
Tadi malam, saat Herman kembali ke rumahnya. Siska, istrinya sudah menunggu dengan muka masam dan dengan kedua tangan berkacak pinggang.
"Bagus!! Dua hari tidak pulang!! Kemana saja kamu selma dua hari ini!! Mamah ke kantor dan Papah tidak ada. Lina sekertaris Papah pun tidak tahu kemana Papah pergi!! Benny tidak bisa di hubungi!! Lalu maunya gimana?!!" teriak Siska dengan suara keras.
Merasa memang memiliki rasa bersalah. Herman memilih diam dan tidak menanggapi ocehan Sang Istri. Herman berpura-pura tidak ada masalah, dan merangkul istrinya yang masih marah besar kepadanya.
Bibir Herman mendarat begitu saja pada kening Siska dan berakhir pada bibir seksi Siska yang telah membuka siap berteriak.
"Eunghh ....." desah Siska yang menikmati ciuman panas dari Sang Suami.
"Masih mau marah-marah? Apa mau marah-marahnya di kasur? Mumpung Papah masih semangat?" ucap Herman pelan sambil mengedipkan satu matanya kepada Siska.
Pertautan bibir yang tiba-tiba saja terlepas membuat Siska sedikit kesal dan memukul tubuh Herman dengan sangat keras.
"Mamah ingin Papah jujur!! Bukan begini!!" teriak Siska kemudian.
Sepertinya macan betina ini sedang tidak bisa di ajak berdamai. hatinya terlanjur terluka dan kecewa atas pengkhiatan Herman, suaminya.
"Mamah itu bicara apa? Papah sama sekali tidak mengerti?" ucap Herman pelan seolah tidak mengerti arah pembicaraan Siska.
"Cuh!! Pura-pura tidak tahu!! Papah harus tahu, semua kekayaan ini milik Mamah. Maju mundurnya perusahaan itu Papah yang di beri amanah dan wewenang, tapi kalau sekarang yang di beri wewenang saja seolah tidak peduli, lalu bagaimana?" teriak Siska yang ksal.
Laporan bulanan dari kantor sudah di terima Siska kemarin sebagai satu-satunya ahli waris PT. ROYAL.
Herman hanya bisa terdiam menatap lembaran laporan keuangan yang ada di tangan Siska saat ini. Banyak aliran dana fiktif yang di keluarkan Herman untuk Dini selama ini termasuk pembelian rumah mewah yang tadinya hanya di gunakan untuk asset investasi dan kini d gunakan oleh Dini, sitri sirinya itu.
"I-itu ... Laporan keuangan?" ucap Herman sedikit tergagap tapi tetap berusaha tenang. Mimik wajahnya tetap saja tersirat rasa cemas dan panik.
__ADS_1
"Iya!! Papah masih bisa ingat, ini laporan keuangan!! Dan yang membuat Mamah tidak habis pikir adalah angka-angka dan nominal-nominal yang tidak masuk akal yang tercatat di sini. Pengeluaran gila yang Mamah baca adalah uang sebanyak satu milyar ini untuk pembelian apa?!!" tanya Siska dengan geram dan kesal.
Herman sendiri hanya bisa terdiam. begitu juga dengan Benny ayng berada di luar rumah yang ikut mendengarkan pertengkaran kedua majikannya itu.
Semua kertas itu di lempar ke wajah Herman dengan sangat kasar oleh Siska. Siska tidak tahu lagi harus berbuat apa. Jujur, ada kekecewaan yang sangat mendalam di hatinya. herman adalah lelaki pilihan Ayahnya dulu sebelum Ayahnya meninggal. Menurut Ayahnya, Herman sosok lelaki baik dan setia dibandingkan Rudi, kekasih Siska yang ahirnya harus di tinggalkan karena tidak mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.
Tapi?! Apa yang terjadi saat ini?! Herman juga sama gilanya seperti lelaki lain yang sedang berada dalam masa puber.
Herman memunguti satu per satu kertas-kertas laporan keuangan itu. Dalam benaknya pun bingung dan menyesal dengan apa yang telah di lakukannya selama ini. Pikiran Herman melayang pada berpuluh tahun yang lalu saat Herman pertama kali bekerja dan bergabung di PT ROYAL milik Ayah Siska.
