
"Atas dasar apa Bu?" tanya Adam pelan mengulang kembali pertanyaannya karena Mita tidak menjawab.
Lagi-lagi Mita hanya terdiam. Tidak seharusnya Mita menyuruh paksa Adam mengikuti keinginannya. Adam sudah dewasa, tentu sudah bisa memilih dan memilah mana yang baik untuk diriinya da mana yang tidak baik. Mungkin juga Adam sudah memiliki pilihan lain yang lebih 'srek' dnegan hatinya. Tugas Mita hanya memberikan saran dan merstui, cuma itu saja.
"Bu?" tanya Adam kembali mengulang. Adam meluruskan tubuhnya dan menatap lekat bola mata Mita yang terlihat sedih.
Adam mnangkap ada sesuatu yang berbeda dari Mita, Ibunya. Kini Adam menegakkan tubuhnya dan memeluk Mita, Sang Ibu dnegan sangat erat.
"Maafkan Adam, Ibu. Adam hanya bertanya, kalau keputusan Ibu adalah yang terbaik dan demia kebahagiaan Ibu. Adam bisa apa? Hidup Adam hanya ingin melihat Ibu bahagia," ucap Adam pelan dan mengecuk pipi kiri Mita.
Betapa sayangnya Adam dnegan Mita, Sang Ibundanya. Apapun permintaan Mita akan sellau di turutinya tanpa terkecuali. Adam hanya ingin membuat Mita merasa d hargai dan sayangi serta di perhatikan.
Mita menatap Adam dengan lekat lalu menagkupkan tanganya untuk memegang wajah Adam.
"Ibu yang seharusnya minta maaf Adam. Ibu hanya ingin yang terbaik, tapi Ibu sadar. Pilihan terbaik Ibu, belum tentu terbaik untuk kamu,nak,' ucap Mita pelan sambil menampilkan senyum indahnya.
Kerut di wajah Mita yang mulai terlihat di sekitar kening dan di sudut matanya tidak bisa dibohongi.
"Ibu, Jangan seperti ini. Adam bukan anak kecil lagi, yang di nasehati dnegan memegang wajah Adam seperti ini. Adam seperti bayi besar, lihat usia Adam sudah tiga puluh dua tahun," ucap Adam pelan dan berpura-pura kesal.
Mita pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Adam.
"Itu ... Karena umurmu itu sdah sangat banyak dan belum juga punya pendamping. ibu kan harus turun tangan," ucap Mita pelan sambil mengedipkan satu matanya.
"Ya, Adam mengerti maksud baik Ibu. Kalau memang itu yang terbaik, Adam nurut aja dengan kemauan Ibu," ucap Adam pasrah.
"Tapi, Pilihan ada di tanganmu Adam. Ibu tidak mau memaksakkan kehendak Ibu. Kalau memang ada yang cocok, cepat kenalkan pada Ibu," ucap Mita pelan.
"Jadi tidak perlu dengan Zya kan?" tanya Adam memastikan.
Mita hanya mengangguk pelan. dari awal Mita tahu, Adam kurang merespon Zya dengan baik. Mita memang tidak tahu apa alsannya, tapi yang jelas kenymanan hati itu lebih penting karena keduanya yang mau menjalani.
__ADS_1
"Ibu bebaskan untuk pilihan pendampingmu. Tidak harus Zya, Dini pun boleh asal Dini tidak terikat pernikahan dengan siapapun. Ibu akan menerima jika kamu memang suka," ucap Mita pelan.
Senyum Adam merekah. Ucapan Mita bagaikan kembang setaman yang bersamaan merekah. Angin segar melgakn hati Adam yang sejak tadi berkbut hitam.
"Ibu yakin bisa menerima Dini?" ucap Adam dengan penuh semangat sampai lupa kalau Ibunya hanya sedang mencari celah untuk kejujuran Adam.
Mita tersenyum lalu tertawa.
"Benar kan tebakan jitu Ibu. kamu menyukai Dini dibandingka Zya. Apa yang membuatmu tertarik pada Dini dan apa yang membuatmu tidak tertarik pada Zya?" tanya Mita pelan dnegan nada yang cukup penasaran.
Selama ini Adam tidak pernah sekali pun membawa teman perempuannya, baik hanya teman biasa, sahabat ataupun seorang yang spesial di hati Adam. Adam adalah sosok lelaki yang cuek dan terkesan tidak peduli.
Makanya kemarin, Mita cukup kaget saat melihat Adam membawa Dini ke rumah ini. Tentu bukan hanya alasan itu saja. Adam bisa jadi sudah jatuh hati pada gadis cantik itu.
Wajah Adam merengut saat tahu dirinya terjebak dalam pertanyaan Sang Bunda.
"Ibu! Kenapa sih harus menjebak Adam dengan pertanyaan itu," ucap Adam kesal.
"Ibu hanya ingin tahu isi hati kamu, Adam. ternya benar, Kamu itu suka dengan Dini bukan sekedar sayang sebagi adik," ucap Mita tertaa.
"Bukan tidak suka. Ibu perlu mengenal Dini lebih dalam lagi. Kamu tahu, Dini memang positif hamil. Kamu bisa menerima itu?" tanya Mita pelan. Ini bukan urusan mudah, kalau hanya perkara Dini sudah tidak perawan lagi tidak jadi masalah, karena yang terpenting ikhlas menerima. Tapi kini, di dalam perut Dini ada janin yang tumbuh kembang. Namun, Adam tidak tahu dnegan siapa Dini mengadung. Siapa Ayah dari kandungannya itu.
