
Lelaki muda berjas hitam dan bermasker hitam itu baru saja selesai menelepon gadis kesayangannya.
Ia pun kembali masuk ke dalam ruangan yang sangat luas itu. Di lihatnya Benny yang menunduk terdiam dnegan tangan dan kaki yang terikat dengan kursi kayu yang sedang di dudukinya.
Kakinya melangkah lagi ke luar ruangan dan menutup rapat pintu ruangan itu tanpa menguncinya.
mendengar suara pintu di tutup tanpa di sertai anak kunci yang mengunci pintu itu, Benny pun mengangkat wajahnya perlahan untuk melihat situasi dan kondisi di sekitar.
Kedua tngannya terus berusaha melonggarkan ikatan tali yang begitu kencang mengikat kedua tangan Benny dengan simpul mati.
Tapi, Benny bukanlah orang yang mudah menyerah. Benny terus saja berusaha menggesek-gesekkan ikatan tangannya ke siku kursi. Perlahanikatan itu sedikit mengendur dan Benny terus saja mencari celah agar ikatannya terbuka. Tanpa peduli lagi pergelangan tangannya sudah memerah dan terasa perih akibat ikatan yang terlalu kencang tadi.
Wajah Benny sudah penuh dengan keringat dan darah yang masih sedikit mengalir dari keningnya. Rasa sakitnya sudah tidak di rasakana lagi. Saat ini yang Benny harapkan adalah datangnya malaikat atau pintu doraemon sekali pun untuk membawanya keluar dari tempat gila ini.
"Persetan sekali!! Ikatan ini sungguh sulit untuk di buka. Tenaga dan napasku terasa sudah habis tak bersisa lagi!!" kesal Benny lirih.
"Apa kabarmu Tuan Herman? Apakah engkau baik-baik saja Tuan?" bisik Benny lirih bertanya pada dirinya sendiri seolah sedang berhadapan dengan Tuan Herman.
Hari semakin larut malam. Ruangan luas itu semakin gelap dan hanya mendapatkan cahaya dari pantulan sorotan cahaya dari gedung-gedung bertingkat di dehkat gudang kosong yang masih aktif beroperasi.
Entah dimana sekarang Tuan Herman berada. Pastinya saat ini Benny sudah mengetahui dalang dari semua ini. Cukup mengumpulkan bukti-bukti yang kuat untuk di laporkan kepada polisi.
Denis sudah berada di kantor polisi. Polisi sudah menerima laporannya mengenai orang hilang bernama Dini Akhirany.
__ADS_1
"Jadi bagaimana Pak? Majikan saya bisa di temukan kembali?" tanya Denis lirih.
Polisi berwajah garang itu menatap Denis dengan lekat dan tajam hingga Denis pun bergidik ngeri.
"Pekerjaan mencari manusia itu tidak mudah!! Apalagi manusia itu perempuan dan punya kaki, dia bisa berpindah-pindah sesuai kemauannya!! Paham kan maksud saya!!" ucap Polisi itu dnegan lantang dan tegas.
Polisi itu mash menyelesaikan ketikan surat laporan yang harus di tanda tangani oleh pelapor.
Tapi setidaknya Denis sudah berusaha mencari solusi dari maslah yang di hadapinya. Masalah hasil bisa di lihat nanti setelah ada usaha dan upaya.
Siska sudah berada di dalam rumah mewah milik pribadinya. Harta kekayaannya melimpah dan mejadi hak milik Siska setelah Ayahnya tutup usia sesuai dengan surat wasiat yang di buat oleh Sang Ayah. Seharusnya dalam catatan penting surat wasiat itu, Siska memang berhak memiliki semuanya tapi tidak untuk memimpin perusahaan. Perusahaan akan tetap di pimpin oleh Herman, menantu kesayangannya dengan pembagian hasil keuntungan yang telah di tentukan. Namun, Herman tidak ma sekali tidak membaca isi surat wasiat itu.
Sebenarnya apa yang di lakukan Herman dalam penggunaan uang itu bukan suatu kesalahan. Tapi, memang Siska ingin mencari kesalahan Herman dan ingin segera menceraikan lelaki itu.
Siska hanya tersenyum kecut saat mendengar ucapan Rudi yang masih berada di atas kasur empuk itu. Siska sudah berdiri di depan kaca besar menatap pemandangan kota yang begitu indah karena cahaya lampu. Satu tangannya memegang gelas kaca berisi jus orange kesukaannya.
