Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
TAK INGIN LAKUKAN


__ADS_3

"Assalamualaikum ...." sapa Hany dengan wajah berbinar. Entah kenap pagi ini ia nampak sangat bersemangat dan bahagia.


Hanafi pun menoleh ke arah pintu kamar yang di buka oleh Hany dan menatap Hany yang membawa satu nampan ke dalam kamar itu.


"Kamu dari mana, Sayang?" tanya Hanafi pelan sambilmenghampiri Hany.


Hany hanya tersenyum lalu membawa sarapan pagi buatannya ke atas meja. Ia lalu menarik tangan Ustad Afi untuk duduk di sofa dan mencicipi apa yang ia buat. lalu, mengajak suaminya itu duduk bersama dan ia sodorkan kopi hitam.


"Mas Afi suka kopi kan? Ini cobain buatan Na, enak gak? Udah pantes belum jadi istri?" tanya Hany dengan penuh percaya diri.


Hanafi tersenyum manis.


"Terima kasih, Sayang," ucap haafi lembut. Ia mengambil secangkir kopi itu dan mulai menyeruput dengan sangat nikmat. Kopi itu sudah berada di dalam mulutnya dan rasa ini terasa biasa saja, dan tidak ada bedanya dengan kopi yang di buat oleh asisten rumah tangganya di rumah setiap pagi.


Melihat wajah Hanafi yang mulai nampak berpikir pun membuat Hany juga ikut bertanya -tanya dalam hati. Apakah suaminya suka atau tidak. Apakah semua ini akan sia -sia.

__ADS_1


"Enak? Mas Afi suka kan?" tanya Hany dengan suara lantang. Ia benar -benar penasaran dengan apa yang akan di ucapkan Hanafi.


Lagi -lagi Hanafi hanya tersenyum lebar. Raut wajahnya nampak datar sekali. Lalu meletakkan cangkir kopi itu di atas meja kembali.


"Enak. Rasa kopi pada umumnya. tapi jelas, pasti lebih enak kalau smeua itu buatan kamu sendiri, buatan tangan kamu, takaran kamu, dan bukan yang sperti biasa, kalau resep biasa, pasti Mas akan bialng ini rasanya biasa saja, gak ada yang spesial," ucap Hanafi pelan. Hanafi tahu, kopi itu racikan asistennya. Padahal Hanafi belum tentu suka dengan racikan yang biasanya. Ia hanya ingin Hany berani mencoba, membuat citra rasa tersendiri untuk suaminya.


Wajah Hany langsung berubah cemberut. Ia pikir, Hanafi akan memujinya ternyata tidak sama sekali. Malah di bilang smeua biasa saja.


Hanafi hanya menoleh ke arah Hany yang sedang kesal. Lalu mengambil satu mangkuk salad buah dan mencium aroma lain pada makanan itu. Ia tidak mengaduk tapi langsung menyendokkan sendok makan ke adalam salad buah itu dan mulai menyuapkan ke dalam mulutnya. Perlahan buah -buahan itu di kunyah menjadi satu dan memberikn rasa yang luar biasa, di tambah yoghut, susu dan keju. Ada satu rasa yang berbeda di sini, ya, rasa madu.


Hny pun langsung terduduk dan tersenyu, puas.


"Benarkah enak?" tanya Hany memastikan.


Hanafi megangguk pelan.

__ADS_1


"Iya. Enak banget. Mas bawa ya? Boleh? Buat teman di mobil. Mas takut rindu sama kamu," ucap Hanafi pelan.


Wajah Hany memerah malu.


"Boleh Mas. Syukurlah kalau suka," jawab Hany dengan senyum bahagia.


"Oke. Mas bungkus ya? Mas mau pamit, Mas sharus berangkat pagi -pagi, biar bisa pulang cepat. Kamu baik -baik di rumah dan di sekolah," titah Hanafi pelan.


"Ekhemm ... Na, berangkat sekolahnya boleh pakai mahar?" tanya Na lembut kepada suaminya.


Hanafi hanya mengangguk kecil.


"Boleh, Sayang. Itu kan milik kamu, kamu boleh pakai kapan pun kamu mau, mau ke sekolah? Atau mau ke rumah Kakek Bram? Tapi kaau mau ke rumah Papah dan Mamah, harus sama Mas, tidak boleh sendiri. Cukup di dalam kota ini saja. Paham?" tanya Hanafi pelan.


Hany hanya mengangguk kecil dan menjawab, "Na paham Mas."

__ADS_1


__ADS_2