"Tapi, Kalau memang Dini korban. apa Ibu mau menerima Dini sebagai menantu Ibu?" tanya Adam kemabli dengan rasa penasaran.
Adam hanya ingin wanita pilihannya itu bisa di terima baik oleh Ibunya.
"Apa alasanmu lebih memilih Dini dibandingkan Zya? Nanti Ibu akan jawab pertanyaan kamu," ucap Mita dengan suara pelan.
"Baiklah. Adam bertemu Dini pertama kali saat berada di kampus. Tidak sengaja Dini menabrak Adam dan terjatuh. Saat Adam menolong Dini, ada getaran aneh seperti setrum saat menatap kedua mata indah itu. Itu pertama kali Adam kagum," ucap Adam pelan menjalaskan.
"Lalu?" tanya Mita kemudian penasaran.
__ADS_1
"Sewaktu Adam keluar dari kampus, Adam melihat Dini sedang menangis dan kemudia menaiki angkutan tanpa melihat jurusan angkutan itu. Sepertinya Dini di jebak," ucap Adam kemudian.
Kedua mata Mita menatap lekat pada Adam. Sejak kapan Adam, anaknya ini menjadi intel untuk mengawasi gerak-gerik seseorang.
"Terus?" ucap Mita kemudian dengan rasa penasaran.
"Adam ikuti angkutan itu dan Adam melihat mobil itu berhenti dann menyeret Dini ke pematng sawah. Adam tahu akan ada sesautu buruk terjadi kepada Dini. Adam memang tidak langsung menolongnya karena jumlah orang yang banyak dan Adam hany sendiri dengan tangan kosong. Adam berusaha mencari bantuan atau puan alat pukul untuk memukuli ketujuh lelaki bejat itu," ucap Adam lirih sambil menundukkan kepala.
"Lalu? Kamu merasa bersalah gitu? Membantu tidak tepat pada waktunya?" tanya Mita pelan sedikit menuduh.
Adam menggelengkan kepalanya pelan.
"Adam tetap turun dan masuk melalui semak belukar menuju pematang sawah itu dan akhirnya menemukan balok kayu yang panjang dan tebal. Adam bawa dengan rasa percaya diri. Adam cuma bismillah aja, mau membantu Dini. Adam berjalan menuju pematang sawah itu, dan Adam melihat beberapa orang duduk sambil menelepon dan merokok menunggu giliran untuk menggilir Dini, tapi anehnya ...." ucap Adam pelan baru mengingat ada sesuatu yang sedikit janggal dengan kejadian kemarin.
"Apa itu Adam? Apa yang aneh dari kejadian itu?" tanya Mita dengan penasaran.
Adam nampak seperti berusaha sedikit mengingat kejadian yang agak terlupakan itu.
"Ada salah satu lelaki yang bertugas untuk merekam kejadian saat Dini di gilir untuk di perkosa," ucap Adam lirih.
Sesak rasanya mengingat itu. Saat Dini sudah tidak mampu lagi berteriak karena kehabisan suara dan tenaganya.
"Apa mungkin Dini di jebak? Tapi harus sebanyak itu laki-laki yang harus menggilirnya? Itu sama saja membunuh Dini secara perlahan," ucap Mita pelan berpendapat.
Kelelahan juga bisa menyebabkan kematian. Apalagi saat ini Dini sedang hamil muda, tentu pendarahan itu di sebabkan karena kelelahan dan pikiran.
"Ada sesuatu yang tidak beres Bu. Adam memnag lagi berusaha untuk mencari informasi dari Dini, tapi Dini belum juga mau membuka jati dirinya," ucap Adam pelan.
"Kamu masih mau dengan Dini setelah apa yng telah menimpanya? Kamu yakin bisa menerima Dini dan anak yang ada di kandungnya? Itu tidak mudah Adam? Bukan Ibu tidak mnyetejui, tapi Ibu hanya ingin kamu berpikir dua kali, dan tidak menyesal di kemudian hari. Menerima Dini, wanita yang sudah tidak perawan lagi dengan kondisi sedang mengandung yang entah anak siapa. Resiko itu sangat besar. tapi, kalau kamu sanggup menerima itu semua, Ibu hanya bisa merestui dan mendukung semua keputusan kamu," ucap Mita pelan menjelaskan.
"Ibu ...." lirih Adam.
__ADS_1
"Kamu sanggup?" tanya Mita kembali dan mengabaikan panggilan Adam. Tatapan Mita tajam ke arah Adam, anak semata wayangnya.
Mita hanya tidak ingin, Adam memiliki masalah setelah ini. Batin Mita hanya merasakan akan ada sesuatu besar yang terjadi setelah ini. Baik tentang Zya ataupun Dini, keduanya seperti saling berkaitan dan juga Siska. 'Kenapa tiba-tiba nama Siska harus masuk dalam pikiranku setelah sekian lama sahabatku itu menghilang bgaikan di telan bumi. Secara tidak langsung memberikan penawaran kontrak kerja sama lagi, setelah sekian lama usaha itu ambruk dan tepuruk. Ada apa sebenarnya ini? Apaka semuanya ada kaitannya?' batin Mita berkecamuk di dalam hatinya.