
Ajeng terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih terasa pening dan berat rasanya untuk membuka kedua matanya yang masih saja terpejam.
Kedua matanya begitu kaget setelah benar-benar membuka. Matanya yang bulat dan indah membola seketika saat melihat sosok Reza, teman SMA nya berada dalam satu ranjang di sebuah kamar VIP, di hotel tempat Ajeng bekerja.
Sontak Ajeng langsung berteriak dengan sangat keras, "Arghhh .... Apa yang kamu lakukan padaku Reza?!!" teriak Ajeng yang begitu histeris melihat keadaannya saat ini. Tubuhnya masih utuh, pakaiannya pun masih utuh dan rapi membalut tubuh mungilnya.
Reza mulai terusik dengan suara nyaring dan cempreng yang membuat kepalanya semakin sakit.
"Apa sih?! Kamu ribut banget?" ucap Reza pelan sambil membalikkan posisi tubuhnya dengan posisi miring ke kiri membelakangi Ajeng yang masih terkesiap melihat respon Reza yang terlihat biasa saja.
"Kamu bilang apa? Aku ribut?! Hei ... kita sekamar ini!! Apa kata orang di luaran sana?" ucap Ajeng yang mulai panik dan cemas.
Hotel ini adalah milik Papah Reza. Hotel Alfaraby. Sejak lulus SMA, Ajeng bekerja di hotel ini sebagai pembersih kamar hotel.
Keadaan ini membuat kedua musuh bebuyutan ini selalu bertemu di gedung yang sama. Awalnya Ajeng dan Reza tidak tahu, jika mereka berada dalam satu gedung hotel. Ajeng sebagai karyawan, dan Reza yang masih kuliah di semester akhir pun sering datang ke Hotel ini untuk belajar mengelola bisnis Hotel milik Papanya ini.
Reza yang sudah terbangun sejak tadi hanya bisa tersenyum membatin. Kesalahan ini, bisa di jadikan ancaman untuk kedua orang tuanya menolak perjodohannya dengan Aluna beberapa bulan lagi.
Sayup-sayup terdengar suara isak tangis Ajeng yang lirih. Ajeng benar-benar bingung. Pasalnya dia harus mempertaruhkan pekerjaan satu-satunya yang bisa menghidupi kelurganya saat ini. Ajeng sudah lebih dari tiga tahun bekerja di hotel ini, dan selama itu Ajeng berusaha untuk tidak mencari masalah dan membuat masalah karena Ajeng saat ini adalah satu-satunya anak yang di harapkan oleh kedua orang tuanya sebagai pencari nafkah.
"Hei ... Kamu kenapa Ajeng?" tanya Reza pelan dengan suara lembut. Reza terbangun dan menegakkan duduknya tepat di samping Ajeng.
Wanita ini memang musuh bebuyutan sejak SMA, tapi wanita ini yang selalu membuat hati Reza bergetar tak karuan. Senyum manisnya selalu terbayang saat perkenalan pertama ospek di awal masuk SMA.
__ADS_1
"Aku takut di pecat. Lagian kenapa kita bisa ada di sini? Dalam satu kamar?" ucap Ajeng lirih. Ajeng berusaha mengingat kejadian malam tadi.
"Maafkan aku. Aku juga tidak tahu, kenapa bisa seperti ini. Seingatku, tadi malam, aku ingin menolong kamu dari copet yng sudah mengintaimu. Tiba-tiba kepalaku pusing dan aku terjatuh," ucap Reza mengingat kejadian malam tadi.
Tadi malam, saat Reza akan pulang ke rumahnya. Reza melihat Ajeng sedang menunggu angkutan di pinggir jalan. Namun naas. Tas Ajeng terkena jambret seorang pencopet dan AJeng mengejar copet tersebut. Melihat Ajeng sedang kesulitan, Reza pun turun dari mobil dan berusaha menangkap sang pencopet dan ....
BRUK!!
Bagian tengkuk Reza ada yang memukul dengan benda tumpul, hingga kepala Reza terasa pusing dan pandangannya mulai berkunang-kunang sebelum akhirnya Reza jatuh tersungkur di tanah parkiran di sekitar lokasi Hotel Alfaraby.
Ajeng sempat melihat dua orang yang memukul Reza dan sempat berteriak meminta tolong. namun, hal yang sama terjadi juga kepada Ajeng. Dan, sekarang keduanya sudah berada dalam kamar tidur VIP yang sama.
