Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
19


__ADS_3

Mita dan Adam sudah berada di meja makan. Anak dan Ibu itu sedang menikmati makanan yang sudah tersaji di meja makan.


"Makanlah yang banyak. Ibu sengaja memasak sebanyak ini untuk menyambutmu, Adam," ucap Mita pelan.


"Ibu itu tidak pernah berubah sejak dulu. Selalu memasak banyak dengan semua menu kesukaan Adam," ucap Adam pelan. Adam begitu merasakan kasih sayang Sang Ibu yang berlebih kepada dirinya.


"Tapi, Gadis itu cantik juga. Sepertinya dia gads yang baik," ucap Mita pelan sambil mengunyah makanannya yang ada di dalam mulutnya.


"Heum .... Entahlah, Adam kan tidak mengenalnya," ucap Adam pelan sambil menghabiskan sayur asem buatan Sang Bundayang selalu menjadi candunya setiap kali pulang.


Wajah cantik Dini memang selalu membayangi pikiran Adam hari ini. Senyumnya memang penuh ketulusan dan keramahan. memang seprtinya gadis itu gadis baik. Tapi, tetap saja, gadis itu gadis yang baru di kenalnya jadi Adam tidak boleh dengan mudahnya percaya begitu saja.


Mita menatap lekat ke arah Adam yang terlihat sedang melamun sambil mengunyah sisa manannya.


"Melamunkan apa?" tanya Mita pelan.


Adam yang sedikit terkejut dengan ucapan Sang Bunda pun menggelengkan kepalanya pelan sambil beruap, " Eh ... Bukan apa-apa, Bu."


"Lalu, Kapan kamu membawa calon istrimu ke rumah ini? Lihat usiamu sudah tiga puluh dua tahu, dua bulan lagi. Usia yng sudah matang untuk membina rumah tangga. Usia yang menurut Ibu, sudah mampu memimpin sekaligus menjadi imam dalam keluarga keilmu nanti," ucap Mita pelan menjelaskan.


Mita khawatir Adam terlalu senang dan hanyut dalam setiap aktivitasnya yang selalu menguras tenaga dan hari-harinya. Setiap hari Adam hanya berkutat pada pekerjaanya, tanggung jawabnya emmang begitu besar. Selain menjadi dosen di salah satu kampus, Adm juga memiliki usaha yang sedang di rintisnya dengan beberapa sahabat dan koleganya.

__ADS_1


"Calon istri?" ucap Adam sedikit kaget dengan permintaan Mita, Sang Ibu.


"Ya, Calon istri? Kenapa harus kaget begitu? Apa kamu tidak mau menikah? Ibu juga ingin mempunyai cucu dari kamu, menggendong dan ikut menhjaganya, berlari-lari dngan cucu Ibu bermain di taman," ucap Mita, Sang Ibu dengan penuh semangat menjelaskan.


Adam pun menatap lekat kedua bola mata Ibunya yang terlihat sendu. Kerut di wajahnya pun semakin terlihat karena sudah termakan usia. Tapi, Mita tetap saja masih terlihat canti, dewasa dan bijaksana. Rona bahagia dan rasa seanngnya selalu di tampakkan walaupun mungkin hatinya juga bersedih melihat Adam yang masih asyik menyendiri.


"Ibu ingin aku menikah? Mencari perempuan yang seperti Ibu itu tidak mudah<' ucap Adam pelan.


Adam memang mempunyai kriteria perempuan yang akan mendampinginya harus memiliki sifat dan karakter yang sangat mirip atau bahkan sama persis dengan Mita, sang Ibu. selama hidupnya Adam hanya mengenal sosok Mita, sang Ibu. Sososk wanuta yang kuat, mandiri, tegar dan bertanggung jawab. Mita tidak pernah mengeluhkan appun. Sewaktu masih aktif bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit. Mita, Sang Ibu selalu membagi waktunya dengan baik, antara pekerjaan, mengurus Adama hingga membantu Adama mengerjakan pekerjaan rumahtanggany. Belum lagi, Mita harus membersihkan rumah, mencuci baju dan meyetrika lalu memasak makanan kesukaan anak semata wayangnya itu.


