Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
14


__ADS_3

Dini dan Denis bersamaan menatap ke arah lelaki tua itu.


"Siapa dia?" ucap Dini dengan bingung.


"Entahlah Nona. Aku juga baru melihatnya," ucap Denis yang sedikit bingung.


"Kenapa cara bicaranya seperti itu!! Kenapa dia mengetahui masa lalu aku? Apa memang ada hubungannya dengan Mas Herman?" tanya dini lirih. Namun, suaranya tetap saja bisa di dengar oleh Denis.


"Mana mungkin Tuan Herman melakukan itu. Tuan Herman sangat sayang kepada Anda, Nona," ucap Denis pelan.


Wajah Dini langsung berubah. Rasanya cemas dan panik mendengar panggilan yang tidak enak di dengar di telinga oleh lelaki tua itu. SEbutan yang sudah sebulan ini tidak pernah Dini dengar dan benar-benar ingin menjadi wanita baru.


"Lalu, apa maksud dari ucapannya?" tanya Dini pelan.


"Mungkin salah orang?" ucap Denis pelan berusaha menenangkan Dini yang terlihat mulai pucat saat lelaki tua itu mulai datang menghampirinya.


"Mana mungkin salah orang? Ini kampus!! Tidak banyak yang mengetahui tentang aku dan masa lalu aku," ucap Dini pelan.


Denis hanya terdiam. Otaknya mulai berpikir keras dengan semua ucapan Dini.


Lelaki tua itu semakin mendekati Dini dan tersenyum rumah seolah sedang menggoda Dini. Dini hanya menatap sekilas dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Hei ... Namamu Dini, bukan?" tanya lelaki tua itu sok akrab.


Tatapannya seolang terlihat meggoda dan menginginkan Dini.


"Anda bicara dengan saya, Tuan?" tanya Dini pelan sambil melirik ke arah Denis yang sejak tadi juga ikut menyimak pembicaraan mereka berdua.

__ADS_1


"Iya. Aku berbicaa padamu gadis cantik? Namamu Dini? Bukanka kamu, wanita idaman Herman? Aku sudah membayarmu mahal hanya untuk sebuah investasi," ucap lelaki tua itu dengan bangga.


"Apa maksud Tuan? Jaga bicara Tuan!! Aku istri Mas Herman, jadi jangan macam-macam" ucap Dini kesal.


"Istri? Kalau istri tidak mungkin di jadikan arisan dan di gilir hany untuk sebuah investasi dan kamu di pertaruhkan sebagai gadis pemuas para koleganya," ucap lelaki tua itu dengan sinis.


"Jaga bicara anda, Tuan!! Jangan bicara asal!! Aku wanita terhormat!!" ucap Dini lantang.


Napasnya mulai tidak beraturan karena Dini muali tersulut emosi kekessalan.


"Sudah cukup!! Kamu mau aku ajak baik-baik sesuai perjanjian atau aku seret ke mobil sekarang juga!!" ucap lelaki itu sudah tidak sabar.


"Apa maksudmu!! Perjanjian apa?" tanya Dini dengan murka.


Lelaki tua itu tidak banyak bicara langsung mengambil ponselnya dan memberikannya kepada Dini. Sambungan telepon itu langsung tertuju kada Herma, suami sirinya.


"Aku sudah menemukan wanitamu. Dia ada di kampus, dan memang sesuai harapanku. Apa yang kamu presentasikan tentang Dini sesuai dengan kenyataannya. Dia benar-benar cantik dan sexy, aku langsung terpesona. Dan semoga saja, permainan panasnya pun membuat aku bisa klimaksberkali-kali," ucap lelaki tua itu pelan sambil tertawa lebar kepada Herman yang sedang di teleponnya.


"Hallo, Dini sayang. Maafkan Mas, tolong Mas saat ini sedang mengalami kesusahan. Kondisi perusahaan Mas sedang terpuruk, dan jalan satu-satunyahanya kamu yang bisa membantu Mas. Kamu mau kan membantu Mas?" tanya Herman dengan suara pelan dan lembut.


"Aku? Aku bisa bantu apa? Kalau memang aku harus membantu, aku pasti bantu Mas Herman, selama aku bisa," ucap Dini pelan.


"Aku hanya bisa menggadaikan tubuhmu kepada beberapa kolega yang memberikan kucuran dana investasi di perusahaan Mas. Dan yang mereka minta hanyalah tubuh kamu, dan kenikmatan ******* yang bisa di dapatkan berkali-kali dalam waktu semalam. Kamu bisa bantu Mas kan, Dini?" tanya Herman, suami siri Dini dengan nada memohon.


