Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
DI USIR


__ADS_3

BRAK ...


"Brengsek!! Kamu telah membodohiku karena cintaku terlalu besar untukmu Yasinta. Ku pikir kau wanita baik. Wanita yang telah membantuku di saat aku terpuruk. Ku pikir kata -kata kamu itu benar, kau menjual aset da seluruh hartamu untuk membayar hutang -hutangku tapi kau tipu aku mentah -mentah. Kini jelas, kau telah berselingkuh di saat aku bekerja. Ku pikir aku percaya dengan kekuasaan Tuhan. Ku pikir semua doa -doaku di kabulkan dan ada keajaiban dalam rumah tangga kita. Anugerah bayi yang ku pikir adalah darah dagingku sendiri, tapi ... Argh ... Bajingan kamu, Yas!! Dan kamu!! Kamu supir pribadi Yasinta? Menikamti hidup? Sampai kalian memiliki anak, sungguh indah prosesnya. Kita BERCERAI!! Aku akan urus semuanya. Sekarang pergi dari apartemenku. Ini hasil keringatku sendiri, kau mengemis datang padaku, ternyata untuk besenang -senang dan menikmati hidup saja di saa aku sudah sukses. Kau gila Yas!! Kau gak punya hati!!" teriak Wibsisono dengan keras.


Wibisono melempar semua barang -barang milik Yasinta keluar kamar apartemennya dan tak ada ampun lagi. Tak ada rasa kasihan juga, dan tidak ada rasa iba di hati Wibisono.


Hatinya telah terluka, tersayat, namun tak berdarah. Rasanya sakit dan sesak seperti tertikam pisau yang begitu tajam. Wanita yang begitu ia cintai, ia percaya, ternyata selama ini menipu dirinya.


"Mas ... Maafkan aku. Aku janji tidak akan emngulanginya lagi. Aku janji akan melepaskan Yoga. Jangan usir aku. Kau tidak kasihan pada Kenzi. Dia tak besalah," ucap Yasinta.


"Hah? Mudah sekali kau bilang maaf? Kau itu sudah tidak punya hati, Yas!! Wajahmu yang cantik ternyata pintar berperan ganda. Padahal kalau aku ingat dulu, kamu meminta cerai, lalu tak ada kabar. Setelah aku bangkit kau datang, seolah -olah ini semua kamu yang membantuku? Hingga aku melupakan Windu karena cintaku yang begitu besar untuk kamu, Yas. Aku lupa setiap hari aku di beri makan oleh Windu, aku lupa kalau Windu sellau mencari cara agar aku bisa bangkit lagi," ucap Wibisono melemah.


Kedua tangannya mengusap kasar wajahnya yang telah basah karena air mata. Wibisono merutuki kebodohannya selama ini. Bisa -bisanya ia di bodohi oleh sikap sok manis Yasint, istrinya.


"Mas maafkan aku," ucap Yasinta pelan.


Diam -diam Yoga langsung memakai pakaiannya dan ingin pergi dari kamar apartemen itu. Yasinta sendiri masih dalam keadaan polos dan hanya melilitkan selimut pada tubuhnya.


BUGH!!


"Mau kemana kau?!" teriak Arga dengan suara keras sambil memukul telak Yoga.


Arga membawa beberapa polisi untuk menangkap Yoga. Bukan hanya karena telah berbuat msum saja, tapi ia sudah menipu banyak orang dan lebih parahnya lgi ia terlibat kasus curanmor dan narkoba. Posisinya memang buronan, dan kebetulan sekali bisa tertangkap di kamar apartemen Wibisono.


"Lepaskan aku? Lepaskan aku!! Aku tidak bersalah," teriak Yoga berusaha melarikan diri dengan meonta -ronta ingin melepaskan tubuhnya dari sergapan polisi.


KREK ...


Satu borgol sudah melingkar di tangannya. Dengan begini, ia sudah tidak bisa lari. Kalaupun lari, Polisi bisa menembak kakinya kapan saja, tanpa salah sasaran.

__ADS_1


Yasinta berdiri dan menghampiri Yoga.


"Apa? Kau telah mmbodohiku? Kau minta uang padaku hanya untuk main perempuan dan membeli narkoba? Kau gila Yoga? Ku pikir kau baik," ucap Yasinta kesal dan meludahi Yoga yang terduduk lemas di samping Polisi. Beberapa bagian wajahnya sudah babak belur karena usahanya untuk melarikan diri.


