
Ucapan Arga dicafe bambu tadi membuat Windu menjadi kepikiran. Secercah kebimbangan pun melingkupi pikirannya. Terkadang nafsu itu bisa mengalahkan logika pemikiran kita sendiri.
Tubuh Windu sudah lelah setelah seharian bekerja di cafe bambu. Kini Windu harusmemulihkan kembali tenaganya dengan ber -istirahat. Tapi hingga dini hari kedua mata ini tak mau juga terpejam.
Beberapa bulan ini, Wibisono juga tidak menghubunginya sama sekali. Untuk menanyakan kabar pun tidak, apalagi mengetahui keberadaan Windu saat ini.
Rumah besar itu sudah di jual oleh Yasinta. Yasinta pun menghilang bagai di telan bumi setelah mencairkan semua asset Wibisono. Windu tak pernah tahu kemana rimbanya.
"Apa iya, Mas Wibisono sama sekali tak memiliki rasa padaku? Apakah waktu satu bulan kebersamaan kita, itu tak pernah meluluhkan hatinya sama sekali. Sampai Mas Wibisono tega mengusirku dan tak pernah menghubungi aku sama sekali," ucap Windu mengeluh pada dirinya sendiri.
Tubuhnya di miringkan dan memeluk guling dalam dekapannya.
__ADS_1
Skip ...
Pagi ini, Windu berangkat pagi -pagi ke cafe bmbu. Tini dan Inah sudah membuka cafe dan toko komestik di lantai dua. Windu memiliki janji dengan Arga untuk memberikan sejumlah uang dan menanda tangani kontrak perjanjian keja sama yang akan di lakukan Arga dengan suaminya nanti.
"Jadi semua sudah jelas ya, Ndu. Ini perjanjian kerja samanya. Kamu harus baca dengan baik dan benar. Takut nanti aku malah menipu kamu," ucap Arga tertawa.
"Aku percaya padamu. Sudah aku baca, dan semua jelas," ucap Windu pelan sambil menandatangani semua berkas yang di sodorkan oleh Arga.
Hari itu, Arga langsung mendatangi kantor Wibisono dan melruskan niatnya untuk mengajak Wibisono bekerja sama dalam bisnis yang sedang Arga kerjakan.
"Perkenalkan. Nama saya Arga Putra dari Putra Group Company. Kedatangan saya siang ini, ingin mengajak anda bekerja sama dengan bisnis properti yang sedang saya garap. Saya lihat sepak terjang anda sudh cukup mumpuni untuk di beri kepercayaan memegang proyek raksasa ini. Saya ingin anda menjadi tangan kanan saya. Ini perjanjian kontraknya silahkan di baca terlebih dahulu," ucap Arga dengan lantang dan tegas.
__ADS_1
Arga memang sudah beberapa kali bertemu Wibisono dalam acara temu investor terbesar di kota ini.
Wibisono mulai membuka perjanjian kontrak itu dengan teliti. Sejak tadi ia tak bertanya sama sekali. Arga lebih memonopoli pembicaran dan langsung menyodorkan perjanjian kotrak kerja sama tanpa ada basa -basi.
"Anda yakin mengajak saya kerja sama tanpa beriventasi?' tanya Wibisono pelan tak percaya.
"Ada yang aneh? Kalau saya mengajak kerja sama tanpa investasi. Saya hanya butuh orang -orang mumpuni seperti anda. Orang jujur dan mau bekerja keras, tanpa harus investasi di proyek besar ini. api jelas keuntungannya tetap ada persentasenya di luar gaji pokok anda sebagai tangan kanan saya," ucap Arga meyakinkan.
"Perusahaan saya sedang ambruk. Apa anda tidak takut?" tanya Wibisono kemudian.
"Saya tidak peduli masalah itu. Saya hanya berharap anda mau mengurus proyek besar ini. Bagaimana? Kalau anda tanda tangani sekarang. Mulai besok kantor ini akan saya jadikan kantor pemasaran di bagian lobby," ucap Arga lantang.
__ADS_1
"Saya tidak tahu harus bagaimana bersikap dan mengucapkan banyak terima kasih. Di saat terpuruk tidak ada satu teman pun yang bisa membantu saya. Bahkan istri yang sangat saya cintai pun malah pergi meninggalkan saya dan membawa semua asset sisa harta kekayaan kami. Terima kasih atas bantuannya Pak Arga. Saya mau bekerja sama dengan anda," ucap Wibisono pelan.
ARga pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum puas. Rencananya dengan Windu sudah berjalan dengan baik tanpa ada kecurigaan sama sekali.