"Iya, Benar sekali. Aku juga sempat berteriak minta tolong tetapi, tiba-tiba kepalaku pun ikut pusing," ucap Ajeng singkat sedikit mengingat apa yang terjadi.
"Lalu, Kenapa kita bisa berada disini?" tanya Reza pada dirinya sendiri. tadinya Reza tidak peduli dan merasa cuek, tapi setelah di bahas, ternyata ada beberapa kejanggalan yang terjadi.
Suara ramai-ramai dari depan kamar dan tiba-tiba saja pintu kamar hotel itu di buka secara paksa.
BRAK!!!
"Lihat itu, gadis pembersih kamar hotel rela menggadaikan tubuhnya pada Tuan Muda Reza. Sungguh tidak punya rasa malu," ucap salah seorang lelaki dengan gaya sengaknya.
Lelaki itu membawa banyak orang, salah satunya adalah Aluna, perempuan yang akan di jodohkan dengan Reza.
__ADS_1
Ajeng hanya terdiam menunduk bingung dan takut., sambil memainkan ujung baju seraganya. Ajeng harus menjelaskan semuanya mulai dari mana. Jika tidak ada bukti tentu banyak orang tidak akan percaya kepadanya dan ucapannya hanya dianggap sampah.
Ajeng masih menggunakan pakaian seragam Hotel Alfaraby. Rok pendek di atas lutut dengan model rempel dengan kemeja lengan pendek sedikit menggantung di atas pinggangnya.
Reza pun berdiri setelah menetralisir degub jantungnya yang tiba-tiba berdetak dengan kencang. Bukan takut atau cemas tapi Reza melihat Ajeng yang menjadi sasaran kesalahan pun merasa tidak terima.
"Jangan main hakim sendiri. Lihat saja, Ajeng adalah gadis baik baik. Tolong jaga ucapan kamu!!" bentak Reza dan menunjuk kasar ke arah lelaki yang tadi membuat onar dan membuat gosip murahan tentang Ajeng.
"Lalu, Kenapa Tuan Muda bisa berada di kamar ini degan wanita rendahan seperti dia!!" ucap lelaki itu semakin kesal. Dirinya tidak terima di permalukan begitu saja di depan orang banyak bahwa membuat gosip palsu di area Hotel Alfaraby.
"Aku sengaja memanggilnya. Kita ada urusan bisnis yang tidak bisa saya ungkapkan disini. Lagi pula Ajeng teman sejak SMA," ucap Reza menjelaskan singkat.
Semakin banyak orang berkerumun dan berdiri tepat di depan kamar hingga Tuan Alfaraby, Papah Reza pun mendatangi kamar yang katanya putra kesayangannya ketahuan sedang meniduri gadis pembersih kamar hotel yang tidak lain karyawannya sendiri.
"Reza!! Apa-apaan kamu ini!! Papah pikir apa yang di ucapkan Reno adalah dusta, tapi ternyata memang ada kamu di kamar ini!!" ucap Tuan Alfaraby dengan raut wajah penuh kemurkaan.
Reza pun menghampiri Sang Papah.
"Ini tidak seperti yang Papah lihat. Ceritanya sangat panjang. Dan Reza tidak menyentuh Ajeng sama sekali," ucap Reza pelan menjelaskan. Reza pun menjadi bingung, bagaimana menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada Sang Papah yang sudah tersulut emosi.
Aluna hanya menatap nanar ke arah Reza. Hari ini memang hari pertama Aluna magang di Hotel Alfaraby milik calon mertuanya untuk keperluan mata kuliahnya. Tapi, bagai tersambar petir saat desas desus sejak pagi membuat telinga Aluna pun merasa risih.
Akhirnya, entah siapa yang memulainya dan mendobrak kamar tidur VIP Hotel Alfaraby dan terlihat dua sosok manusia yang berbeda gender bearda dalam satu kamar.
__ADS_1
Aluna marah dan rasanya ingin berteriak keras. Lelaki yang ia idam-idamkan malah berbuat tidak senonoh.
'Lihat saja. Aku balas perbuatan memalukan ini, Ajeng!! Kalau bukan kamu yang menggoda Reza, lalu siapa lagi!!' batin Aluna dengan kesal.