Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
HANYA SEMENTARA


__ADS_3

Windu sudah duduk di ruang tunggu. Mama Lena sedang mendapatkan pemeriksaan intensif dari dokter spesialis jantung. Tangannya sedikit memijat kepalanya yang agak pusing.


Entah memang kondisinya yang kurang baik atau memang pikiran Windu yang akhir -akhir begitu terasa berat dan memikirkan terlalu fokus. Terlebih urusan nasib pernikahannya dengan Wibisono.


"Anda keluarga pasien Lena?" tanya seorang perawat kepada Windu.


"Ah ... Iya. Benar sekali. Bagaimana keadaannya? Apa ada yang harus saya lakukan?" tanya Windu seolah peka dengan keadaan Mama Lena.


"Anda di suruh ke ruang dokter spesialis jantung. Ada hal yang harus di bicarakan dan sangat penting sekali. Itu ruangannya, Nona," ucap perawat itu sambil menunjuk ke arah ruang kerja dokter spesialis jantung yang mengurus Mama Lena.


Windu hanya mengangguk kecil dan berjalan menuju ruangan itu. Pelan di ketuk ruangan itu dan setelah mendengar suara jawaban dari dalam, windu pun membuka pintu itu dan masuk kedalam ruangan kerja milik dokter yang menangani Mama Lena.


"Permisi dokter. Saya keluarga pasien Mama Lena," ucap Windu sedikit ragu menjawab dengan jawaban itu.


Windu tak punya pilihan lain, selain mengaku sebagai saudara.


"Sini duduk sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan tentang kondisi pasien Lena," ucap sang dokter sambil membenarkan kaca mata tebalnya yang sedikit melorot ke bawah.


Windu pun duduk tepat di depan sang dokter. Ia berusaha tenang dan menyimak semua penjelasan dokter itu.

__ADS_1


"Jadi begini. Ibu Lena memang mengidap penyakit jantung akut. Jadi, beliau tidak bisa mendengar hal buruk di telingannya, perasaannya langsung cemas dan jantungnya terus berdegup keras. Ibu Lena memang pasien yang paling sering di rawat di rumah sakit ini setelah Tuan Arga. Mereka memang keluarga yang sangat kaya raya, tapi keluarganya terpecah belah," ucap sang dokter menjelaskan semua sejelas -jelasnya.


Windu hanya bisa mengangguk paham. Dalam hatinya sedang berkecamuk tak jelas. Ia benar -benar tak kuasa menahan rasa iba di dalam hati.


"Lalu, Mama Lena harus di rawat juga?" tanya Windu lirih.


"Iya. Harus. Karena ia juga butuh istirahat, tekanan darahnya tinggi sekali. Sepertinya ia habis mendengar sesuatu yang mengejutkan dan membuat dirinya cemas sekali," ucap sang dokter dengan suara pelan.


"Baik. Saya boleh menemui Mama Lena?" tanya Windu pelan.


Dokter itu tersenyum dan mengangguk kecil, "Bisa, dengan senang hati. Tapi, jangan kau ajak bicara dulu."


Windu hanya bisa mengangguk pasrah dan berjalan menuju pintu untuk keluar ruang kerja itu dan menemui Mama Lena.


Windu menggapai tangan Mama Lena dan mengusap lembut punggung tangan itu.


Ia menyesal telah membuat Mama Lena menjadi seperti ini karena kejujurannya.


"Maafkan Windu, mungkin kata -kata Windu sudah menyakiti hati, Nyonya Lena. Windu hanya ingin jujur dengan keadaan ini, agar semuanya tidak menjadi rumit karena sebuah drama," ucapan Windu terhenti. Air matanya mulai mengalir di pipi mulusnya. Suasanan hatinya makin tak menentu. Rasa kesal pada dirinya sendiri, rasa takut karena sesuatu sedang terjadi pada Mama Lena dan rasa cemas karena Mama Lena tentu akan membencinya di saat sadar nanti.

__ADS_1


Saat ini, Windu hanya bisa pasrah saja. Ia tak mungkin bisa menjalani semuanya tanpa sesuai dengan kenyataan.