Dini terdiam sejenak memikirkan permintaan gila suaminya itu. Tega sekali Herman, suaminya itu menggadaikan cinta dan tubuhnya untuk semua parainvestor yang mau menanamkan modalnya di perusahaan Herman. Lalu? Dini dianggap pmuas nafsu bejat? Bukanlagi terhormat sebagai istri siri atau istri kedua? Kini, statusnya hanya sebuah status istri tapi, raganya di jual dan di eksploitasi untuk kepentingan pribadi Herman, suami sirinya itu.


"Kenapa diam? Ini pekerjaan mudah, jika dibandingkan dengan harus membayar semua modal-modal ini. Ini semua mereka tanamkan tanpa meminta modal kembali atau bagi hasil jika laba sedang naik," ucap Herman dengan antusias menjelaskan.

__ADS_1


"Kamu tega Mas? Kamu sama saja menjual tubuhkudemi uang? Lalu apa bedanya perbuatanmu ini dengan apayang dilakukan oleh Paman dan Bibi ku kemarin?!!" ucap Dini dengan keras dan marah.


"Aku membelimu dengan sangat mahal!! Uang satu milyar itu bukan uang sedikit!! Dan kini, aku harus mencari uang untuk membangun kembali usahaku yang sempat bangkrut dengan mencari modal baru. Dan hanya kamu yang bisa membantu Mas. Tapi, ini balasan kamu terhadap Mas? Tidak mau membantu Mas untuk mencari modal?" ucap Hemran dengan suara ketusnya.


Selama satu minggu ini, memang Herman berpikir keras bagaiamana mencari uang dengan cepat untuk modal awal kembali perusahaan itu di hidupkan kembali. Vian, adalah sepupu Dini yang kini ikut bekerja sebagai asisten Herman.


Menjual tubuh Dini, istri sirinya itu adalah salah satu ide gila Vian yang diajukan kepada Herman. Benny sempat tidak setuju, karena ini akan menjadi maksiat selamanya.


"Menyesal aku mengenalmu Mas!! Aku pikir kamu itu datang sebagai malaikatpelindungku!! Ternyata kamu juga sama saja!!" teriak Dini dengna kesal lalu memberikan ponsel itu kepada lelaki tua yang ada di depannya.


Ponsel itu langsung di matikan oleh Dini secara sepihak. Lalu, ponsel itu diberikan kepada lelaki tua itu.


"Bagaimana? Sudah percaya kan? Kalau malam ini kamu adalah milikku. Mau tahu berapa aku harus mmebayar ini semua? Aku investasikan lima ratus juta rupiah untuk bisa satu malam bersamamu, Dini," ucap lelaki hidung belang itu.


Wajah Dini sudah kesal dan memerah. Hari ini Dini tidak punya pilihan lain. Jika harus melarikan diri dari ini semua, lalu Dini mau kemana? Otak Dini berpikir keras. Kalau hanya uang, Dini masih memiliki uang simpanan di tabungannya. Mungkin cukup untuk hidup dan membayar sewa kos. Tapi, bagaimana caranya melarikan diir dari pria hidung belang ini. Dini harus mencari alasan apa?


"Nona Muda?" panggil Denis dengan suara pelan.


Dini pun menoleh ke arah Denis. Saat ini bagi Dini tidak ada satu pun orang yang bisa di percayainya, seklai pun Denis, orang kepercayaannya. Hidup Dini kini seolah benar-benar sedang di uji.


"Apa?" jawab Dini dengan ketus.


Hatinya sedang gundah gulana akibat perbuatan Herman, suami sirinya yang mempertaruhkan tubuh Dini dengan sebuah investasi.


"Saya pulang dulu menurut instruksi Tuan Herman. Nona Muda harus mengikuti ap yang menjadi keinginan lelaki tua itu," ucap Denis mengingatkan.


"Aku ingin ke kamar mandi dulu. Rasanya sudah tidak tahan ingin mengeluarkan sesuatu," ucap Dini pelan sambil mencoba tertawa.

__ADS_1


Pikirannya sudah tak karuan dan ingin kabur dari jeratan gila ini.


"Silahkan. Tapi ingat!! Jangan coba-coba kabur dari aku?! Aku akan mencarimu hingga ke ujung dunia, dan opsi kedua Herman akan mati di tanganku, karena sudah berani menipuku," ucap lelaki tua itu mengingatkan.


__ADS_2