Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
24


__ADS_3

Adam telah mengajak Dini untuk segera makan. Dini yang sudah lapar pun menurut bagai anak ayam yang terus berharap kepada induknya.


"Lihat, banyak sekali makanan di meja makan ini. Kira-kira kamu makan apa? Biar Kakak ambilkan?" suara Adam yang begitu lembut menenangkan hati Dini.


Dini memang melihat banyak sekali menu makanan di atas meja makan itu. DAn ke semua makanan itu tampak enak dan sangat lezat. Tapi, ada satu makanan yang sejak tadi membuatnya ingin mencicipinya. Iya, urap. Makanan sederhana, dari beberapa sayuran yang di rebus dan di campur dengan kelapa.


"Aku mau urap Kak," ucap Dini pelan. Adam sudah mengambilkan piring dan sendok, dan sudah mengambil satu centong nasi dan tinggal menunggu Dini memilih menunya.


"Urap? Ini? Kamu suka?" tanya Adam tidak percaya. Secara Dini anita cantik yang nampak sekali berkelas, tapi mau mencicipi makanan sederhana seperti itu.


Dini tersenyum, "Ini enak sekali pasti. Aku di rumah paling suka membuat urap dan bakwan udang. Kedua jenis makanan tersebut berbeda namun bila di pertemukan dalam satu piring akan menghasilkan rasa yang sempurna."


Adam ikut tersenyum dan mengangguk pelan. Adam cukup setuju dengan penjelasan Dini.


"Baiklah urap ya. Tapi, tanpa bakwwan udang? Bagaimana?" tanya Adam pelan.


Dini menggelengkan pelan, lalu tersenyum.


"Tanpa bakwan udang, tidak jadi masalah. Urap dengan nasi panas pun sudah terasa enak dan nikmat, tergantung cara kita bersyukur," ucap Dini sambil menampilkan rentetan giginya yang putih bersih.


Wajah Dini masih terlihat sedikit pucat. Sisa lelahnya masih tercetak jelas di wajah cantiknya.


Adam cukup terkejut mendengar ucapan Dini. Gadis biasa yang sepertinya sudah menjalani kepahitan dalam hidupnya hingga bisa menerima semuany dengan ikhlas.


"Siapa kamu sebenarnya, Dini?" tanya Adam pelan.

__ADS_1


"Aku? A-ku Dini. Kenapa bertanya seperti itu? Aku bukan maling ataupun orang jahat," ucap Dini tiba-tiba merasa ketakutan.


Merasa salah mengucap kata. Adam pun berusaha tersenyum dan tenang hingga Dini bisa merasa nyaman kembali.


"Maafkan Kakak. Sini duduk dekat Kakak, biar Kakak suapi. Atau mau makan di teras samping sambil melihat bunga mawar?" tanya Adam pelan menatap lekat kedua bola mata bulat indah Dini.


Wajah perempuan itu begitu terlukis dengan sempurna. Cantik dan manis, tubuhnya semampai, mungil dengan kulit yang putih mulus bersih. Tanpa make up pun Dini terlihat sangat cantik, bagai bidadari tak bersayap yang datang ke rumah ini. Rambutnya yang ikal panjang hingga menutupi punggungnya. Senyumnya dengan rentetan gigi putih bersih dan gingsul di bagian kanan menambah manis saat tersenyum.


"Taman? Bunga Mawar? Warna Merah?" tanya Dini begitu antusias. Dini paling suka dengan bunga dan menanam serta merawat bunga-bunga.


Adam ikut mengangguk bahagia.


"Iya. Taman kecil berisi aneka bunga mawar yang di dominasi warna merah dan putih. Tentu bunga-bunga itu secantik kamu," ucap Adam menjelaskan.


Senyum Dini semakin merekah tanpa beban saat Adam memujinya berlebihan. Dirinya merasa di hargai dan di perhatikan. Baru kali ini, Dini sedekat ini dengan laki-laki selain dengan Vian, sepupunya, atau Denis, pengawal pribadinya itu.


Kini Dini sudah duduk di kursi besi yang ada di taman samping. Bunga-bunga cantik itu memang baru mekar tadi pagi dan terlihat sangat cantik dan masih segar.


