
Keduanya sama -sama terdiam sampai di tempat tujuan. Hari inikeduanya akan brsenang -senang dan melupakan masalahanya masing -masing.
"Yuk. Sudah sampai," titah Arga mengajak Windu segera turun dari mobilnya.
Windu tersenyum sumringah. Lalu turun dari mobil itu.
Keduanya sudah masuk ke dalam arena taman bermain. Melihat beberapa wahana dengan padat pengunjung.
"Kita mau jalan -jalan dulu. Cari cemilan. Mau makan berat. Atau mau naik wahana dulu?" tanya Arga dengan antusias. Ia tahu moment seperti ini tidak akan pernah terulang lagi dalam hidupnya.
"Ekhemm ... Karena aku lapar. Kita cari cemilan dulu, baru naik wahana terus kita baru makan siang. Gimana? Kalau langsung makan berat, sepertinya akan mual dan malah akan muntah," ucap Windu menjelaskan.
"Oke. Kita cari cemilan viral," teriak Arga yang begitu senang.
"Ga ... Sosis mozarella tuh," ucap Windu tersenyum.
"Boleh. Kamu beli boba di sebelah," titah Arga pelan.
"Siap Bos," ucap Windu pelan.
Keduamya berpisah di antara kedai. Windu membeli minuman dan Arga membeli cemilan.
__ADS_1
'Andai kita bisa bersama. Andai aku memiliki waktu yang banyak bisa menemanimu. Aku ingin menjadi pelipur kesedihanmu. Kau harus tahu, Wibisono juga masih mencintaimu, Windu. Dia berharap kamu memaafkannya. Tapi, aku mau egois. Aku mau kamu bersamaku saat ini. Walaupun aku tahu, selamanya kamu hanya menganggapku sebagai teman. Tapi, itu sudah cukup. Menjadi seseorang yang di kenang baik,' batin Arga di dalam hati.
Arga hanya bisa tersenyum kecut menatap pungung Windu yang terus menghilang dari pandangannya.
Tatapannya terhenti pada satu titik kefokusan dan menggelap begitu saja. Tubuh Arga pun tergeletak di jalanan.
Suasana ramai dan teriakan keras dari beberapa pengunjung yang melihat Arga terjatuh. Windu belum sadar jika Arga terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Windu menerima dua minuman boba dan kembali menuju tempat mereka bertemu.
"Ada apa?" tanya Windu dengan penasaran. Ia langsung masuk ke dalam barisan orang -orang yang mengerubungi tempat itu.
"ARGA!!" teriak Windu dengan suara keras.
"Ya. Dia temanku. Tolong bantu bawa ke rumah sakit," ucap Windu yang semakin panik.
Windu menatap wajah pucat Arga yang tidak sadarkan diri. Dari hidung Arga keluar darah seperti mimisan dalam jumlah banyak.
Windu tidak pernah melihat Arga selemah ini.
Sudah satu jam. Windu bolak balik berada di depan ruang IGD. Windu menunggu dokter yang masih memeriksa Arga.
__ADS_1
"Kamu keluarga pasien yang tadi tak sadarkan diri?" tanya salah satu dokter laki -laki yang sejak tadi memeriksa Arga.
"Ya, saya temannya," jawab Windu dengan tegas. Wajahnya terlihat panik sekali.
"Bisa kita ngobrol sebentar?" titah dokter itu pelan.
"Bisa, dok," jawab Windu lantang.
Dokter itu mengajak Windu masuk ke dalam ruangan kerjanya. Di sana, Dokter itu menjelaskan, bahwa Arga adalah pasiennya. Ia mengidap kanker otak stadium empat.
Seharusnya, hari ini adalah hari dimana ia harus cek laboratorium. Karena mulai bulan depan, Arga harus mulai kemoterapi sebanyak dua belas kali. Dia selalu mengulur waktu sejak kanker otak sudah muali merusak seluruh jaringan sel otanya.
Tubuhnya lemah dan tak berdaya. Ia tidak boleh lelah, ia tidak boleh terlambat makan, ia tidak boleh makan sembarangan dan ia tidak bisa berjemur di bawah sinar matahari terlalu lama, karena akan membuatnya pusing dan akhirnyatidak sadarkan diri seperti tadi.
"Lalu? Saya harus bagaimana dokter?" tanya Windu yang panik dan bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apalagi.
"Buat Arga bahagia. Denga bahagia, umurnya bisa di selamatkan," ucap dokter itu tegas.
Deg ...
Windu menutup mulutnya dengan satu tangannya. Ia ingat ucapan Arga tadi siang. Arga ingin ke Kota Trocadero dan naik kereta gantung.
__ADS_1
'Apakah itu permintaan terakhirnya?' batin Windu tak kuasa menahan air matanya.