Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
26


__ADS_3

Herman saat ini berada di dalam ruangan yang sangat gelap. Hanya ada satu lentera yang menyala menerangi ruangan gelap dan besar itu.


Penyesalan itu selalu datang di akhir. Upaya Herman untuk bisa membangkitkan PT BANGKIT JAYA pun seolah terhenti begitu saja.


Lantai itu begitu dingin. Pipi Herman yang gembil pun menyentuh dan merasakan dinginnya lantai ruangan luas itu. Dirinya begitu rindu dengan istri sirinya. Mungkin saja, jika pernikahan siri ini tidak terkuak maka dirinya masih bisa memberikan kehangatan bagi istri sirinya, Dini.


'Dini, aku harap kamu baik-baik saja. Benny tentu akan menjemputmu dan membuatmu hidup selayaknya. Maafkan Mas, yang mungkin tidak bisa menemanimu lagi dalam waktu yang lama. Takdir ini harus Mas jalani, karena bagian dari suatu kesalahan,' lirih Herman berucap pada dirinya sendiri.


Jujur saja, Herman juga tidak tahu dimana Benny berada saat ini. Kepergiannya siang itu malah menjadi malapetaka yang saat ini membawanya ke ruangan dingin ini dan terkurung tanpa ada teman.


Benny berada di tempat yang berbeda. Tubuhnya yang tegap dan besar terikat erat di kursi. Wajahnyasudah hancur dengan airan darah yang mengucur dari keningnya. Benny tetap bungkam dan tidak mau membuka satu hal sekecil apapun tentang Dini. 'Lebih baik mati dari pada nyawa Dini dan hidupnya terus terancam. Setidaknya Benny masih bisa melihat Dini bahagia.'


"Kamu tentu tahu!! Dimana Dini berada?!" teriak Pria berjas hitam dan memakai masker itu.


Benny menggeleng dengan cepat. Dirinya memang tidak tahu dimana Dini berada. Hanya saja, Benny bisa melacak dimana keberadaan Dini melalui cincin berlian yang telah ditanamkan alat pendeteksi keberadaan Dini. Namun, rahasia itu hanya Benny yang tahu, Tuan Herman pun tidak mengetahui sama sekali.


"Aku tidak tahu Tuan. Sama sekali tidak tahu," ucap Benny lirih.


BUGH!!


Satu pukulan telak di punggung Benny pun membuat punggunya terasa mau lepas dan rontok tulang-tlang penyambungnya. Sakit sekali, dan sepertinya ada yang retak.


"Arghhh ...." teriak Benny dengan suara keras. Rasanya sakit sekali saat tongkat bisbol itu tepat mengenai punggungnya.


"Sakit?! Itu belum seberapa dibandingkan pengkhiatan Bos besarmu itu terhadap Nyonya Siska!!" ucap Pria berjas hitam itu dengan keras.

__ADS_1


Benny tak banyak bicara. Lukanya cukup serius, dan sudah tidak peduli dnegan ocehan lelaki berja shitam yang ada di depannya itu.


Benny hanya memikirkan kondisinya saat ini, berharap ada orang lain yang mengetahui tempat ini dan bisa menolongnya untuk sekedar berobat. Rasa sakitnya bertubi-tubi, bukan hanya sakit di kealanya yang bocor, bukan tentang rasa sakit di punggunggnya yang tulang-tulang rontok seperti remuk, tetapi sakit saat mendengar Dini harus di perkosa oleh pria jahat sruhan Nyonya Siska.


"Hei ... Bisu!! Jawab!! Di-ma-na Dini be-ra-da!!" tanya Pria berjas hitam itu dengan suara yang sangat keras dan lantang.


"Sudah aku bilang. Aku tidak tahu. Coba cari di rumah besar itu," ucap Benny lirih.


"Aku sudah mencari ke ruamh itu dan ternyata Dini tidak kembali bersama Denis," ucap Pria berjas hitam itu dnegan sangat geram.


"Lalu, Anda bisa bicara Dini di perkosa? Tentu Anda lebih tahu dan paham dimana Dini berada?" ucap Benny pelan dengan pernyataan yang masuk akal.


"Cih ... Kenapa malah jadi berbalik!! AKu tanya padamu bukan malah kamu yang mengajariku!!" ucap Lelaki itu tidak terima.


Tubuhnya terasa lelah sekali. Ingin rasanya pulang dan kembali ke rumah Ibu dan Bapaknya. Tapi, pekerjaan ini juga sangat penting karena upah yang di janjikan sangatlah besar dengan menyiksa lelaki yang cukup di kenalnya walau bertemu satu kali saat berada di rumahnya saat itu.


Berbeda dengan Herman yang hanya sediri di dalam ruangan sunyi itu. hatinya begitu pedih takala harus mengingat senyum indah Dini dengan segala pesonanya yang telah membuat Herman benar-benar jatuh cinta kepada wanita malam itu.


BRAK!!


