Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
20


__ADS_3

"Heii ... Cantik ... Kamu lupa denganku?" tanya Adam dengan pelan.


Adam berusaha mendekati Dini. Langkahnya begitu pelan seperti siput berjalan menuju ke arah Dini.


Dini masih mengatupkan kedua bibirnya. Pikirannya tidak fokus, masih terngiang jelas ucapan Herman, suami sirinya yang ingin menjadikannya sebagai tumbal demi kelancaran bisnisnya itu.


"STOP!! Jangan mendekat. Jangan sentuh aku!! Pergi!!" teriak Dini semakin lantang dan histeris sambil melemparkan guling yang ada di dekatnya ke arah Adam.


Adam menghindar dari lemparan guling tersebut. Cukup aneh dengan gadis cantik yang ada di depannya saat ini. Tadi masih tidak apa-apa, kenapa saat ini seperti orang stres yang memiliki tekanan batin. Apakah mungkin hidupnya merasa ancur setelah kasus pemerkosaan tadi? Adam pun bertanya-tanya dalam hatinya.


"Jangan mendekat!!" teriak Dini keras. Dini langsung loncat dari tempat tidurnya dan berjalan mundur saat melihat Adam terus mendekatinya.


"Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Kamu tahu, aku yang menolongmu tadi," ucap Adam pelan dan begitu lembut.


Dini seperti orang kesurupan. Pikirannya kacau dan hatinya begitu hancur. Orang yang selama ini di agung-agungkan ternyata malah menyiksa batinnya secara perlahan.


"Pergi!! Aku tidak mau melayani siapa pun malam ini!! Biarkan aku sendiri!!" teriak Dini semakin keras.


Mita sejak tadi berada di balik pintu kamar tidurnya di arah depan. Mendengar semua ocehn lantang Dini yang membuatnya semakin bertanya-tanya, siapa sebenarnya gadis ini. Berasal dari mana? Apa pekerjaannya?


"Siapa namamu gadis cantik?" tanya Adam dengan suara pelan.


Dini menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Untuk apa kamu bertanya hal itu? STOP!! Jangan mendekat!! Argh ...." teriakan lirih itu begitu tearsa meyayat hati Adam. Darah mengalir kembali dari pangkal paha Dini dan menjalar ke araah betis kaki dan betis Dini.


"Kenapa kamu. Aku bantu?" ucap Adam dengan sedikit rgu.


"STOP!! Jangan mendekat!! Biar aku urus diriku sendiri. Aku mampu ...." ucap Dini pelan lalu terjatuh begitu saja d lantai. Dini kemabali tidak sadarkan diri setelah melihat aliran darah yang mengalir kembali di kakinya. Perutya terasa sakit kembalii dan Dini terus memegangi perutnya hingga tubuh itu lemah tak berdaya.


"Ibu!! Ibu!! Tolong gadis ini. Gadis ini tidak sadarkan dirii," teriak Adam dengan suara keras.


Mita pun langsung masuk ke dalam kamar. Adam sedang berusaha mengangkat tubuh mungil gadis itu. Mita melihat jelas darah yang kembali mengalir di betis Dini.

__ADS_1


"Sepertinya gadis ini tengah mengandung," ucap Mita tiba-tiba.


Dua kali hal ini terjadi, tentu gadisini sedang mengalami pendarahan dan itu artinya gadis ini bisa kehilangan janinnya bila tidak segera di tindak lanjuti.


Adam pun menoleh ke arah Ibunya setelah merebahkan Dini dan menyelimuti gadis itu dengan selimut tipis hingga ke bagin dadanya.


"Mengandung? Ma-maksud Ibu, gadis ini hamil?! Dia masih muda, dan masih kuliah di tempat Adam bekerja," ucap Adam pela membela Dini.


"Usia tidka menjadikan jaminan seorang wanita itu mengandung atau tidak. Kalau memang sudah waktunya mengandung ya tentu mengandung. Kamu ini seperti tidak belajar pelajaran biologi saja, Dam," ucap Mita pelan.


Mita dengan cepat mengambil alat periksanya dan langsung memeriksa tubuh Dini dan memeriksa di bagian perut.


"Bagaimana Bu? Keadaan gadis ini?" tanya Adama yang terlihat cemas.


Mita pun menoleh ke arah Adam dan melihat perubahan raut wajah Adam yang berubah.


