
Suara Dini begitu lirih. Tubuhnya hanya terbalut jaket kulit milik Adam dan hanya menutupi bagian depan saja.
Adam pun menoleh ke arah Dini.
"Kamu sudah sadar? Minumlah?" ucap Adam lembut sambil memberikan satu botol air mineral yang masih tersegel kepada Dini.
Dini masih memegangi kepalanya yang terasa pening dan berputar.
"Kepalaku sakit sekali dan sekujur tubuhku terasa gatal dan nyeri," ucap Dini lirih seolah menahan rasa sakit entah di bagian mananya, mungkin bisa jadi nyeri di bagian intimnya atau alat vitalnya.
"Kita periksa ya? Takut terjadi pa-apa dengan kamu. Maaf, namamu siapa?" tanya Adam pelan.
Dini menoleh ke arah Adam. Tubuhnya menggigil kedinginan terkena sapuan dinginnya pendingin mobil. Darah mengalir deras dari paha Dini dan mengucur ke arah betis.
Dini menggelengkan kepalanya pelan. Perutnya seperti di peras-peras dan terasa sangat sakit.
"Itu ada darah. Lihatlah. Kamu kenapa?" tanya Adam dengan panik.
Lagi-lagi Dini hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dini memang tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya. memang sudah satu bulan ini, Dini tidak mendapatkan menstruasi dan sejak itu pula, Dini tidak lagi mengkonsumsi obat anti hamil karena sudah tidak bekerja lagi sebagai wanita malam.
"A-aku tidak apa-apa. Tidak perlu cemas Tuan," ucap Dini pelan sedikit tergagap.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Tuan? Panngil saja Adam. Tapi lihatlah darah itu mengalir," ucap Adam pelan. Adam cemas tapi melihat Dini yang terlihat baik-baik saja dan tenang pun membuat Adam pun menjadi santai kembali.
"Baiklah. Kak Adam? Aku panggil Kakak. Namaku Dini. Sudahlah tidak perlu cemas dan khawatir. Tolong bantu aku saja, mencarikan atau membelikan pakaian," ucap Dini pelan menitah. Adam sendiri mengangguk pelan mendengar ucapan Dini.
Tapi lama-kelamaan wajah Dini semakin terlihat pucat dan bibirnya terlihat mulai mengering.
"Kamu yakin tidak apa-apa, Dini? Aku merasa kamu sedang tidak baik-baik saja? Apa yang terasa sakit?" tanya Adam kemudian sambil menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya dengan pelan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa hanya efek kelelahan saja," ucap Dini dengan singkat menjawab.
"Yakin tidak apa-apa?" tanya Adam kembali meyakinkan jawaban Dini.
"iya tidak apa-apa," jawab Dini lirih sambil meringis menahan sakit perutnya.
"Itu kenapa meringis begitu?" tanya Adam yang ikut cemas kembali. Seketika wajah Dini memucat dan bibirnya memutih terlihat kering.
Dini hanya menoleh sekilas ke arah Adam dan melempar senyum manisnya yang membuat Adam terlena juga dengan pesona Dini.
"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir, fokus saja menyetir," ucap Dini lirih sambil memejamkan kedua matanya menahan perutnya yang terasa seperti kelapa yang di peras-peras untuk mendapatkan santan asli.
Adam mengngguk pelan dan mulai fokus pada perjalanannya menuju rumah ibunya.
Dalam hati Adam, akan membawa Dini ke rumah Ibunya yang mantan perawat. Sebelum akhirnya nanti Dini di antarkan ke rumah atau ke alamat yang dituju. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya-tanya tentang kehidupan pribadi DIni.
Kedua mata Dini sudah mulai terpejam. Tadinya menutup mata agar menghilangkan rasa nyeri di perutnya, tapi lama kelamaan kedua mata Dini benar-benar terpejam karena tertidur pulas.
"Dini ... Dini ...." panggil Adam pelan.
Tidak ada jawaban dari arah Dini, dan sepertinya terlelap karena lelah.
Adam tetap melanjutkan perjalanannya menuju rumah Sang Bunda yang sudah dekat.
Mobil sport putih itu sudah masuk ke dalam halaman asri rumah Sang Bunda Adam. Mita Yuwanti, Single mama dan juga seorang mantan perawat. Sejak lahirnya Adam, Mita dan Adam sudah di tinggal Ayahnya karena kecelakaan mobil. Mita selalu berharap bisa menemukan Suaminya kmbali dalam kadaan hidup.