Yoga menatap tajam ke arah Yasinta.


"Kau memang bodoh, Yas. Kau kan hanya butuh kepuasan, dan selama ini aku bisa memuaskan kamu, bukan?" ucap Yoga terkekeh.


"Brengsek kamu, Yoga. Itu lihat Kenzi, dia anak kamu. Darah daging kamu," teriak YAsinta keras.


Wibisono sudah muak melihat drama istrinya itu. Arga menhampiri Wibisono.


"Semuanya belum terlambat," ucap Arga pelan.


Wibisono hanya mengeglengkan kepalanya pelan. Ia tak yakin Windu mau menerimanya lagi setelah hampir satu tahun ini ia tak pernah menghubunginya lagi.


"Dia waniata yang setia. Aku kagum padanya," ucap Arga memuji. Arga begitu jatuh hati pada Windu, hingga saat ini wajah ayu itu tak pernah bisa ia lupakan dari ingatannya. Senyumnya, tawanya, suaranya, gerak -geriknya begitu anggun sekali.


"Kau menyukainya, Arga?" tanya Wibisono pelan.


"Sangat," jawab Arga mantap.


"Kau mencintainya?" tanya Wibisono kemudian memastikan.


"Sangat," jawab Arga tersenyum penuh kemenangan.


Wibisono menunduk. Ia tentu akan kalah bila bersaing dengan Arga. Arga begitu sempurna sebagai laki -laki. Jarak usia dengan Windu pun tidak begitu jauh.


"Kau mau kita bertarung?" tanya Arga pelan.

__ADS_1


Wibisono mendongak kepalanya menatp Arga.


"Bertarung. Windu masih SAH sebagai istriku," ucap Wibisono pelan.


"Kau menafkahinya?" tanya Arga sinis.


Wibisono menggelengkan kepalanya plan. Inilah letak kesalahannya. Mengabaikan Windu dan tak mengurusnya sama sekali. Windu di biarkan begitu saja tanpa ada peduli dari Wibisono.


"TIdak." jawab Wibisono lantang.


"Lalu apa yang kau harapkan dari Windu? Dia juga sudah kaya. Kau tahu, perempuan kaya sudah tidak butuh laki -laki. Kalau pun dia butuh pendamping, tentu di amembutuhkan laki -laki yang benar -benar bisa menjaganya dan melindunginya. Seperti aku?" ucap Arga yang sengaja membuat Wibisono cemburu dan marah.


"Maksudmu apa Arga? Kau baik memebritahu tentang semua ini, tapi kau juga menjatuhkan aku yang ingin kembali dengan Windu? Apa kau juga ingin menghancurkan aku? Biar aku terpuruk seperti dulu lagi?" teriak Wibisono yang tak bisa membentak. Posisinya salah, ia tak punya nyali untuk menemui Windu.


Wibisono sempat terpancing emosi dan mengangkat kerah Arga yang tetap diam menatap tajam Wibisono. Sikap Araga begitu profesional, ia tak pernag mencampur adukkan maslah phibadinya dnegan pekerjaannya sebagai partner Wibisono.


Arga melepaskan eratan Wibisono pada kerahnya dan membuang bekas eratan itu.


"Aku harus pergi. Kau urus dan selesaikan urusanmu dengan buaya betina itu," ucap Arga menasehati.


Arga keluar dari kamar itu dan semua polisi juga pergi dari tempat itu membawa Yoga. Kini, di kamar apartemen itu hanya tinggal Wibisono dan Yasinta.


Yasinat terus berjongkok dan bersujud di depan Wibisono dan meminta maaf. Ia meminta semua di ulang kembali. Ia akan menuruti semua permintaan Wibsiono asal ia dapat hidup bersama dengan Wibisono dan membantu membesarkan Kenzi walaupun bukan darah dagingnya.


"MAafkan aku, Yas. Pakai bajumu, dan bawa anakmu keluar dari kamar ini. KELUAR!!" teriak Wibisono sudah muak melihat Yasinta.


"Mas ... Apa kau tega? Ini sudah sore. Aku harus mencari tmepat tinggal di mana?" tanya yasinta terus berusaha membujuk Wibisono untuk memaafkannya.


"Cukup Yas. Aku tidak mau dengar rengekan kamu lagi. Aku muak!! Bawa anakmu sebelum aku panggil satpam, untuk menyeret kamu keluar dari sini," tegas Wibsiono yang sudah tak bisa membendung rasa amarahnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2