Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
22


__ADS_3

"Waalaikumsalam ... Zya ... Masuk Nak," jawab Mita pelan saat membukakan pintu ruang depan.


Sosok Zya yang begitu ramah dan baik membuat Mita seoalh tersihir dengan keanggunan yang di miliki oleh Zya.


"Ini buat Ibu. Kebetulan Umi memasak banyak, dan kata beliau ini harus di cicipi, karena makanan khas dari tanah kelahiran Umi," ucap Zya dengan suara lembut.


Adam sendiri masih berada di ruang tengah. Sedikit agak mendengar pembicaraan antara Ibunya dengan tamunyayang seperti suara perempuan. Jujur Adam belum ada keinginan untuk berumah tangga, karena memang belum memiliki jodoh yang tepat. Memilih anita tidak seperti memilih baju yang banyak di pajang di toko, tapi butuh sesautu yang spesifik dan di lihat dengan runtut apakah memang pantas, sejalan dan memiliki pemikiran yang setujuan. Intinya berumah tangga itu butuh kenyamanan dan memberikan rasa aman, bukan malah menambah permasalahan yang mmbuat cekcok dan perdebatan setiap hari.


"Terima kasih Nak Zya. Ibu pindahkan dulu ke piring ya. Ayo masuk,Ibu kenalkan pada anak sholehnya Ibu," ucap Mita dengan lembut.


Zya dan Mita sudah berjalan beriringan menuju ruang tengah.


"Adam ... Ini Nak Zya, yang tadi Ibu ceritakan," ucap Mita dengan suara pelan.


Zya pun berada di belakang Mita dan mencuri pandang ke arah Adam yang sekilas menatap Mita dan Zya secara bergantian.


"Iya Bu. Hai Zya. Aku Adam," ucap Adam dengan singkat memperkenalkan diri.


Zya pun mengangguk pelan dan tersenyum manis kepada Adam yang tiodak sedikit pun merespon berlebihan. Semuanya hanya terasa datar dan biasa-biasa saja.


"Adam!! Kok begitu sih. Ini Zya lho. Kalian pasti cocok. Ada pepatah yang ilang begini, Tak Kenal Maka Tak Sayang. Jadi kalian harus kenalan lalu bicara secara pribadi, mungkin lama-lama ...." ucapan Mita terhenti saat Adam menyela dnegan lembut.


"Lama-lama Zya ini menjadi menantu Ibu? Begitu kan?" sela Adam yang brkomentar denga lembut namun tetap terdengar tegas.


Mita paham. Adam itu sosok anak yang penurut namun tidak suka bila di paksa. Seharusnya memang menunggu Adam sendiri yang meminta, kalau seperti ini kesannya seperti di buru-buru dan Adam seperti lelaki yang tidak laku oleh perempuan.

__ADS_1


"Maaf Kak Adam. Zya pulang dulu Ibu. Mungkin lain waktu Zya main lagi kesini," ucap Zya lembut. Zya jadi tidak enak hati dan serba salah. Sikap Adam yang dingin membuat suasana juga menjadi kurang bersahabat.


"Hem ... Tak masalah Zya," singkat Adam menjawab ucapan Zya dan kembali lagi menatap layar ponselnya yang lebih menarik untuk di lihat oleh Adam.


"Adam!! Temani Zya dulu. Nak Zya duduk dulu, sudah menyempatkan diri main kesini atas permintaan Ibu, ini malah mau pulang. Sudah nanti pulangnya, kita ngobrol-ngobrol dulu, mumpung ada Adam," ucap lembut Mita kepada Zya.


Zya mengangguk pelan, "Iya Bu." Zya pun duduk di salah satu sofa yang tepat berada berseberangan dengan Adam.


Mita masuk ke dalam dapur untuk memindahkan buah tangan Zya ke dalam piring miliknya. Sesekali menatap ke arah ruang tengah untuk melihat sikap kedua gender yang berbeda itu.


Zya menundukkan kepalanya. Zya bingung harus memulai dari mana dengan tema apa. Jika memulai duluan bertanya dan mengawali pembicaraan maka takut akan di bilang perempuan yang terlalu berambisi. Tapi, Jika harus menunggu untuk sebuah awal perkenalan masa iya harus dengan cara diam-diam seperti ini.