Sosok Mita yang seperti inilah yang sudah mengena di hati Adama dan ytidak akan mudah terganti oleh wanita manapu, kecuali Dini. Ya, Dini gadis yang baru dikenal dan di temui secara tidak sengaja itu, kini selalu menari dalam bayangannya.


Adam mengangguk pelan tanda paham dengan semua yang di jelaskan oleh Mita, Sang Ibu.


"Tapi Adam belum memiliki calon istri, Ibu. Ibu tahu kan, waktu Adam banyak tersita hanya untuk pekerjaan dan pekerjaan. Itu semua Adam lakukan, demi kebahagiaan Ibu. Selama ini Adam bekerja agar hidup kita bahagia Ibu, hingga Adam memang tidak ada aktu untuk mencari perempuan walau hanya untuk sekedar berkenalan," ucap Adam menjelaskan.


Sebenarnya banyak wanita yang mendekati Adam, namun sikap Adam yang kelewat dingin dan cuek membuat para wanita yang mendekatinya pun mulai mundur teratur. Perempuan itu tidak bisa di abaika apalagi Adam tidak merespon sasma sekali.


"Apa masalah ini pun Ibu harus turun tangan? Mencarikanmu jodoh yang tepat untuk menemani sisa hidupmu, Adam?" ucap Mita pelan.


"Tidak Bu. Tapi, Kalau Ibu memiliki kriteria dan ada wanita yang sesuai dengan pilihan Ibu, Adam mau di kenalkan?" lirih Adam yang tidak punya pilihan lain.

__ADS_1


Adam pikir, dengan bekerja dan mencari banyak uang menjadi salah satu kebanggaan tersendiri bagi Ibunya karena Adam sukses dan itu semua tidak terlepas dari didikan dan dukunga dari Mita, Sang Ibu. Tapi, ternyata semua itu salah. Mita, sang Ibu kini menuntut adanya seoang pendamping bagi Adam. Ibu menginginkan menantu. Menantu yang mungkin bisa di ajak bicra setiap hari dnegan Ibu. Menantu yang menghargai, menghormati dan sayang kepada Ibu. Menantu yang bisa memberikan keturunan baik dan sholeh bagi keluarga kecilnya.


Mita hanya tersenyum lebar. Mita memang memiliki satu nama wanita yang tersimpan di pikirannya selama ini. Gadis baik yang selama ini menemani Mita jika kesepian.


"Ada. Kamu yakin dengan pilihan Ibu? Ibu memiliki kenalan anak gadis yang baik dan sholehah," ucapan Mita pun terhenti saat teriakan histeris Dini pun terdengar hingga di ruang makan.


Adam yang mendengar teriakan itu pun ikut meletakkan sendok garpu yang sejak tadi di pegannya sebagi alat bantu makan.


"Gadis itu ... Adam lihat dulu ya Bu," ucap Adam pelan yang langsung berlari ke arah kamar Mita.


Dini sudah siuman. Tubuhnya masih terlihat memucat. Duduknya tegak di atas kasur sambil menekuk kakinya yang di peluk hingga lututnya menyentuh bagian dadanya.


Pikiran Dini sedang kacau, terlebih saat kejadian kemarin Dini diperkosa berkali-kali dengan bergilir.


"Siapa kamu!!" teriak Dini saat emnatap ke arah Adam yang baru saja membuka pintu kamar tidur itu.


Tatapan Dini begitu tajam bagaikan elang yang sedang mendapatkan mangsa.


"Hei ... Cantik ...." panggil Adam plean. Adam belum mengena Dini. Namanya pun Adam tidak tahu. Kemarin Dini belum sempat menjawab pertanyaan Adam yang menanyakan siapa namanya.


"Kenapa kamu masuk ke kamar ini!! Kamu juga suruhan lelaki tua bangka itu untuk menyentuhku!!" teriak Dini semakin keras dan lantang.

__ADS_1


__ADS_2