab Adam dnegan singkat dan tegas. Suaranya terdengar sangat lantang untuk tidak menerima Zya, bukan untuk di pikir-pikir dulu tapi tidak sama sekali.


Kedua mata Mita semakin tajam menatap Adam. Cukup kaget juga mendengar jawaban Adam yang tega situ. Biasanya Adam akan bilang, Adam coba ya, tapi ini sama sekali tidak. Adam memnag sudah tidak respek terhadap Zya.


"Kamu yakin, tidak menyukai Zya, Dam? Zya cantik, imannya pun bagus, pintar mengaji, sholehah, menutup aurat. Sesempurna itu, tapi kamu tidak merasakan apa-apa, suka pun tidak?" tanya Mita pelan.


"Ibu, hati itu tidak bisa dipaksakan bukan? tapi kalau memang Ibu menginginkan Adam bersama Zya ya tak apa. Adam akan menurut. Tapi, jangan paksa Adam jika memang Adam tidak bisa menerima dnegan baik," tegas Adam.

__ADS_1


Adam kemudian bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamarnya untu beristirahat. Minimal tubuhnya juga butuh wwwwaktu untuk di ebahkan dan diluruskan di atas kasur agar lelahnya pun hilang.


"Zya tidak mau tahu. Abi dan Umi harus berusaha untuk bisa menjodohkan Zya dengan Mas Adam. Atau Zya akan nekat melakukan hal itu," teriak Zya dengan suara keras dan membentak.


__ADS_2