Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
KERETA GANTUNG


__ADS_3

"Sudah ke Pengadilan Agamanya?" tanya Arga pelan.


Windu menggelengkan kepalanya pelan.


"Belum." singkat sekali Windu menjawab. Beberapa hari ini, Windu memang malas berinteraksi dengan orang lain. Jangankan dengan Arga, dengan Ibunya pun tidak semua pertanyaannya di jawab dengan baik oleh Windu.


"Untuk apa ke Pengadilan Agama? Sidah kau pikirkan baik -baik?" tanya Arga pelan. Ucapannya sama persis dengan ucapan Ibu Windu kemarin.


Windu hanya bisa mengangguk pasrah.


"Sudah." jawabannya begitu singkat dan tegas.


"Ku beritahu. Aku lelaki yang menyukaimu. Tentu mendapatkan kabar kau ingin menggunggat cerai suami kamu, aku senang sekali. Tapi, aku sebagai teman, hanya ingin kamu berpikir dua kali, sebelum semua itu terlambat dan kamu mneyesal," ucap Arga menasehati.


"Menyesal? Menyesal karena apa? Aku tidak ada beban dalam hal ini. Untuk apa juga, bertahan tapi aku tidak di pertahankan?" ucap Windu kelu. Rasanya malas mengungkap ini semua. Hati Windu sudah terlanjur sakit dan kecewa.


"Hemmm ... Bebanmu hanya cinta. Perasaan kamu yang begitu tulus," ucap Arga pelan.


Ingin rasanya memeuk Windu dan mengusap pelan rambut Windu yang panjang.


"Aku tidak mau lagi jadi pengganggu rumah tangga orang. Walaupun aku terikat kontrak. Kau tahu, usia pernikahan aku sudah sepuluh bulan, dan selama satu tahun aku tidak mengandung, maka semuanya harus berakhir. Jadi, menurutku untuk apa aku bertemu lagi dengan mereka? Kalau pada akhirnya, aku juga yang di campakkan. Lebih baik, aku pergi seblum di usir," ucap Windu pelan.


"Kau jatuh cinta sungguhan dengan Wibisono? Mengingat pernikahan kamu dengan lelaki itu atas perintaan istrinya?" tanya Arga pelan.


"Aku berusaha mencintainya. Aku pikir selama satu tahun, aku bisa memiliki anak darinya. Prinsipku dari dulu, menikah hanya satu kali. Walaupun aku hanya menjadi yang kedua, aku berusaha menjadi istri yang terbaik, walaupun kau tahu, wanita kedua itu tidak pernah menjadi prioritas. Padahal, perannya begitu penting tapi keberadaannya hanya di pandang sebelah mata. Beberapa bulan aku intens bersama Mas Wibisono, setiap hari benih -benih cinta itu aku pupuk agar aku bisa mendampingi dia dengan baik. Tapi, semakin aku berusaha menjadi yang tebaik, semakin aku merasa tersiksa dalam batin. Paling sedih, saat aku tahu, dia bersama dengan Mbak Yasinta," ucap Windu dengan suara bergetar menahan isak tangisnya.


Tangisnya pun pecah. Tubuh kurus Windu nampak naik turun menahan isak tangisnya. Sesekali ia menyeka air matanya menggunakan tissu kering.

__ADS_1


Arga hanya bisa menatap lekat Windu tanpa bisa berbuat apa -apa kecuali hanya kata sabar dan ikhlas yang terlontar dari bibirnya.


"Aku paham dnegan apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi ...." ucapan Arga terhenti. Arga juga ingin memiliki Windu. Lebih baik, ia tak membicarakan masalah Wibisono yang sudah mengusir Yasinta dan Kenzi, darah daging Yoga, selingkuhannya.


"Tapi apa? Aku harus sabar? Aku harus ikhlas? Sudah ku lakukan. Makanya aku ingin pergi dari keduanya. Aku pikir, kehidupan mereka sudah baagia dan sudah jauh lebih sempurna karena ada seoarng anak ynag mereka nantikan sejak lama," ucap Windu pelan.


"Sudahlah. Aku sedang tidak ingin membicarakan hal ini. Itu masalah kamu, dan semua menjadi keputusan kamu. Urusan bisnis kita pun juga sudah selesai. Saat ini kita hanya berteman, aku hanya rindu dengan kebersamaan kita dulu, sering curhat, sering ngobrol, cari solusi. Itu yang kau rindukan. Makanya aku ingin ketemu dengan kamu saat ini, karena aku rindu dengan kebersamaan kita. Kalau ada waktu, hari ini aku ingin mengjak kamu jalan. Kau bersedia?' tanya Arga pelan.