Zya pun memberanikan diri untuk memulai percakapan dnegan Adam. Mau bagaimana lagi, sejak pertemuannya beberapa bulan yang lalu tanpa sengaja di pasar tradisional, Zya pun langsung menaruh rasa kagum kepada Adam. Jarang-jarang lelaki muda dan tampan mau masuk ke dalam pasar yang kotor dan becek hanya untuk mengantarkan Mita, sang Ibu untuk berbelanja kebutuhan pokok. Mulai sejak itu, Zya pun mencari tahu tentang Adam dan merubah sikap dan sifatnya untuk bisa menari perhatian Mita dan Adam.


"Kak Adam, sibuk apa sekarang?" tanya Zya dengan tiba-tiba tanpa permisi.


"Kamu bicara denganku?" tanya Adam pelan. Tadi Adam terlalu fokus dengan ponselnya.


Zya mengangguk kesal. Sejak tadi ternyata ucapannya sama sekali tidak di gubris.


"Tadi tanya apa?" tanya Adam kembali pelan tanpa perasaan bersalah sama sekali.


"Kak Adam sedang sibuk dengan pekerjaan apa saat ini?" ulang Zya dengan pelan dan terbata-bata.


Hatinya kesal sekali di buat oleh Adam. Sikapnya kelewat sanagt kaku dan dingin.

__ADS_1


"Oh ... Sibuk kerjalah. cari uang," ucap Adam dengan singkat tanpa banyak basa basi. Adam hanya menjawab tanpa mengajukan pertanyaan kembali kepada Zya. Entah kenapa Adam merasa tidak 'srek' dan kurang nyaman bersama Zya. Padahal wanita yang ada di depannya ini kelewat sempurna kata Sang Bunda.


"Gitu ya," ucap Zya yang semakin di buat keki sendiri. Zya malah canggung sendiri.


"Hu um ..." jawab Adam singkat dengan tatapan masih fokus pada ponselnya.


Keduanya kembali terdiam tanpa ada kelanjutan dari percakapannya tadi. Adam yang begitu dingin membuat Zya yang sedikit cerewet merasa tidak bisa berkutik.


Beberapa menit kemudia Mita pun keluar dari arah ruang makan. Sejak tadi mengamati dari keauhan namun memang tidak ada perubahan sama seklai. Masih sama-sama diam dan tidak ada yang mau meluai. Sekalinya di mulai, Adam hanya menjawab singkat dan seperlunya saja.


"Kenapa pada diam-diam seperti ini? " tanya Mita memecahkan suasana hening di antara keduanya. Adam pu yang sedikit kaget pun langsung menatap ke arah Sang Bunda yang sedang menoleh ke arahnya dan memberikan kode keras yang tidk di mengerti oleh Adam.


"Ekhmm ... Tidak Ibu. Tadi baru saja bercerita, tapi terdiam lagi. Bingung mau tanya apa lagi?" ucap Zya yang membela Adam.


Adam hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Zya yang tidak sesuai dengan fakta. Bagi Adam, wanita model begini adalah wanita penjilat. Wanita yang hanya ingin di puji karena memiliki kesempurnaan.


"Bu ... Aku ingin sekali kopi," ucap Adam dengan nada manja kepada Mita.


Mita hanya bisa tersenyum sambil menghela npas panjang ke arah Adam.


"Sebentar ya Zy. Lihat Anak Ibu sanagt manja sekali. Kopi saja, harus dibuatkan," ucap Mita pelan.


Sebenarnya Mita berharap Zya pekas dan langsung berkata ingin membuatkan walaupun tidak bisa. Setidaknya mau mencoba.


"Jangan mengambil hati lewat Ibu. Berusahalah dengan apa yang kamu miliki, itu namanya perjuangan. Bukan cara mudah dengan mencari kelemahan lawan," ucap Adam pelan menasehati Zya.

__ADS_1


Mendengar nasihat yang luar biasa menusuk hatinya punmembuat Zya sedikit demi sedikit terkikis rasa kagumnya itu.


"Arghhh!!! Jangan!! Lepaskan aku!!!" teriak Dini dengan suara keras dari dalam kamar milik Mita itu.


__ADS_2