
Pagi ini semua orang bersemangat untuk pembukaan cafe bambu milik Windu. Kenapa Windu memilih nama Cafe Bambu, karena bambu adalah lambang abadi. Pohon Bambu hanya tumbuh sekali seumur hidupnya. Jadi, Windu ingin cafe nya pun abadi sesuai dengan namanya.
Acara pagi ini berjalan lancar. Pengguntingan pita tanda pembukaan cafe pun brjalan dengan sangat lancar sekali. Di depan rukonya ada meja khusus untuk membagikan beberapa jenis makanan yang akan di jual di cafenya sebagai test food untuk test pasar.
Positifnya, semua orang memberikan respon yang baik dengan di bukanya cafe baru milik Windu.
Antusias para pengunjung pun membuat Windu semakin yakin kalau usahanya akan berhasil.
Kebetulan jarak kantor Wibisono dan cafe itu begitu dekat. Windu bisa terus mengawasi keadaan Wibisono melalui satpam dan beberapa karyawan yang ia kenal.
Skip ...
"Aku sudah bilang. Aku tidak mau makan makanan yang di masak oleh Windu. Itu membuatku makin terpuruk," gertak Wibisono kepada salah satu satpam yang mengantarkan beberapa box makanan untuk Wibisono.
__ADS_1
"Nona Windu menangis, Nona Windu hanya ingin memastikan kondisi Bapak baik -baik saja. Mkanya Nona Windu sellau mengirimkan makanan sehat untuk Bapak," ucap satpam itu dengan suara sedikit bergetar.
Wibisono terdiam menatap satu kantung plastik berisi box makanan untuk dirinya. Betapa pedulinya Windu pada dirinya di saat ia terpuruk seperti ini. Windu tetap berusaha memikirkan dia dan kesehatannya. Sedangkan Yasinta? Setelah terakhir meminta uang dalam jumlah besar, Istri kesayangannya itu menghilang bagai ditelan bumi sampai pada akhirnya perusahaannya harus gulung tikar dalam waktu dekat.
"Pak? Pak Wibisono tidak apa -apa?" tanya satpam itu pelan.
"Pergilah. Aku ingin sendiri. Seperti biasa kalau ada yanh mencari saya, bilang tidak ada," titah Wibisono kepada satpam kantor.
Satpam itu pun mengangguk dan pergi dari ruangan kerja sang direktur.
Ini yang sangat di pusingkan oleh Wibisono.
Ponselnya berdering. Yasinta menghubunginya. Baru saja ia membatin, kenapa istri kesayangannya melupakannya. ia akan pinjam sertifikat rumah itu untuk di jaminkan pada bank dan melunasi semua hutang -hutangnya.
__ADS_1
"Yasinta? Akhirnya kau menghubungiku. Kemana saja kamu? Gimana liburan mu ke Korea?" tanya Wibisono pelan.
"Hah? Kau masih mengakui aku sebagai istrimu? Kamu gak punya malu Mas? Kamu itu sudah miskin, gak punya uang, gak bisa kasih keturunan, gak bisa membahagiakan aku secara batin? Masih bisa bilang istri kesayangan aku? Oh ... mnegenaskan sekali. Bahkan Windu juga akan meninggalkanmu Mas. Kau punya apa?" ucap Yasinta sinis.
"Apa maksud kamu, Yas?" tanya Wibisono bingung.
"Aku ingin minta cerai," ucap Yasinta lantang.
"Kau gila Yas? Kita ini sepsangan suami istri idaman banyak orang. Kita tidak pernah bertengkar, kita tidak pernah salaha paham, dan kita selalu romantis," ucap Wibisono pelan.
"Itu menurut kamu, Mas. tapi aku muak dengan semua itu." jawab Yasinta ketus.
"Muak?" tanya Wibisono pelan.
__ADS_1
"Ya. Muak dengna segala kepura -puraan," tegas Yasinta lantang.
Sambungan telepon itu pun di matikan sepihak oleh Yasinta. Yasinta hanya ingin menyampaikan bahwa dia ingin bercerai dan menjual semua asset yang di milikiny aatas nama dirinya.