"Mau kemana?" tanya windu pelan dan menghapus sia air matanya. Untuk apa juga, ia harus menangis lagi untuk Wibisono. Suaminya saja sudah tak peduli lagi padanya.


"Nonton? Atau kita mau ke pantai? Atau ke taman bermain? Naik kora -kora atau halilintar biar bisa teriak puas?" tanya Arga memberikan beberapa pilihan.


"Ekhemm ... Tapi aku ingin memberikan ini," ucap Windu menunjukkan berkas yang ada di meja. Berkas untuk gugatan cerai.


"Kau pikirkan dulu. Baru ambil keputusan berdasarkan hati nurani kamu, Windu. Jangan ambil keputusan di saat kamu sedang terpuruk atau kamu sedang menangis. tapi ambil keputusan di saat kamu bahagia, tentu jawabannya akan berbeda," ucap Arga pelan.


"Baiklah. Kita ke taman bermain saja. Gimana?" tanya Windu kemuadian. Kedua matanya berbinar. Memang Windu butuh waktu untuk rekreasi agar otaknya sedikit tenang dan fresh.


"Oke. Aku ke kasir dulu. Kamu tunggu di depan," titah Arga pelan.


Arga langsung berjalan menuju kasir. Ia senang karena rencananya untuk bersama Windu bisa ia wujudkan. Rasa cinta Arga kepada Windu begitu besar. Tapi Arga tidak serta merta ingin memiliki Windu seutuhnya.


"Yuk," ucap Arga pelan.


Windu tersenyum sambil mengangguk kecil dan berjalan mengikuti Arga menuju mobil yang di parkir di sebelah barat.


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil. Cuaca yang cerah sangat mendukung untuk bermain di taman bermain.

__ADS_1


"Dulu, waktu aku kecil. Aku paling suka naik kereta gantung," ucap Arga pelan.


Windu menoleh ke arah Arga dan tersenyum.


"Itu juga kesukaanku," jawab Windu dengan binar mata yang begitu bahagia.


Ingatannya kembali ke masa kecilnya yang sungguh bahagia. Dulu, Bapak Windu masih sehat, masih bekeja di sebuah perusahaan besar dan sebulan sekali pasti di ajak ke taman bermain untuk menaiki wahana kereta gantung.


"Aku ingin naik kereta gantung," ucap Arga pelan.


"Aku mau menemani kamu," ucap Windu pelan. Sebagai teman, mungkin Windu bisa membuat Arga ikut tersenyum juga karena bahagia. Jujur, Windu tak prnah melihat Arga tertawa dantersenyum lepas. Semuanya di lakukan karena memang terpaksa karen menghargai lawan bicaranya.


"Kau yakin? Mau menemani aku?" tanya Arga pelan.


Windu mengangguk dan tersenyum.


"Kau pikir aku bercanda? Kamu sudah banyak membantu aku, Ga. Sudah saatnya aku juga harus bisa mewujudkan keinginan kamu untuk naik kereta gantung. Kapan? Sekarang?" tanya Windu antusias.


"Aku ingin ke Trocadero," ucap Arga pelan sambil fokus menyetir.


"Trocadero?" ucap Windu lirih.


Suara Windu lirih dan melemah. Arga menoleh ke arah Windu.


"Kenapa? Ada apa dengan Kota Trocadero?" tanya Arga penasaran. Windu seolah tahu tentang Kota Trocadero.


"Ekhemm ... Gak apa -apa. Itu jauh, Ga. Kita harus ke laur negeri. Ada baiknya, kamu menikah, dan bawa istrimu berbulan madu di sana. Tentu istrimu akan sangat senang sekali," ucap Windu pelan.

__ADS_1


Kota TRocadero adalah kota impiannya. Kota yang ingin ia datangi bersama Wibisono. Suaminy apernah menjanjikan mengajaknya pergi ke Kota itu untuk berbulan madu. Tapi, itu semua ia janjikan jauh sebelum perusahaannya bangkrut. Kini, Wibisono menjadi sosok yang sangat berbeda. Menjadi sosok asing seperti tak saling mengenal satu sam lain.


__ADS_2