Suara keras pintu ruangan yang di buka dengan sangat keras. Langkah kaki dengan suara khas sepatu pantopel saat terkena gesekan dengan lantai ubin yang sunyi senyap itu.


Wajahnya tak terlihat namun suara khas yang selama ini dikenalnya pun terdengar sangat lantang dan bergema.


"Mas Herman!!" panggila Siska dnegan suara keras. Siska pun tidak bisa melihat Herman, suaminya dnegan sangat jelas. Pandangannya samar-samar karena ruangan itu begitu gelap.

__ADS_1


"Si-Sis-Ka? Siska ... Belum cukup kamu menghukumku seperti ini? Bukankah kamu menginginkan aku membuka usaha kembali. Kenapa harsu berakhir seperti ini?" ucap Herman lirih tidak bisa menerima kelicikan ini.


"Cih ... Aku berubah pikiran. Sama seperti kamu berubah pikiran untuk membayar mahal wanita malam itu dan menikahinya secara diam-diam," ucap Siska dengan kesal.


Sakit hati? Tentu masih. Tapi Siska berusaha melupakan dan menjalani kehidupannya kini dengan bersenang-senang bersama Rudi, mantan kekasihnya.


"Aku hanya ingin membantu Dini keluar dari hidupnya yang menyakitkan itu," ucap Herman sekenanya. Herman bingung harus beralasan apa. apapun alasan yang di ajukan kepada Siska tentu akan tetap salah dan selalu salah di mata Siska.


"Hidupnya yang menyakitkan? Hidupnya yang mana? Sebagai wanita malam? Itu pilihan hidupnya!! Bukan hidup yang menyakitkan!! Ada juga cari penyakit!!" teriak Siska dengan lantang.


"Siska, apakah kamu tidak ingin memaafkan aku?" tanya Herman lirih. Sudah dua hari ini, Herman tidak makan dan minum. Rasanay sangat lapar sekali, pikir Herma orang yang datang adalah pengantar amakanan tapi malah Siska, istrinya yang hanya ingin mencaci makinya.


"Apa katamu?!! Maaf!! Mudah ya? Bicara maaf saat semua sudah terjadi dan bahkan sudah kmau jalani!! Kamu akan bilang wanita malam itu lebih menggoda di bandingkan aku!! Begitu?! Ingat Mas Herman!! Tanpa Ayah, kamu itu bukan siapa-siapa dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapa!! Kamu hanyalah sampah yang diangkat menjadi berlian!! Camkan kata-kataku!! Dulu aku tidak berkutik saat Ayah masih hidup, dan aku menerima semuanya walau hatiku memberontak, tapi kini? Ayah sudah tidak ada lagi, dan ini adalah kesempatan emasku untuk mengambil semua apa yang aku inginkan sejak dulu kala. aku harus bisa menggapai harapan dn cita-citaku yang dulu tidak sempat terwujud karena Ayah!! Kamu paham!!" teriak Siska lantang. Siska frustasi dnegan semua ini. harta kekayaanya membuat dirinya dilema, terhimpit oleh permasalahan yang di buatnya sendiri yang tidak mau berdamai dengan dirinya sendiri.


"Aku tidak akan membeiarkanmu mati dengan sangat mudah. Tapi biarkan kamu merasakan lapar dan haus!! Sama seperti yang Ayah lakukan padaku dahulu, saat aku menolak di jodohkan degan lelaki sepertimu!! Lelaki bodoh, miskin dan tidak memiliki wibawa!!" teriak Siska dnegan suara keras.


"Aku memang miskin. Aku memang bodoh. Aku memang sederhana dan todak berwibawa bahkan tidak pernah tegas. Tapi, aku memiliki hati yang tulus dan jujur, tidak seperti Rudi yang sudah menipumu mentah-mentah!!" ucap Herman dengan geram. Ingin rasanya membuka aib Rudi yang hanya menginginkan uang dan harta kekayaan Siska.


"Cukup!! Aku lebih tahu!! Siapa yang seharusnya aku pilih sejak awal!!" ucap Siska yang semakin kesal dan terpancing emosinya.


"Ingat Siska!! Suatu hari kamu akan tahu, seperti apa Rudi sebenarnya. Kalau pun aku harus mati di tanganmu. Aku sangat siap!!" ucap Herman tegas.


"Aku ingin kamu menjual Dini!! Untuk para kolega yang bekerja sama dengan perusahaan PT. ROYAL dan PT BANGKIT JAYA. Apa kamu siap melihat Dini bersama lelaki lain? Kamu harus mnyaksikan itu Mas Herman!!" ucap Siska dengan nada mengejek.


"Persetan kamu Siska. Cukup Siska. Biarkan Dini pergi dengan kehidupannya sendiri," ucap Herman pelan.

__ADS_1


"Aku punya dendam pribadi dengan Dini. Bukan saja karena Dini itu istri sirimu tetapi juga aku baru tahu, jika Dini itu ..." ucapan Siska terhenti. Kesal rasanya ingin mengungkap itu semua.


__ADS_2