Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
15


__ADS_3

Dini hanya terdiam termangu. Otaknya masih berpikir keras emncari solusi yang matang. Hidupnya yang tidak mau lagi terjerat dengan masalah seperti di masa lampau tetap membuat Dini yakin harus pergi melarikan diri.


"Hei, Nona Muda? Anda mendengar ucapan saya kan?" tanya Denis pelan.


Dini pun menoleh ke arah Denis dan mengangguk pelan.


"Kepalaku tiba-tiba sakit. Akhir-akhir ini tubuhku lemas," ucap Dini lalu berpura-pura menyender ke arah Denis.


"Lho ... Nona Muda?" tanya Denis yang langsung panik melihat Dini yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.


"Kenapa Dia?" tanya Lelaki tua itu kepada Denis.


Denis menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Saya tidak tahu Tuan. Memang sejak pagi, Nona Dini tidak mau makan dan muntah-muntah terus," ucap Denis mengingat kejadian pagi yang melihat Dini sedang mengeluarkan isi perutnya di wastafel dekat ruang makan.


"Apa mungkin gadis ini sedang mengandung?" tanya Lelaki tua itu yang ikut cemas dengan keadaan ini.


Denis sejak tadi menepuk-nepuk pipi gembil Dini, berusaha untuk membuat sadar wanita muda, majikannya itu.


"Saya kurang tahu jika masalah itu. Kalau pun mengandung, Nona Dini kan memang sudah menikah dengan Taun Herman, jadi tidak ada masalah," ucap Denis pelan.


Lelaki tua itu memelintir kumis tebalnya yang seperti Pak Raden itu dengan pelan untuk menghilangkan rasa paniknya.


Denis merebahkan tubuh itu dan mencoba mencari bantuan atau apapun yang bisa membantu membangunkan Nona Mudanya itu.


"Mau kemana kamu, Anak Muda?" tanya Lelaki tua itu pelan. Dirinya takut sekali di teriaki sebagai lelaki bejat, walaupun sesungguhnya memang iya.


"Mau mencari bantuan atau ruang UKS? Atau di bawa ke klinik? Atau bagaimana, saya malah bingung," ucap Denis ragu dan sedikit cemas dengan keadaan Dini.


Dini sendiri masih memejamkan kedua matanya dan berpura-pura masih tidak sadarkan diri. Otaknya masih mencari cara untuk kabur dari tempat ini, hingga Denis dan Rosa tidak bisa menemukannya kembali.


Lelaki tua itu hanya menatap ke arah Denis dengan raut wajah yang juga tak kalah cemas seperti sedang menunggu istri yang sedang melahirkan.


"Sudahlah tinggalkan saja. Nanti kalau ada apa-apa kita yang repot!" ucap Lelaki tua itu yang semakin cemas. Pandangannya berkeliling ke seluruh penjuru sudut koridor itu. Melihat dengan jelas, adakah orang yang sedang lewat atau memperhatikan dirinya.

__ADS_1


"Apa?! Meninggalkan Nona Dini tergeletak di kursi panjang seperti ini? Dia majikan saya. Tidak mungkin saya setega itu. Lalu, apa kata Tuan Herman, jika saya lalai menjaga istri sirinya ini. Lalu, kalau benar Nona Dini mengandung, makasaya ikut berdosa meninggalkannya," ucap Denis pelan menjelaskan.


Denis tidak segila itu, meninggalkan Nona Dini sendirian di tempat itu dalam keadaan tidak sadar.


"Hah!! Herman saja sudah tidak peduli lagi dengan wanita itu. Nyatanya tubuhnya di jual demi saham!! Apakah itu peduli?" gertak Lelaki tua itu kesal.


Denis menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tuan Herman tidak seperti itu!! Ini pasti ada seseorang yang menyetirnya. Sya tahu, betapa cinta dan sayangnya Tuan Hermana kepada Nona Dini," ucap Denis pelan.


"Ah ... Sudahlah. Beri tahu aku jika Nona Mudamu ini sudah siuman. Aku sudah tidak tahan lagi mencicipi tubuhnya yang seksi ini," ucap Lelaki tua itu dengan senyum smirknya.


Lelaki tua itu langsung pergi begitu saja meninggalkan Denis dan Dini di koridor sepi itu. Entah pada kemana para mahasiswa dan mahasiswinya.


