
Sudah seminggu ini, Dini tercatat sebagai mahasiswi baru di sebuah kampus biru di kota itu. Cita-citanya menjadi seorang wanita karir pun sepertinya bisa tercapai. Harapannya bukan lagi bagaikan surga yang sulit di renggut melainkan hanya seperti bunga yang ditunggu mekarnya lalu di petik.
Selama ini juga, Herman , suaminya sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis. Herman dan Benny sedang mencari cara untuk memulai kembali bisnis logam dan tembaga ynag sudah lama bangkrut sejak mendiang Ayah Siska masih ada.
"Dini!!" panggil Anna teman ssatu kampus yang kini menjadi sahabatnya.
Dini menoleh ke arah Anna dan tersenyum ramah menjawab panggilan sahabatnya, "Apa Anna?" jawab Dini dengan suara pelan..
"Ada lelaki tua yang mencarimu di dekat ruang pengajaran lantai satu. Sudah tua. Apa dia ayahmu?" tanya Anna dengan penasaran.
Dini berpikir sejenak. Lelaki tua yang mencarinya itu siapa? Herman, suaminya sedang tidak berada di negerinya sendiri. Kalau orang lain? Siapa dia?
"Dimana tadi? Depan ruang pengajaran?" tanya ulang Dini kepada Anna.
"Iya, depan ruang pengajaran. Mau aku temani?" tanya Anna pelan.
Dini menggelengkan kepalanya pelan.
"Ekhemm .... Tidak perlu. Aku ke sana dahulu. Bisa jadi itu saudara jauh, Pamanku dari kota tetangga," ucap Dini degan wajah sendu namun ttap terlihat cantik.
Perasaan Dini menjadi tidak menentu. Tadi malam, Herman baru saja mengabarinya bahwa akan pulang satu minggu lagi. Jadi, tidak mungkin lelaki tua yang ingin menemuinya itu adalah seseorang yang mengenalnya.
Dini mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Denis.
"Denis. Ada lelaki tua yang ingin menemuiku. Bisa kamu menemani aku. Aku tunggu di dekat tangga utama lantai satu," ucap Dini dengan suara mantap menitah.
"Baik. Saya kesana sekarang, Nona," ucap Denis pelan. denis pun beranjak dari kursinya di kantin dan berjalan menuiju tempat yang telah diujanjikan bersama Nona Mudnya itu.
Hampir sebulan ini, Denis bekerja sebagai pengawal Dini. Awalnya mungkin Nona Mudanya ini pendiam, tapi lama-kelaman Dini adalah wanita yang ramah dan baik setelah di kenal.
"Nona Dini ...." panggil Denis pelan saat lebih dulu berada di dekat tangga. Tubuh tinggi Denis dengan pakaian casual dan bertopi membuat penampilan Denis terlihat keren dan trendi.
__ADS_1
BAnyak pasang mata menatap ketampanan Denis dan berbisik hingga mencuat gosip baru bahwa Dini dekat dengan Denis. Denis memnag alumi kampus biru tersebut, jadi beberapa dosen dan orang-orang yang lama bekerja disana mengenalnya dengan baik.
"Denis!! Orangnya di depan ruangan itu. Anna bilang ada yang mencariku seorang lelaki tua. Tapi, Mas Herman masih kembali tanah air satu minggu lagi, lalu siapa yang datang ke kampus aku dan mencariku?" tanya Dini dengan suara pelan. Raut wajahnya terlihat sangat cemas dan panik.
Denis mengelengkan kepalanya.
"Saya juga tidak tahu. Apa mau saya lihatsiapa dia? Atau Nona Dini mau saya temani?" tanya Denis pelan.
Dini terdiam sedang memilih jawaban yang di ajukan oleh Denis.
"Temani aku saja, mau? Bisa kan bantu aku?" tanya Dini lirih.
Denis mengangguk pelan. tubuh Dini berbalik dan menunduk berjalan menuju depan ruang pengajaran. Denis berjalan di belakang Dini. Lalu, tiba-tiba ....
BRUK!!
"Arghh ...." teriak Dini yang tubuhnya sedikit terpental dn jatuh ke lantai. Tubuhnya yang mungil terasa mental saat menubruk tubuh seseorang yang ada di depannya yang seperti beton itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya lelaki tampan yang berapakaian rapi itu tersenyum lebar dan begitu ramah.