"Menurutmu apa yang akan aku lakukan? Dan tidak ada satu pun yang terleatkan dari eksekusiku, termasuk kamu Rudi!!" ucap lantang Siska sambil membalikkan tubuhnya yang hanya terbalut baju jaring laba-laba dan menunjuk ke arah Rudi.
Rudi pun tercengang dan terkejut dengan ucapan Siska. Suara lantang da sorot mata tajam bagaikan elang membuat Rudi pun sedikit ngeri. Siska adalah orang kaya yang memiliki banyak uang. Apapun yang di inginkan tentu bisa dia dapatkan dengan sangat mudah hanya dengan menjentikkan jari-jarinya maka semua akan terwujud.
"A-ada a-apa denganku, Siska?" tanya Rudi dengan suara gemetar.
Padahal baru saja keduanya menikmati surga duniayang telah lama mereka impikan, tapi kini Siska bagaiakan ennek lampir yang hendak mengutuk Rudi menjadi sesekor tikus.
__ADS_1
"Kamu lupa? Atau memang melupakan?" ucap Siska dengan suara keras memekakkan telinga.
"A-aku benar-benar ti-tidak paham, Siska. To-tolong beritahu padaku, aa salahku padamu,' ucap Rudi dengan suara pelan dan sedikit takut.
"Cih .... Kamu sudah gila!! Kamu telah meniduri salah satu asisten pribadiku!! Kamu ingat!!" ucap Siska lantang.
Rudi berusaha mengingat itu semua, namun tak sedikit pun yang ia ingat tentang itu semua.
"A-aku tidak ingat apapun. Waktu itu aku sedang mabuk karena kamu putuskan Siska," ucap Rudi pelan membela diri.
"Oh ... Mabuk? Stres? Tidak ingat apapun? Tapi kamu menikmati dia!! Dia yang sudah aku anggap seeprti saudaraku sendiri tapi aku aniaya dan aku usir karena telah tidur bersamamu!!" ucap Siska lantang dengan suara bergetar.
Bayangan tragis puluhan tahun itu kembali terputar di otak Siska dnegan mudahnya. Siska kadang mneyesal, namun jika mengingat perbuatan zina yang dilakukan Rudi, kekasihnya dengan asisten pribadinya, emosi dan kekesalannya menajdi kemurkaan yang terpendam hingga saat ini. Apalagi Siska harus menelan pil pahit lagi, saat mengetahui satu kebenaran yang membuatnya semakin benci terhadap keturunannya itu.
"Cukup Siska. Aku memang tidak ingat apa-apa. Aku mabuk, dan aku tidak tahu selanjutnya bagaimana. Toh memang aku tidak punya perasaan apa-apa dengan asisten pribadimu itu! Jangan fitnah aku, kamu jug yang membuatku merana seperti ini!" ucap Rudi dengan suara tegas.
Setidaknya pembelaan Rudi memang apa adanya. Walaupun perbutana zinah yang di lakukan Rudi dan asisten pribadi Siska benar-benar terngiang jelas di pelupuk mata Siska.
Siska melihat secara langsung bagaimana Rudi memaksa Ayu asisten pribadinya itu untuk memuaskan hasratnya di salah satu ruangan kosong dirumah mewah ini.
Saat itu Rudi datang ke rumah Siska saat Ayah Siska sedang bertugas di luar negeri. Rudi mencari Siska, namun Siska tidak ada. Rudi yang mabuk saat itu hanya menemukan Ayu di kamar pribadinya Siska yang di kira Siska kekasihnya. Tanpa pikir panjang, Rudi yag terus meracau nama Siska pun sudah menerkam Ayu hingga Ayu mengalami trauma karena kekerasan seksual yang di terimanya.
Tepat pada saat yang sama Siska kembali ke rumah dan melihat jelas perbuatan itu. Awalnya Siska hanya diam dan tidak bisa marah karena perbuatan Rudi. Siska saat itu terlalu mencintai Rudi hingga amukan dan kekesalannyadi tumpahkan pada Ayu dan mengusir Ayu dari rumah mewah itu ke jalanan.
__ADS_1
Sampai saat ini, Siska tidak tahu menahu bagaimana keadaan Ayu. Tapi, ada fakta lain yang Siska ketahui dari pihak ketiga tentang Ayu dan keluarganya.