
Dini membuka pintu kaar mandi itu dnegan wajah yang muram. Lalu berjalan menuju tempat tidur dan duudk di tepi ranjang itu dengan lesu.
Mita menghampiri Dini dan menatap hasil yang langsung bisa di baca melalui berapa garis yang muncul di alat pendeteksi itu.
"Kmau hamil? Itu garisnya menunjukkan dua garis merah yang sangat jelas," ucap Mita pelan sambil tesenyum.
Tapi tidak dnegan Dini saat ini. Hatinya malah gundah gulana. Pernikahan siri itu malah membuahkan benih yang tidak di harapkan.
'Arghh ... Kenapa aku tidak tanya Bibi, obat apa itu? Obat mujarab yang bisa membuat aku tidak hamil walaupun banyak di sentuh lelaki,' batin Dini dengan kesal.
Seharusnya Dini nahagia dengan kehamilannya saat ini. Bukti pernikahannya pun ada, saksinya juga ada, tidak perlu ada yang di takutkan dan tinggal meminta pertanggung jawaban Herman sebagai suami yang telah menikahinya.
"Dini?" panggil Mita pelan. Melihat kecemasan dan sedikit rasa ketidak sukaan Dini tercetak jelas di wajahnya.
Dini terdiam dan tidak merespon panggilan Mita. Hati dan pikiran Dini saat ini sedang tidak singkron dan lebih memikirkan apa yang sedang menjadi beban dalam pikirannya saat ini.
"Dini ...." panggil Mita kemudian pelan sambil mengibaskan tangannya di depan Dini yang menatap kosong ke arah depan.
Mita hanya tidak ingin kehamilan Dini saat ini membuat Dini jadi tertekan. Paling tidak Mita akan membanti Dini untuk merawat janinnya dengan baik dan lebih mencintai janin itu apapun kondisinya.
Mita memeluk Dini, saat melihat Dini menitikkan air matanya. Rasa sakit, kecewa, bingung, pasrah dan takut bercmpur menjadi satu.
"Apa yang kamu pikirkan Dini? Ada Ibu, ada Kak Adam yang siap membantu kamu. Jadikan Ibu, seperti Ibumu, Dini. Ceritalah apapun itu yang mungkin bisa membuatmu lebih lega," ucap Mita pelan.
Mita tahu, hal ini tida mudah bagi Dini. Rasa tertekan dan trauma menjadi satu. Dan kini harus menerima takdir baru, bahwa Dini mengandung.
Bukan tidak suka, tapi kehadiran buah hati ini sangat tidak tepat dan Dini belum siap untuk ini.
__ADS_1
Air mata Dini terus luruh begitu saja. Dini sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Masalah yang datang begitu banyak dan terus mencobainya satu per satu tanpa menyelesaikan masalah lainnya yang sebelumnya telah hadir.
"Dini ... Mau kan cerita sama Ibu?" tanya Mita pelan ebrusaha membuat Dini tenang dahulu.
Dini tetap diam dan tidak menjawab. Bingung rasanya harus menjawab apa.
"Oke ... Lebih baik kamu istirahat dulu. Ibu buatkan susu ya?" ucap Mita pelan sambil membantu Dini merebahkan tubuhnya tanpa ada penolakan. Mita menyelimuti gadis cantik tengah berbaan dua itu hingga menutupi setengah tubuhnya.
Mita pun mengecup kening Dini untuk mmberikan rasa amn dan nyaman, sbegai bnetuk arasa kasih sayang Mita terhadap Dini. Mita hanya ingin Dini merasa kuat dengan cobaan hidupnya.
"Bagaiman Bu?" tanya Adam pelan yang ikut cemas seperti sedang menunggu kelahiran sang istri.
Mita hanya menatap sekilas ke arah Adam dan melanjutkan langkahnya menuju sofa ruang tengah.
"Ibu ... Bagaimana?" tanya Adam kembali yang sejak tadi membututi Mita, Sang Ibu yang hanya terdiam sambil menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Apa sih Adam? Kamu kok malah ikut penasaran begitu?" tanya Mita dengan tatapan lekat.
"Bukan begitu Bu. Adam hanya cemas dengan keadaan Dini," ucap Adam sekenanya lalu ikut duduk di samping Mita.
"Kamu cemas? Kamu suka dengan Dini?" tanya Mita kemudian.
