Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
DRAMA


__ADS_3

Windu menoleh ke arah Mama Lena. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan Arga. Namun ia tak kuasa, karena genggaman itu sangat kuat sekali. Mau tidak mau Windu harus menolak secara halus karena situasi dan kondisinya tidak memungkinkan untuk memerankan suatu peran yang tak mungkin bisa ia perankan di dunia nyata.


Secara sadar, Windu adalah seorang istri orang. Tidak mungkin ia melakukan hl gila walaupun itu suatu peran drama. Bagaimana jika Mama Lena tahu? Tentu ia akan sangat arah besar bahkan akan membenci Windu seumur hidupnya. Mana ad seorang Ibu yang tega melihat anaknya di sakiti?


"Nyonya salah besar," jawab Windu pelan sekali.


Mama Lena menatap tajam ke arah Windu dan Arga secara bergantian. Arga pun nampak belingsatan kebingungan. Arga langsung menatap Windu tajam dengan sesekali mencubit telapak tangan Windu dengan sangat keras hingga Windu pun meringis kesakitan tanpa berteriak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia berusaa profesional.


"Apa maksud kamu, Windu?" tanya Mama Lena ketus sambil menghampiri Windu.


Tatapannya semakin tajam dan menakutkan seolah Mama Lena ingin menerkamnya.


Windu hanya membalas tatapan itu dengan tatapan santai dan bersahabat. Tak ada satu pun rasa takut di dalam hatinya. Dirinya tak mau terjebak pada keadaan.

__ADS_1


"Gak ada maksud apa -apa, Nyonya. Saya bicara apa adya," ucap Windu santai.


"Ndu ...." panggil Arga lemah. Ia tak menyangka Windu tidak mau membantunya di sisa akhir hidupnya.


Windu tetap pada pendiriannya ia sengaja tak menoleh ke arah Arga. Ia tak mau melihat attapan Arga yang tentu meminta untuk di kasihani. Bukan Windu tak mau menolong, kalau untuk urusan hati dan perasaan tentu tidak akan bisa membantu. Apalagi ini menyangkut hubungan emosional dengan orang lain. Hubungannya dengan Mama Lena dan Wibisono, orang -orang yang tentu ada keterkaitannya, walaupun secara tidak langsung.


"Diam Ga. Mama harus luruskan ini. Maksud kamu apa Ndu? Kalian ini pacaran kan?" tanya Mama Lena langsung menegaskan hubungan keduanya.


"Tidak Nyonya. Kami berdua tidak ada hubungan apa -apa kecuali teman,' ucap Windu lantang.


"Bohong Ma. Arga dan Windu sudah menjalin hubungan selama satu tahun terakhir ini. Windu memang suka begitu, dia suka malu mengakui," ucap Arga cepat menangkis ucapan Windu.


"Ga. Kita cuma teman. Jangan seperti ini. Aku akan selalu ada menemani kamu, Ga. Tapi gak perlu mengakui aku sebagai kekih kamu. Aku ini istri orang," ucap Windu keras.

__ADS_1


Mama Lena terkejut bukan main dan memegang jantungnya. Bukan hanya terkejut saja, ucapan Windu benar -benar tidak bisa di terima dengan akal sehatnya. Seolah ada yang menusuk tajan di bagian dada menmbus jantung.


"Ma ... Mama ...." panggil Arga dengan suara lemah. Ia sendiri tak bis aberbuat apa -apa karena sedang dalam perawatan.


Windu jelas meyaksikan Mama Lena seperti orang sedang sekarat. Windu langsung pegi keluar kamar dan mencari pertolongan dnegan memanggil perawat di ruang jaga.


Mama Lena langsung mendapat pertolongan pertama dan langsung di masukkan ke ruang IGD.


"Ga. Aku tinggal dulu. Aku bantu TanteLena dulu. Maaf sudah buat runyam, tapi ini smeua demi kebaikan kita bersama. Jangan sampai ada kebohongan lain di antara kita. Itu gak baik. Apalagi, hubungan aku dan Mas Wibisono sedang kurang baik. Kalau memang aku sudah resmi bercerai silahkan. Tapii, tib -tiba saja aku mengurungkna niatku untuk bercera dengan Mas Wibisono. Aku ingin lanjutkan mengarungi bahtera ini hingga aku benar- benar tidak mampu lagi untuk melanjutkannya. Maafkan sikap aku barusan. Bukan untuk mencari masalah, tapi ini semua demi kebaikan kita," ucap Windu pelan menjelaskan.


Windu tak mau menatap wajah Arga. Ia tak mau melihat lelaki baik itu bersedih. Kalau kondisi dan situasinya berbeda pasti akan membuat Windu lebih berpikir ke arah lain.


Dengan cepat Windu melangkahkan kakinya menuju ruangan IGD sesuai intruksi perawat yang menolong Mama Lena tadi.

__ADS_1


__ADS_2