"Sekarang buka mulutmu dan makan sambil melihat bunga-bunga yang ada di sini. Tapi ingat, jangan pernah kamu petik bunga-bunga yang ada disini walaupun telah layu di tangkainya. Biarkan bunga itu jatuh sendiri ke tanah mengikuti takdirnya," ucap Adam pelan menasehati Dini.


Dini mengangguk pelan dan mengingat ucapan Adam dengan paham.


"Siapa yang merawat taman cantik ini?" ucap Dini pelan sambil mengunyah makananya yang sedikit terasa getir di lidah. Rasa getir dari urap inilah yang membuatnya suka. Terkadang hidup itu menjadi pilihan saat melangkah. Karena takdir bisa berubah sesuai dengan pilihan kita namun dengan tujuan yang tetap sama. Hanya prosesnya saja yang berbeda dengan ujian dan cobaan yang berbeda juga.


"Dia Ibuku. Wanita cantik yang selalu aku prioritaskan dalam hidupku. Untuk kebahagiaan Ibu, apapun akan aku lakukan, termasuk nyawa pun akan aku berikan jika memang di perlukan," ucap Adam pelan sambil menyuapi Dini. Kedua mata Adam sedikit basah, ada rasa sesak yang mungkin dirasakan saat bicara tentang Ibunya.

__ADS_1


Mita, bukan hanya sosok seorang wanita dewasa yang cukup di panggil Ibu. Banyak makna kata Ibu untuk Mita. Beliau seorang anita karir, wanita sekaligus menjadi seorang Ayah dan Ibu dalam waktu bersamaan, wanita yang bisa menjadi seorang ustadzah, wanita yang bisa menjadi sahabat. Intinya Mita adalah seorang Ibu yang multi talenta.


"Ibumu cantik sekali Kak Adam. Memakai baju panjang, terlihat seperti wanita arab yang anggun sekali. Pakai penutup kepala, apa namanya?" tanya Dini pelan.


"Hijab Dini," jawab Adam pelan masih menyuapi Dini.


Dini mengunyah makanan itu sambil mengangguk pelan.


"Iya hijab. Aku tidak tahu namanya," ucap Dini tertawa sambil menutup mulutnya yang masih penuh makanan.


"Kamu sedang bahagia, Dini? Kakak masih penasaran, Siapa kamu sebenarnya?" tanya Adam pelan. Rasanya wajah Dini sekilas mirip dengan seseorang yang juga ada di sekitar sin. Namun, Adam masih tidak menemukannya.


"Aku? Aku kan mahasiswimu kan? Seharusnya aku panggil Pak Adam, bukan Kakak," ucap Dini pelan sambil tertawa lagi.


Entah kenapa hari ini Dini merasakan kebahagiaan yang berbeda. Rasanya memang tanpa beban dan merasa aman dan nyaman tingga di rumah Adam.


Tapi, rasanya ini semua tidak akan lama. Batin Dini kembali sesak jika memikirkan tentang kehidupannya. Hari ini Dini bisa tinggal di sini, tapi selanjutnyaDini harus bagaimana? Uangnya masih cukup banyak di rekening banknya. Mungkin Dini harus mandiri mencari rumah untuk dirinya sendiri dan mulai bekerja atau membuka usaha.


"Mahasiswi ya? Iya juga sih," jawab Adam pelan.


"Nah ... Bener kan?" ucap Dini singkat lalu menghabiskan kunyahan di mulutnya dan meneguk air putih yang ada di dalam gelas hingga habis.


Adam menatap lekat wajah Dini. Ada getaran berbeda saat bersama gadis unik ini. Gadis yang apa adanya dan tanpa beban tersenyum dengan tulus.


Hidupnya sesimpel itu. Tidak ada sesak, kecewa atau bagaimana sikapnya. Gadis luar biasa sekali. Baru saja kemarin mengalami hal yang tidak menyenangkan tapi seolah semuanya tidak ada masalah baginya.

__ADS_1


"Dini ... Itu cincin pernikahan? Kamu sudah menikah?" tanya Adam lirih. Sesak rasanya.


__ADS_2