Ayah Siska menitipkan Perusahaan PT. ROYAL kepada Herman dan menikahkan Herman kepada Siska putri satu-satunya.
Janji itu seolah terlupakan dan terabaikan dengan semua pesona Dini yang membuat Herman keblinger.
"Papah hanya diam!! Tidak bisa menjawab!! Lihat, drama apa lagi yang aan Papah buat kepada Mamah!!" ucap Siska kesal.
"Siapa dia!! Siapa wanita itu!!" gertak Siska dengan suara keras. Siska sengaja berteriak, agar Herman mau mengakuinya. tanpa di jelaskan pun, Siska sudah mengetahui semuanya.
"Wanita mana? Wanita siapa?!!" ucap Herman pelan menutupi kebohongannya.
Siskan tertawa mengejek. Dirinya seperti orang bodoh yang mempertahankan Herman. Padahal seharusnya biarkan Herman yang merugi meninggalkan Siska.
"Papah mau jujur? Atau Mamah buka semua kartu Papah!! Papah pikir selama ini Mamah diam dan tidak tahu apa-apa!! Tidak tahu apa yang Papah perbuat di luaran sana!! Bermain dengan wanita bayaran yang akhirnya di nikahi? Betul kan Pah? Jawab jujur!!!" teriak Siska semakin frustasi. Siska hanya bisa berteriak keras untuk melegakan perasaan sesak di dadanya.
"dari mana Mamah tahu itu semua? Tentu dari Rudi!! Jangan-jangan Mamah masih ada main dengan Rudi, mantan kekasih Mamah itu!!" balas Herman yang ikut tersulut api amarah.
"Pintar sekali membolak-balikkan fakta!! Papah yang selingkuh tapi kini di putar ceritanya agar seolah-olah Mamah yang salah dan Mamah yang melakukan perselingkuhan. BRAVO!! Papah pintar!!" ucap Siska dengan suara tegas.
__ADS_1
"Papah tidak membela diri. Papah hanya bertanya, dari mana Mamah mengetahui itu semua?" ucp herman melemah. Sudah tidak mungkin mengelak lagi, karena semua bukti-bukti sudah jelas terlihat dan memang nyata terjadi.
"Berarti apa yang Mamah ucapkan semuanya benar dong? Tidak ada elakkan karena semua yang Mamah ucapkan di dasarai bukti-bukti yang kuat. Lalu, sekarang mau Papah apa?" tanya Siska geram sambil melipat kedua tangannya di bagian dada.
"Mau Papah apa? Ya, Saat ini, Papah ingin Mamah," ucap Herman pelan dengan tanpa rasa berdosa sedikit pun.
"Hah!! Mamah tidak salah dengar?!! Dengar baik-baik Bapak Herman. Mamah akan mengajukan gugatan cerai!!" teriak Siska dengan suara lantang.
DUAR!!
Suara nyaring Siska cukup membuat Herman terkejut. Herman tidak menyangka jika Siska berani mengambil keputusan untuk bercerai dalam waktu singkat tanpa berpikir panjang.
"Jangan Mah!! Jangan lakukan itu!!" ucap Herman terbata dan panik.
Herman tentu bingung jika di ceraikan oleh Siska. Semua harta kekayaan ini semuanya milik Siska, baik PT. ROYAl, rumah mewah dan seisinya serta uang berlimpah semua itu milik Siska. Mungkin secara kasarnya, Herman selama ini hanya menumpang hidup enak pada Siska dan membantu mengurus perusahaan milik istrinya itu.
"Jangan?!! Mudah sekali PApah bilang jangan? Lalu, selama ini kemana saja? Apa yang Papah lakukan di luaran sana? Apa tidak memperdulikan perasaan Mamah?!!" ucap Siska kesal.
"Maafkan Papah, Mah. Papah tidak akan mengulangi ini semua. Kalau Mamah ingin, Papah akan mengusir Dini, demi Mamah," ucap Herman pelan sambil bersujud di kaki Siska.
PROK!!
PROK!!
PROK!!
Tiga tepukan keras dari tangan Siska membuat suasana semakin menegangkan. Siska yang sudah kesal, penuh amarah, penuh emosi pun merasa semakin benci dengan sifat Herman yang sudah membuatnya jengah.
__ADS_1