
Tiga bulan kemudian ...
Dalam waktu singkat usaha Windu maju dengan pesat. Hutang Wibisono pun ia bnatu mencicilnya. Tak hanya samapi di sana, Windu membantu membangkitkan kembali perusahaan Wibisono hingga perlahan bisa mengontrol keuangan dan mengembalikan kepercayaan investor.
Windu meminta bantuan pada orang -orang terdekat untuk mencari jalan keluar dan solusi agar Wibisono bisa kembali seperti dulu dan tidak terpuruk seperti saat ini.
Kebetulan, salah satu konsumen Windu adalah pengusaha ternama. Windu banyak belajar tetang usaha dan bagaimnan menjalankan bisnis agar tetap stabil dan bisa terus berkompetisi dengan pesaing. Selama ini Windu banyak berkomunikasi dengan Arga. Ya, pengusaha muda dan masih sendiri.
"Aku lihat kamu makin sukses, Ndu. Apa yang sebenarnya kamu cari?" tanya Arga yang duduk manis disalah satu kursi cafe bambu milik Windu.
"Ilmu," jawab Windu tertawa.
"Just knowledge? Gak ada yang lain? kita kenal sudah tiga bulan, sejak cafe ini di buka," ucap Arga dengan santai.
__ADS_1
"Lebih tepatnya sains. Aku lagi punya tujuan tertentu. Apa kamu bisa membantu aku?" tanya Windu pelan. Windu sama sekali tak pernah berpikiran apa -apa dengan pertemanannya bersama Arga.
"Kau tidak menjawab pertanyaan aku, Ndu. Masalah membantu kamu itu hal mudah, buka hal sulit untukku. Tapi hubungan kita sepeti apa?" tanya Arga pelan.
Windu menatap lekat kedua mata Arga. Ucapan Arga sama sekali membuat Windu bingung.
"Hubungan? Hubungan apa? Just friend, Arga. Gak lebih," ucap Windu pelan.
"Apa? Kau bilang hanya berteman? Setiap malam aku luangkan waktuku untuk bertemu dnegan kamu, membantumu mencari jawaban tentang usaha kamu. Tidak hanya itu, kita diskusi bahkan berdebat. Aku pikir kita ...." uapan Arga pu terhenti. Dunianya seakan runtuh dan hatinya patah jadi dua.
"Kenapa kau tak bilang sejak awal?" tanya Arga mulai marah dan kesal.
"Kau bahkan tak pernah menanyakan status aku? Cincin kawin aku juga tak pernah lepas dari jari manisku, Arga. Apa kamu tak se -teliti itu?" tanay Windu lembut.
__ADS_1
"Aku menyukaimu Windu. Maafka aku yang telah lancang mencintai kamu. Ijinkan aku untuk tetap bisa berteman engan kamu, Windu," ucap Arga pelan.
Arga sudah terlalu nyaman dnegan Windu. Windu adalah perempuan yang mendekati sempurna. Pesonanya begitu memikat, tak hanya cantik, tapi juga, Windu sosok perempuan lembut dan ramah serta anggun.
"Kalau kau memang hanya ingin berteman aku mau, Arga. Tapi kalau kau sudah berpikir untuk lebih dari itu. Lebih baik, kamu tak usah datang lagi ke cafe ini," uca Windu tegas.
Arga hanya mengangguk paham dan pasrah. Permintaan Windu memang tidak sulit, bahkan mudah secara logika tapi tidak dengan hatinya.
"I'm promise. Believe me, Windu. Just friend," ucap Arga sedikit berat dan bergetar.
"Just friend. Makasih Arga, kau bisa mengerti posisi aku," ucap Windu pelan.
"Lalu, tadi kau mau minta tolong apa?" tanya Arga berusaha mengalihkan tema bicaranya. Arga tak mau hatinya kembali terluka jika bicara tentang perasaan.
__ADS_1
"Ekhemmm ... Suamiku, memiliki perusahaan yang sedang tidak baik -baik saja secara finansial. Aku sedang berusaha membantu dnegan usaha kecilku ini. Bisa kau jadi partner kerjanya atai investor. Nanti, uangnya aku transfer. Modal tetap dari aku, dan tugasmu hanya membantu, memotivasi dan membimbing lagi serta menata perusahaannya lagi agar lebih aik lagi," ucap Windu pelan. Ia memohon bantuan Arga kali ini demi keberhasilan bersama.
"Kalau masalah ini. Aku mau coba pikir dulu ya. Gak mudah membantu membangkitkan usaha seseorang yang sudah jatuh, waaupun dengan modal banyak. Aku harus mempelajarinya dulu, seperti apa perusahaan ini?" ucap Aga menjelaskan.