Mita hanya merasa aneh dengan tingkah Adam yang berbeda saat harus bersama Dini dengan saat hrus bersama Zya. Padahal Adam tahu, Mita lebih condong menyukai Zya yang terkesan lebih sholehah dibandingkan Dini, gadis polos yang memang biasa saja.
Adam menarik napas panjang. Pertanyaan Ibunya sungguh membuatnya skakmat tidak bisa menjawab. Jujur, Adam memnag sangat kagum dnegan kcantikan Dini. Hanya lelaki buta yang tidak mau dengan Dini. Adam juga lelaki normal yang kagum akan kecanytikan dan kemolekan tubuh seorang wanita.
"Bukan begitu Bu. Adam hanya kasihan," jawab Adam sekenanya kembali. Jawabannya tidak sesuai dengan isi hatinya.
__ADS_1
"Kamu yakin? Tidak suka dengan Dini? Kamu yakin tidak mempunyai perasaan apa-apa dengan Dini?" tanya Mita pelan menatap lekat kedua mata Adam hingga Adama malah menjadi salah tingkah sendiri mendapat perlakuan tidak biasa itu dari Mita, Ibunya sendiri.
Adam mencoba menenangkan diirnya dan menggelengkan kepalanya dnegan pasrah.
"Aku hanya menganggap Dini sebagai adik saja. Tidak lebih. Wajar jika aku cemas terhadap adikku sendiri," ucap Adam pelan.
"Yakin hanya di anggap sebagai adik?" tanya Mita sedikit menggoda Adam.
Adam mengangguk pelan walaupun memang jawaban anggukan itu tidak sesuai dengan keinginan hatinya.
"Ya ... Hanya sebatas adik saja," ucap Adam lirih tanpa ada rasa semangat.
"Kamu suka kan dnegan Dini? kamu bahkan lebih suka dengan Dini di bandingkan dengan Zya? Coba jawab jujur. Ibu ini Ibumu, yng melahirkanmu, jadi hatimu berbohong itu ibu tahu, Adam,' ucap Mita menjelaskan.
Adam merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah itu dan meletakkan kepalanya di pangkuan Ibunya. Mita, Ibunya itu memang tidak pernah bisa di bohongi.
"Tapi, Ibu hanya ingin Adam bersama Zya, bukan? Adam hanya ingin menjadi anak baik yang bebakti kepada Ibunya. Hanya itu," ucap Adam tiba-tiba dengan pelan.
Adam hanya beharap Ibunya paham dnegan perasaannya saat ini.
Tangan Mita mengusap kepala Adam dengan lembut. Jari jemarinya terus menyusuri rambut lebat Adam sambil merapikan rambut itu. Sudah lama sekali, Adam tidak bermanja-manaj sepertiini dnegan Mita, Ibunya karena kesibukan Adam di luar kota. Ada perasaan rindu yang kini kembali lagi. Rasanya Mita ingin kembali lagi di masa itu. kejadian ini sama seperti kejadian beberapa puluh tahun lalu. Saat itu malam sudah larut, Suami Mita baru aja pulang dari kantor dan entah kenapa satu hari sebelum kejadian naas itu merenggut nyawa Suaminya. Suaminya bermanja-manja seperti yang dilakukan Adam.
Kedua mata Adam yang sama persis dengan kedua mata mendiang suaminya dengan bulu mata yang begitu lentik membuat lelaki itu semakin tampan dan menawan.
"Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu Adam. Ibu memang belum mengenal Zya dengan baik. Ibu hanya melihat sosok Zya saja. Mengenal kedua orang tuanya pun tidak. Ada keraguan sebenarnya di ahti Ibu, tapi Ibu berusaha tidak ebrpikir negatif. Zya sangat rajin datang ke majelis untuk memperdalam ilmu agamanya. Zya lulusan pesantren, sikapnya baik, walaupun kadang Ibu melihat ada sosok lain di dalam diri Zya. Tapi, Ibu tidak terlalu memikirkan itu," ucap Mita pelan.
"Sebenarnya Ibu menjodohkan Adam dengan Zya atas dasar apa?" tanya Adam tiba-tiba saat masih berada dalam pangkuan Mita, Ibunya.
__ADS_1
Mita menatap Adam dari arah samping. Tangannya terus mengusap lembut kepala Adam.