"Sebegitu khaatirnya kamu dnegan wanita ini? Kenal saja tidak?" ucap Mita menepuk pelan lengan Adam.


"Ibu ... Adam sedang bicara. Apa yang terjadi dengan gadis itu?" tanya Adam pelan dengan suara yang masih sopan.


Mita menghela napas panjang lalu di hembuskan dengan kasar.


Adam menarik tangan Mita, Sang Bunda untuk meminta penjelasan.


"Ibu ... Jangan buat Adam khawatir. Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Adam pelan dengan nada memohon.


Tatapan Mita lekat kepada Adam, anaknya.


"Kamu kenapa sih Adam? Seperetinya panik sekali? Gadis itu kekasihmu? Coba jawab?" tanya MIta Sang Bunda yang mulai jengah dengan pertanyaan Adam.


Mita hanya ingin memastikan apakah Adam itu lelaki normal atau bukan. Gadis itu begitu cantuk dan mulus, tentu banyak lelaki akan menyukai kemolekannya. Tapi, Apakah Adam juga menjadi salah satunya, atau bahkan Adama tidak tertarik sama sekali pada wanita itu.


"Adam tidak panik. Adam hanya ingin memastikan gadis itu baik-baik saja. Adam hanya ingin menolong, tidak ada maksud lain," ucap Adam pelan meyakinkan penjelasannya kepada Sang Ibu.

__ADS_1


"Kalau memang gadis itu kekasihmu, ya tidak apa-apa. gadis itu cantik sekali, tentu semua lelaki akan menyukai dan memuji kecantikannya, termasuk kamu, Adam," ucap Mita pelan.


"Tidak Bu. Aku hanya mengagumi kecantikannya, dan tidak lebih dari itu," ucap Adam pelan.


Adam tidak tahu baha takdir sedang ingin bermain-main dnegannya. Perasaan kagum itu akan berubah pada saat yang tepat saat Adam mulai mengenal sosok Dini yang ramah dan ceria.


"Oke. Ibu percaya kepadamu.Ingat Ibu sudah memuliki calon istri yang sholehah untukmu? Kamu mau kan menikahi wanita pilihan Ibu?" tanya Sang Ibu pelan.


Adam tersenyum lalu mengangguk dnegan pasrah. Apapun permintaan Ibunya pasti akan Adam turuti termasuk jodohnya yang juga masih harus ada campur atngan Mita, Sang Ibu.


"Kalau boleh tahu, siapa gadis itu Bu?" tanya Adam pelan. Jujur, Adam penasaran.


"Rumahnya dekat sini. Namanya Zya Azahra, biasa di panggil Zya. Usianya masih muda sekitar dua puluh empat tahun, dan dia seorang ustadzah. Waniat berpendidikan tinggi dan memiliki etika serta adab yang baik. Ibu sangat menyukainya," ucap Mita pelan menjelaskan.


Adam hanya menyimak penjelasan Sang Bunda. Kedua mata Ibunya itu nampak berbinar indah dan emmancarkan satu kebahagiaan yang tak terlukiskan. Mita sangat meyukai Zya. Hampir setiap sore Mita, Sang Ibu bertemu dengan Zya di sebuah majelis. Muli sejak pertama kali bertemu, Mita pun langsung menginginkan Zya menjadi calon menantunya.


"Zya? Apa aku mengenalnya?" tanya Adam pelan.


"Sepertinya tidak. Zya dan keluarganya baru saja pindah ke desa ini sekitar dua atau tiga bulan yang lalu. Pengaruh Zya cukup baik di desa ini. Itu yang Ibu suka dari Zya," ucap Mita dengan senyum sumringah.


Mita senang sekali. Apa yang di harapkannya bisa terkabul. Adam ternyata mau dengan ikhlas menerima Zya, wanita pilihan Sang Ibu.


"Oh baiklah. Bagaimana Ibu saja. Jika menurut Ibu itu yang terbaik, maka itu hal yang baik," ucap Adm pelan.


Keduanya sama-sama terdiam. Mita terdiam membayangkan sosok Zya yang akan menjadi menantunya. Sedangkan Adam malah melamunkan hal lain. Membayangkan sosok Dini yang cantik bisa kembali pada kondisi kejiwaan yang lurus.


TOK!


TOK!


TOK!


"Assalamualaikum ... Bu Mita ..." sapa seorang gadis dari balik pintu depan.

__ADS_1


__ADS_2