Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
33


__ADS_3

Suasana sarapan pagi itu begitu hangat dn terlihat sangat harmonis. Sudah mirip sekali dengan keluarga kecil yang baru saja di bina.


Adam semakin kagum dengan Dini karena masakannya benar-benar sempurna seperti masakan di restoran dan hotel berbintang yang sering di kunjunginya.


"Kamu pintar sekali memasak?" tanya Adam tiba-tiba di sela keheningan itu dan menatap sekilas ke arah Dini yang nampak kesulitan memasukkan makanannya ke dalam mulutnya karena mual.


"Kamu kenapa Dini? Kok seperti enggan untuk makan?" tanya Adam kembali setelah melihat keanehanpada Dini.


Mita yang sejak tadi menikmati makanannya pun menatap Dini.


"Kamu mual?" tanya MIta pelan.


Mita tahu, Dini sedang bereprang sendiri dnegan tubuhnya. Rasanya mungkin lapar tapi mulutnya terasa mual untuk menerima makanan yang masuk.


Dini hanya mengangguk psrah dan mencoba menetralisir rasa mualnya itu dengan air putih hangat yang sudah di siapkan.


"Dini tidak apa-apa. Hanya mual sedikit, atpi sudah tidak lagi," ucap Dino pelan dan berusaha melanjutkan makan paginya dengan pelan. Dini masih merasakan mual, tapi Dini tetap bertahan agar tidak membuat Adam dan Ibu Mita cemas akan keadaannya.


"Kalau ada apa-apa bilang Dini. Jangan di pendam," ucap adam pelan menasehati Dini.


Adam hanya berusaha membantu terlepas dari rasa kagumnya.


"Adam ... Bagaimana perusahaanmu? Ibu dengar PT Bangkit milik Bos besar Royal, sudah beroperasi lagi?" tanya Mita pelan.


Mita dulu salah satu penanam modal usaha di PT Bangkit Jaya. Usaha yang dijalankan oleh sahabatnya sendirii dan tiba-tiba bangkrut karena suatu masalah pribadi. Pemilik PT Royal mati terbunuh di ruangan kerjanya.


Adam mengangguk pelan ke arah Ibunya.


"Ya ... Memang sedang berupaya untuk beroperasi lagi. Adam sudah mendapatkan surat resmi dari Tuan Herman, selaku direktur utama," ucap Adam pelan menjawab pertanyaan Ibunya.


DEG!!


DEG!!

__ADS_1


DEG!!


Mnedengar nama Herman, suami sirinya. Tubuh Dini terasa meremang dan bergetar. Peluhnya tiba-tiba mengalir memenuhi keninganya dan tubuhnya terasa dingin dan sesak. Masih terngiang jelas sekali, Dini akan dijual dan di gilir ke setiap penanam modal usahabarunya itu demi mendapatkan investasi panjang untuk perusahaannya.


"Herman ... Ya, dia suami sahabat Ibu. Siska, itu nama sahabat Ibu. Padahal dulu, saham Ibu tidak banyak di saa," ucap Mita pelan menjelaskan.


"Oh ... Ini perusahaan milik sahabat Ibu. Berarti Adam terima saja penawaran ini? Kebetulan Adam ada simpanan uang untuk ikut menanam modal disana," ucap Adam pelan sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.


Kedua anak dan Ibu itu sedang asyik berbicara tentang bisnis yang tengah mereka kelola. Namun mereka tidak tahu, Dini sudah keringat dingin ketakutan. rasa trauma itu tiba-tiba menghampiri dirinya kembali.


Rasa di hatinya campur aduk tidak karuan.


"Ikutlah menanam saham di sana. Herman itu adalah suami yang sanagt sayang terhadap istrinya, dan juga pemimpin yang bijak. Setiap usahanya selalu berjalan lancar sejak dahulu. Ini yang membuat Tuan Royal menikahkan Siska dengan Herman," ucap Mita pelan. Sedikit banyak Mita tahu tentang Siska sahabat baiknya itu dengan segala kehidupannya di masa lampau.


Tapi kini, hubungan komunikasi mereka terhambat karena kesibukan masing-masing. Terakhir, Siska datang di pemakaman Suami Mita untuk mengucapkan bela sungkawa. Setelah itu, Siska tidak ada lagi kabarnya setelah berpamitan akan tinggal ke luar negeri beebrapa waktu yang cukup lama.


"Baiklah Bu. Kalau memang Ibu mengijinkan. Adam akan segera mereview surat penawaran itu dan menerima permintaan kerja sama itu lu membuat kontrak kerja," ucap Adam dengan pelan.


Dini sejak tadi mendengarkan dengan seksama. Tuan Herman yang mereka bicarakan benar Herman yang kini menjadi suami sirinya. Nama Herman, Siska adalah kedua nama yang saling berkaita dan tidak asing lagi menghampiri telinga Dini.


