Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
25


__ADS_3

Dini terkejut dengan pertanyaan yang cukup luar biasa menganggu hati dan pikirannya.


Dengan cepat Dini menggelengkan kepalanya dengan cukup tenang. Degub jantungnya tiba-tiba berdetak keras. Begini rasanya berbohong, membohongi dirinya sendiri yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dini hanya tidak ingin di nilai buruk, dan biarlah Dini menjad Dini yang baru tanpa ada masa lalu.


"Ini hanya cincin biasa Kak Adam. Bukan apa-apa, hanya hadiah saja, tidak lebih dari arti cincin itu sendiri," ucap Dini pelan. Jawaban itu begitu cepat dan lolos begitu saja dari bibir mungilnya tanpa berpikir panjang.


Adam menatap Dini dengan lekat. Mencari kejujuran di sana, mimik wajah tidak akan berbohong. Adam memalingkan sekilas ke arah bunga mawar yang ada di dekatnya. Lalu tersenyum kecut ke arah bunga mawar itu.


"Kamu berbohong kan? Kamu tidak jujur Dini? Cobalah jujur dengan dirimu sendiri," ucap Adam tegas namun tetap tenang.


Dini mulai gelisah. Dini merasa apa yang di lakukan adalah sebuah kesalahan tapi itu semua demi menutupi jati dirinya. Sudah tentu Adam pasti tidak percaya dengan maksud cicin berlian yang mewah melingkar di jari manis kanan Dini. Tentu, memiliki maksud la, bukan hanya sekedar hadiah biasa. Cincin berlian itu sangat mahal.


Dini terdiam membalas tatapan Adam yang terlihat memohon.


"Hal ini penting? Kalau memang keberatan dengan keberadaanku disini, aku pergi Kak. Aku akan mencari rumah kontrakan atau kos-kosan untuk aku tinggali. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi disini," ucap Dini pelan.


"Jangan Dini. Maafkan Kakak. Tinggallah di sini bersama Ibu, setidaknya kamu bisa menemani Ibu. Kakak tahu kamu orang baik. Maafkan Kakak yang menyudutkanmu. kamu sudah kenyang? Atau mau memakan sesuatu?" tanya Adam pelan.


Jujur Adam terngiang ucapan Ibunya. Kalau Dini sepertinya sedang mengandung. Hanya itu sebenarnya yang Adam ingin tahu. Jika memang Dini sudah menikah tak masalah juga buat Adam. Setidaknya Adam tahu, benih itu milik suami Dini bukan hasil pemerkosaan atau hal lain. 'Ah ... Kenapa aku jadi memikirkan gadis ini. Toh, mau mengandung dengan siapa pun itu juga bukan urusanku.'


Dini menarik napas panjang dan mengeluarkan desahn napas itu perlahan. Batinnya menjadi dilema kembali. Semangatnya seolah luntur, kekuatannya seolah menghilang dan yang muncul hanya kecemasan dan ketakutan.


"Aku kenyang. Kak, boleh aku minta tolong?" tanya Dini tiba-tiba.


"Minta tolong? Minta tolong apa? Selama Kakak bisa membantu pasti Kakak bantu," ucap Adam pelan menatap Dini.

__ADS_1


"Tolong ambilkan semua uangku yang ada di rekening aku," ucap Dini pelan.


"Uang? Berapa banyak uang yang kamu punya?" tanya Adam yang terlihat cukup syok dnegan keinginan Dini.


"Banyak. Cukup untuk hidupku selama bertahun-tahun tanpa bekerja. tapi, aku ingin membuka usaha atau bekerja. Uang itu ingin aku titipkan kepada Kakak atau Ibu. Sepertinya akan lebih aman," ucap Dini pelan.


"Baiklah. Kakak tidak ingin tahu urusanmu, dan dari mana asal usul uang itu. Kakak hanya ingin menolongmu saja, tanpa ada maksud lain," ucap Adam.


Keduanya saling berpandangan. Adam masih penasaran dengan jati diri Dini. Sedangkan Dini, hanya menatap Adam. Memuja lelaki tampan itu karena kebaikannya.


"Gimana keadaanmu Nak? Adam, tolong temani Zya di dalam," ucap Mita pelan menitah anak lelaki semata wayangnya itu.


Adam mengangguk pelan. Adam sedang mals berdebat, sebebnarnya masih ingin berlama-lama dengan Dini agar dengan cepat Adam tahu siapa Dini sebenarnya.