Dini takjub melihat lelaki tampan yang ada di depannya. Lelaki yang usianya sepertinya berada di usia matang.
"Hei ... Kenapa bengong? Maafkan saya, sudah membuatmu terjatuh. Siapa namamu? Namaku Adam," ucap Adam pelan.
Satu tangannya masih terulur di depan Dini untuk membantu Dini berdiri. Tanpa banyak berpikir panjang dan tanpa bayak bertanya Dini pun menerima uluran tangan itu dan bangkit berdiri. Satu tangannya mulai membersihkan dan merapikan pakaiannya yang mulai kusut.
Deni yang sejak tadi berada di belakang Dini pun tidak berani menolong Dini karena harus menyentuh istri dari majikannya itu. Tuan Herman selalu mengingatkan untuk selalu menjaga Dini dan tidak mengganggunya.
"Terima kasih sudah membantu saya," ucap Dini pelan.
"Sama-sama," jawab Adam dengan suara berat dan terkesan dingin.
__ADS_1
Adam pun berlalu begitu saja. Detak jantungnya berdegup keras saat tangannya bersentuhna dengan tangan selembut sutera milik Dini. Jujur, Adam salah tingkah dan akhirnya meninggalkan Dini begitu saja. Degub jantungnya sedang tak berirama baik hingga malah membuat Adam panas dingin.
"Nona Dini, anda baik-baik saja?" tanya Denis yang ikut merasa bersalah.
"Ya, tidak apa-apa. Aku yang tidak melihat jalan," ucap Dini singkat sambil melirik ke arah Adam yang sudah berjalan menjauh dari hadapan Dini.
Dini melanjutkan langkahnya menuju ruang pengajaran. Di sana, Dini melihat sosok lelaki tua bangka yang sedang melihat-lihat ke arah pengumuman mading dengan kedua tangan yang dii masukkan ke dalam saku celana kainnya. Gayanya seperti berjiwa muda dengan rambut klimis yang di sisir polem beraturan. Dari jarak jauh, wangi parfum tak biasa begitu menyengat indera penciuman Dini.
Tepat di depannya ada kursi tunggu. Dini sengaja duduk di sana untuk melihat gerak-gerik lelaki itu yang sedikit mencurigakan.
Denis pun hanya diam dan mengikuti Nona mudanya duduk di kursi tunggu itu dnegan posisi yang agak jauh.
"Lelaki itu maksud Nona?" tanya Denis pelan sambil menatap lelaki yang ada di depannya. Jarak pandangnya cukup agak jauh, kemungkinannya sangat kecil lelaki tua itu juga menatapnya.
Dini mengangguk pelan tanpa berkedip.
"Kamu kenal, Denis? Mungkin teman Mas Herman?" tanya Dini pelan.
Denis menggelengkan kepalanya pelan.
"Saya tidak mengenalnya. Rumah yang Nona tempati tidak pernah ada tamu atau orang lain termasuk Nyonya Besar juga belum pernah mampir.Rumah itu hanya di datangi oleh Tuan Herman untuk sekedar berlibur dan menghilang sejenak dari Nyonya Siska," ucap Denis.
Cukup menarik tema pembicaraan kali ini bersama Denis. Kata-kata Denis menyinggung 'Nyonya Siska' pun membuat Dini, ingin mengenal lebih sosok Siska, istri SAH Herman, suaminya itu.
"Seperti apa wajah Nyonya Siska? Jujur aku ingin sekali bertemu dnegan istri Mas Herman," ucap Dini dengan polos.
Denis pun menggelengkan kepalanya dengan cepat. Denis kurang setuju dengan kata-kata Dini ingin mengenal dan bertemu sosok Siska, istri majikannya itu.
"Lebih baik urungkan niat Nona Muda untuk berkeinginan bertemu dnegan Nyonya Siska. Tentu akan timbul maslah baru dan maslah besar," ucap Denis pelan menjelaskan.
Suara menggelegar dan khas bariton dari lelaki yang sejak tadi di amatinya membuat Denis dan Dini terkejut.
__ADS_1
"Hei, gadis cantik!! Namamu Dini? Ayam kampus sekaligus anita malam yang akan menemaniku malam ini atas rekomendasi Tuang Herma!! Aku sudah membayar mahal untuk ini, dan rasanya aku beruntung sekali bisa mendapatkan wanita cantik dan sexy malam ini," ucap Lelaki tua itu dengan sedikit lantang sambil berjalan ke arah Dini.