Beberapa titik air matanya jatuh ke tangan Mama Lena dan membasahi punggung tangan itu hingga wanita paruh baya itu sedikit bergerak. Perlahan Mama Lena membuka matanya dengan lebar. Ia melihat Windu yanag berdiri di samping ranjang rawatnya kali ini. Pandangannya memang masih sedikit kabur tapi jelas sekali ia melihat sosok Windu saat ini.


"Ke -kenapa kau tega seklai, Windu. Aku sudah menaruh harapan begitu besar kepadamu. Aku menyukai kamu hanya lewat cerita Arga. Aku pikir kamu perempuan baik dan berbeda dari yang lainnya. Tapi, pada kenyataannya, semua sama saja. Tidak ada satu pun wanita yang bisa menerima kekurangan Arga. Mereka hanya dtang dan pergi sesuk hati mereka karena melihat kelebihan Arga, harta kekayaan yang di miliki Arga," ucap Mama Lena dengan suara tegas namun terdengar sesegukan. Rasanya miris sekali.


Windu hanya terdiam mendengarkan ungkapan rasa kecewa yang di rasakan Mama Lena saat ini.


Tangannya masih mengusap lembut punggung tangan paruh baya itu dan menghapus setiap titik air mata yang jatuh agar punggung tangannya tetap kering dan tak basah.


"Kau tahu, betapa semangatnya Arga setiap menceritakan sosok gadis yang bernama Windu. Seolah keduanya memiliki rasa yang sama, saling mencintai dan saling menyayangi. Dan Saya? Sebagai orang tua begitu antusias, di saat putra semata wayangnya membutuhkan sesuatu penyemangat untuk memperpanjang hidupnya. Tapi, hari ini benar -benar mengejutkan sekali. Mungkin bagi Arga dan Saya tentunya sebagai Mama kandungnya, yang mengandung dan melahirkan Arga. Ada rasa sakit di bagin dada, nyeri sekali, Windu. Tapi, Saya mengucapkan banyak terima kasih, kamu sudah mau jujur kepada saya tentang suatu kebenaran. Saya kagum dengan kejujuran kamu, saya kagum dengan ketulusan kamu menggagap Arga sebagai teman. Kamu tahu? Hanya kamu satu -satunya perempuan yang bertahan berteman dengan Arga, makany saya itu sangat ingin ketemu kamu. Mungkin karena memang kamu bukan siapa -siapa Arga, kamu tidak mau di ajak Arga ke rumah. Arga menutupi semuanya dengan baik. Sikap Arga pun mulai berubah menjadi sosok pria yang lebih hangat dan tidak dingin seperti biasanya," ucap Mama Lena sambil menerawang ke arah atas. Ia mengingat Arga yang berubah ke arah yang lebih baik.


Tangan Windu mulai ******* -***** pelan kedua punggung tangan Mama Lena seperti memijat ke arah jarum jam.


Air mata Mama Lena pun mulai tak terbendung dan mulai luruh menitik di sudut ekor matanya.


Windu pun tak kuasa menatap wajah Mama Lena. Ia lebih banyak diam dan menunduk.


"Ma -maafkan Windu, Nyonya. Windu tidak tahu jika jadi sepelik ini masalahnya," ucap Windu pelan.

__ADS_1


"Sudahlah. Semua sudah terjadi. Tidak ada yang perlu di salahkan. Niat Arga baik untuk menyenangkan Mama, tapi niat kamu pun baik agar tidak ada salah paham di kemudian hari. Maafin Mama, jika sudah membuat kamu resah karena sikap Mama yang sempat kecewa tadi. Mama sekarang hanya ingin smebuh, dan tidak mau memikirkan hal -hal yang tidak penting. Tapi, kalau boleh Mama minta sama kamu. Tolong tetap jadi teman baik bagi Arga," pinta Mama Lena kepada Windu.


Windu pun tersenyum lebar. Kalau hal ini mungkin masih bisa di tolerir. Windu tetap menganggap Arga seorang sahabat, seorang kakak. Dan tidak lebih dari itu.


__ADS_2