Awalnya Mita membuka usaha ini, atas dukungan Siska, sahabatnya. Siska memberikan jalan untuk bisa menggandeng usaha baru Mita dengan kerja sama bersama PT ROYAL milik Ayahnya. Baru berjalan satu tahun, duka terus melingkupi dua keluarga sahabat baik itu. Bermula dari Suami Mita yang meninggal terlebih dahulu, lalu tewasnya Ayah Siska yang menddak di ruang kerjanya.


"Iya Bu. Terima kasih atas dukungan Ibu dan doa-doa Ibu. Semoga saja, dnegan adanya perjanjian ini membuka jalan bisnis kita ke arah yang lebih baik<' ucap Adam pelan.


Dada Dini semakin sesak. Rasanya sulit untuk di ungkpkan dnegan kata-kata.


"Ibu, Kak Adam, Dini ke kamar dahulu ya," ucap Dini yang tiba-tiba saja pamit untuk kembali ke kamarnya terlebih dahulu.


"Kenapa Dini? Wajahmu tampak pucat?" tanya Mita pelan sambil mentap wajah Dini yang terlihat seperti tertekan lagi.


Dini hanya menggelengkan kepalanya dan berusaha menutupi perasaannya saat ini.


"Ya Dini. Istirahatlah jika tubuhmu memang belumpulih keablai," ucap Adam pelan saat melihat Dini yang suda pucat.

__ADS_1


Dini pun bergegas ke kamar tidur milik Mita dan langsung memuntahkan isi perutnya ke dalam wastafel. Sudhsejak tadi Dini menhan rasa mualnya yang terus menyeda ingin muntah.


HOEK!!


HOEK!!


HOEK!!


Lagi-lagi perutnya terasa sangat mual dan sedikit keram. Setiap Dini memikirkan masalah pribadinya terlebih Herman, suami sirinya yang ternyata tega ingin menjual tubuh Dini demi usahanya. Tubuh Dini langsung meremangdan begetar dengan di sertai peluh yang tiba-tiba muncul di sekita kening dan seluruh punggung Dini.


Dini menarik napas panjang dan berusaha membuang napas itu perlahan. Degup jantungnya yang sejak tadi berdetak kencang harus mampu dikontrol dan dibuat setennag mungkin.


Tidak habis pikir, dunia sesempit ini. Dini pikir, dengan melarikan diir seperti ini, Dini akan bisa melupakan sosok Herman, sumi sirinya dan melupakan smeua yang pernah terjadi termasuk melupakan masa lalu Dini. Tapi, pada kenyataanya smeua itu malah tambha rumit. Seolah semesta memang masih ingin mencobai kehidupan Dini. Entah hikmah apa yang akan Dini terima dari semua kesabaran Dini mejalani kehidupannya.


Air mata Dini turun begitu saja dari kedua matanya yang indah. Hidupanya memang seolah tidak berguna. Tidak ada kebahagiaan yang di rasakan sejak kecil.


Dini hanya tahu Paman dan Bibinya saja sejak kecil Jadi sejahat apapun mereka, Dini tetap sayang. Misi Dini hnya ingin mengetahui, siapa Ibu Dini dan siapa Ayah kandung Dini sebenarnya. Apakah keduanya masih hidup ataukah sudah mati, seperti yang di ceritakan Bibi Risma selama ini.


TOK!!


TOK!!


TOK!!


"Dini .... Boleh Ibu masuk?" tanya Mita dnegan suara pelan.


"Masuk saja Bu. Dini sedang tidak enak badan," ucap Dini dengan suara pelan menjawab dari dalam kamarnya.


Mita memebuka pintu kamar itu dan tersenyum dari balik pintu kamar itu.


"Yuk, Kita coba test kehamilan. Ini akurat untuk mengetahui, kamu benar sedang hamil atau tidak? Ibu hanya ingin memastikan saja. Kalaupun kamu hamil, Ibu akan ksih obat untuk oenguat janin kamu," ucap Mita dengan pelan menjelaskan.


Mita membuka alat test kehamilan tersebut dan mulai menjelaskan bagaimana cara pemakaian alat pendeteksi itu kepada Dini.

__ADS_1


Dini pun segera ke kamar mandi untuk menampung air seninya ke dalam wadah kecil, lalu memasukkan alat tes pendeteksi kehamilan itu ke dalam air seni yang sudah di tampung.


Mita sangat cemas sekali. Walaupun Mita usdah menduga bahwa analisanya tidak pernah salah. Bertahun-tahun bekerja sebaai perawat dan asisten bidan tentu dnegan mudah Mita mendeteksi sesuatu hal yang masih di anggap wajar dan umum.


__ADS_2