"Namamu siapa Nak? Ada tujuan apa kamu kesini?" tanya Mita sedikit ketus. Mita sejak tadi penasaran dnegan gadis yang saat ini berada di sampingnya. Tiba-tiba datang tepat bersama kepulangan Adam dan bermain drama seolah-olah sedang trauma dan kini terlihat segar bugar tanpa ada sisa trauma yang membekas.


Dini menunduk, pedih sekali mendengar pertanyaan yang rasanya di cecar bagaikan maling yang tertangkap basah.


"Namaku Dini, Ibu," jawab Dini dengan singkat.


"Siapa kamu sebenarnya? Ada urusan apa kamu dengan Adam, anakku?" ucap Mita dengan penuh kekesalan.


Dini pun mengangkat wajahnya lalu menatap sekilas ke arah Mita yang sama sekali tidak menatapnya. Pandangan Mita lurus ke depan mengeluarkan semua unek-uneknya yang sejak tadi ingin segera di tumpahkan.


"Aku tidak ada urusan apapun dengan Kak Adam. mengenalnyapun tidak," ucap Dini dnegan jujur. Dini masih bisa menjawab dnegan baik dan tanpa beban. Semua terjawab dengan penuh keteangan dan tanpa ada rasa emosi sedikit pun.

__ADS_1


Mita pun melirik ke arah Dini dan tersenyum kecut. Awalnya memang Mita merespon baik ehadiran Dini. namun, Mita merasa semua ini adalah drama dan ada banyak kejanggalan.


Tatapan Mita tajam menatap lekat kedua bola mata indah Dini. Batinnya merasa memang Dini adalah sosok wanita baik. Tapi, ata-kata Zya yang sejak tadi meracuni pikiran Mita pun membuat Mita juga merasa cemas dan was-was terhadap perempuan yang tiba-tiba datang dan tinggal sementara bersamanya.


"Yakin? Tidak ada maksud apa-apa? Lalu, apa maksud kamu beteriak-teriak seperti orang trauma dan tertekan batinnya? Itu semua hanya pura-pura kan? kamu pasti hanya menginginkan Adam. Atau jangan-jangan memang kamu mencintai Adam, anak saya?" tanya Mita sedikit menuduh.


Mita merasa ucapannya benar. Lihat saja, wanita mana yang tidak mau hidup bersama putra semata wayangnya. Tampan, pintar, mandiri, punya segalanya. Apa yang kurang? Tidak ada.


Dini langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak ada maksud apa-apa, Bu. Ternyata Dini adalah salah satu mahasiswi di tempat Kak adam bekerja menjadi dosen," ucap Dini pelan menjelaskan.


"Oh ... Mahasiswinya? Pantas," ucap Mita sekenanya.


"Pantas apa Bu? Apa ada yang salah dengan saya, jika ternyata saya menjadi salah satu mahasiswwwi di Universitas elite itu?" tanya Dini tiba-tiba dengan rasa bingung. Ucapan Mita yang blak-blakan kurang menyukai Dini pun tidak sedikit pun membuat Dini kesal. Hanya saja Dini berpikir, apa salahnya hingga Ibu Mita kurang menyukainya seperti ini.


"Pantas saja, kamu mengejarnya hingga ke rumah ini. Pemerkosaan itu pasti hanya akal-akalan kamu saja?! Betul tidak?" ucap Mita nyinyir seolah lupa bahwa perasaan benci adalah salah satu sikap yang tidak di sukai oleh Allah.


"Kenapa Ibu bicara seperti itu? Seolah saya berbohong dan membohongi keluarga ini?" ucap Dini pelan dengan rasa yang semakin bingung.


"Tentu saja. Aku adalah Ibu Adam. Waniat yang mengandung, melahirkan dan merawat Adam hingga dewasa dan menjadi sukses seperti ini. Lalu, tentu aku ingin Adam memiliki pendamping yang baik, yang sholehah, dan tidak salah pilih atau asal pilih. Paham maksud Ibu?" tanya Mita dengan tegas.


"Dini gak paham maksud Ibu itu apa? Sepertinya Ibu salah paham dengan semua ini," ucap Dini pelan.


"Hah!! Salah paham? Lalu maksud kamu datang ke rumah ini dengan kondisi kamu yang sedang mengandung itu maksudnya apa? Tentu kamu mau minta pertanggung jawaban pada Adam kan? Untuk menutup aibmu dan melahirkan anakmu agar tetap memiliki seorang Ayah!!" cetus Mita dengan suara lantang.

__ADS_1


__ADS_2