Mita, Sang Bunda Adam selalu menyibukkan diri dengan segala aktivitas kesukaanya sepertiberkebun, memasak dan menjahit. Kedua mata Mita menatap mobil sport yang masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Mobil yang tidak asing lagi, dan setiap akhir pekan akan selalu datang mengunjunginya.
Adam sudah keluar dari mobilnya dan menghampiri Sang Bunda.
__ADS_1
"Assalamualaikum Ibu .... Sehat?" tanya Adan dengan lembut menyapa dan mencium punggung tangan Sang Bunda.
"Waalaikumsalam Adam. Alhamdulillah Ibu sehat. Lihat mawar merah dan maar puti itu mekar bersamaan di hari kamu datang. Kamu tahu itu pertanda apa?" tanyaSang Bunda bermain teka-teki dengan Adam yang sejak tadi merangkul Sang Bunda dan mengamati seluruh isi taman pekaranagan rumahnya itu.
Taman kecil itu penuh dengan tanaman bunga mawar, berwarna merah, putih dan pink. Bunga-bunga itu tumbuh dengan cantik dan sehat. Sang Bunda termasuk orang yang sangat telaten dalam mengurus dan merawat bunga.
"Pertanda apa itu Bu? Adam malah tidak paham?" tanya Adam dengan suara lembut menyerah. Menurut Adam lebih baik menyerah dan segera mendapatkan jawabannya dari pada harus mencari jaaban dan ujung-ujungnya jaabnnya malah lupa.
"Kamu tidak tahu? Maksud dari tumbuhnya sebuah bunga mawar?" tanya Sang Bunda kemudian mencari tahu. Adam ini termasuk anak jenius terkadang dengan sengaja tidak tahu agar tidak menjawab dan Sang Bunda yang memberi tahukan jawabannya dengan menjelaskan secara panjang lebar.
"Adam tidak tahu Ibu. Sejak kapan Adam membaca buku filsafat cinta atau ensiklopedia cinta. Tidak ada waktu. Adam sibuk dengan pekerjaan Adam," ucap Adam pelan menjelaskan kepada Sang Bunda.
"Iya, Kamu terlalu sibuk dengan duniamu Adam hingga kamu melupakan bahwa setiap manusia itu harus hidup brpasanagan agar bisa saling melengkapi," ucap Sang Bunda menekankan maksud dan tujuannya agar Adam segera mencari jodoh.
"Maksud Ibu, Adam harus mencari jodoh? Mencari istri atau pendamping hidup?" tanya Adam pelan.
Sampai sekarang, jujur saja Adam tidak memiliki, wanita spesial di hatinya.Bukan tidak tertarik kepada wanita atau sebaliknya, tapi lebih ke sibuknya Adam dengan segala pekerjaan.
Sang Ibu mengangguk pelan. Tepat sekali denga ucapa Adam yang bicara umasalah istri atau pendamping hidup.
"Kapan kamu mau bawa ke rumah dan mengenalkan pada Ibu? Ibu hanya ingin kamu mendapatkan anita yang baik, dan sepadan dengan dirimu Adam," ucap Sang Bunda berharap.
"Iya Bu. Adam janji akan mencari pasangan hidup," jawab Adam dngan pelan, mengakhiri pertanyaan Sang Bunda karena jika di tanggapi serius, mungkin bisa satu bulan penuh Adam terkena ceramah sang Bnda.
"Biklah Ibu tunggu. Menurut mitos, dua bunga mawar berbeda warna yang mekar di waktu dan hari yang sama, itu menandakan Sang anak pemilik bunga akan segera di pertemukan dnegan jodohnya. Jodoh itu tidak perlu di cari terkadang datang sendiri," ucap Ibu Mita pelan menjelaskan.
Adam pun menepuk-nepuk pundak Sang Bunda dan memberikan rasa nyaman pada Ibu yang teramat di sayanginya.
"Oh Iya Ibu .... Adam sampai lupa mau minta tolong," ucap Adam dengan suara pelan.
__ADS_1
"Tolong apa Adam?" tanya Sang Bunda dengan penasaran karena Adam tiba-tiba saja pergi ke arah mobilnya kembali seperti ingin mengambil sesuatu yang tetinggal di dalam mobil sport putihnya itu.