Denis hanya terduduk tepat di samping Dini, tidak tega meninggalkan gadis itu sendirian di tempat itu. Tadinya Denis ingin mencari bantuan, namun di urungkan.


Dini masih memejamkan matanya. Keputusannya sudah bulat untuk tetap pergi dari kehidupan Herman.


Satu jam kemudian. Dini membuka matanya. Sudah tidak tahan berpura-pura dan Denis masih saja tetap setia menemani Dini di kursi panjang itu.


Sejak tadi Denis galau melihat Dini yang tak kunjung sadar dari pingsannya.


"Denis .... Aku dimana?" lirih Dini berucap sambil memegang kepalanya.


"Nona Muda saat ini masih berada di kampus," jawab Denis pelan.


Dini pura-pura ingin mengeluarkan isi perutnya dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Aku ingin muntah, rasanya mual sekali dan perutku rasanya begitu begah," ucap Dini lirih. Wajahnya dibuat sesendu mungkin.


"Nona Muda ingin apa? Biar aku belikan?" tanya Denis dengan pelan.


Dini menatap lekat kesungguhan dan keaikan Denis. Tapi, hanya ini cara satu-satunya yang bisa membuat Dini terlepas dari jeratan takdirnya.


"Aku ingin teh manis panas dan bubur," ucap Dini tiba-tiba.

__ADS_1


"Oke. Saya belikan. Nona Dini disini dahulu. Tunggu sampai saya datang," ucap Denis dengan suara pelan menitah Nona Mudanya itu.


Dini mengangguk pelan. Dalam hatinya hanya tersenyum bisa membuat Denis pergi sesaat dan Dini aka kabur selama-lamanya. Kesempatan ini tidak akan datang lagi.


"Iya. Aku tunggu di sini. Tubuhku rasanya sangat lemas sekali. Sepertinya aku harus istirahat total," ucap Dini pelan.


"Ya sudah. Aku pergi dulu ke kantin untuk membelikan pesanan Nona Muda," ucap Denis pelan.


Denis bangkit berdiri dan berjalan menuju arah kantin kampus itu.


Dini melihat dari kejauhan dan memastikan Denis benar-benar sudah menjauh darinya. Dini pun bangkit berdiri dan keluar melalui lobby samping.


Dengan gerak cepat Dini langsung berlari ke arah parkiran motor menuju depan jalan. Lalu, menyetop angkutan umum dan menaikinya.


Entah bagaimana nanti. Dini hanya berpikir pergi dari kehidupan Herman. Dirinya tidak terima di jadikan tumbal untuk pemuas hasrat setiap kolega Herman apapun alasannya.


Raut wajah Dini pucat pasi. Dirinya jadi trauma setiap melihat lelaki paru baya atau lelaki tua dengan gaya centil menggoda.


Kedua matanya melihat sekeliling orang-orang yang berada di dalam angkutan umum itu dan semuanya menatap Dini seolah sedang mendapatkan mangsa baru. Semua penumpang itu lelaki dan tidak ada yang perempuan, dan semua penumpang itu menatap Dini seperti singa yang tengah lapar dan siap memangsa Dini kapan saja.


Tubuh Dini mendingin dan merasa sangat takut.


"Angkutan ini ke arah mana ya Pak?" tanya Dini dengn suara bergetar karena takut.


Jujur saja, Dini tida pernah naik angkutan umum. Sejak masih sekolah, Dini selalu diantar pulang pergi oleh Vian, sepupunya dengan permintaan pamrih di malam hari. sebenarnya Dini merasa keberatan dengan semua ini, tapi, mau bagaimana lagi.


Supir angkot itu hanya melirik sekilas ke arah Dini dan tersenyum lebar penuh arti.


Dini semakin cemas dan panik. Suasana di angkot itu semakin menegang dan terasa sangat mencekam.


Mana, jalanan yang di lewati semakin sepi dan penuh sawah-sawah. Entah kemana angkutan ini mengarah tujuannya.


"Sebenarnya ini angkutan mau kemana?!" teriak Dini dengan suara lantang dan penasaran.


Tapi .... Semua orang hanya tersenyum dan tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Dini yang terlihat sangat takut.

__ADS_1


__ADS_2