
Di dalam Dini duduk tepat di belakang Adam, dan Ibu Mita duduk di depan samping Adam. Ketiganya pergi menuju toko besar di kota itu untuk membeli beberapa kebutuhan pribadi Dini dan kebutuhan pokok bulanan rumah tangga.
Dini sejak tadi terdiam dan hanya menatap ke arah luar jendela mobil. Hari yang semakin gelap membuat pandangan pun menjadi sedikit terhambat.
Sesekali, Adam mengamati Dini dari kaca spion tengah mobilnya. Wajah cantik Dini dengan rambut yang terurai ke bagian depan dadanya pun membuat gadis itu selalu enak di pandang.
"Adam ...." panggil Mita pelan tanpa menoleh ke arah Adam.
Mita mash syok dengan kejadian tadi di rumah. Walaupun kaca depan rumah sudah di ganti tadi oleh tukang. Namun tetap saja, kejadian seperti ini akan terulang lagi dan lagi selama Dini ada di rumah ini.
"Ya, Bu," jawab Adam pelan. Baru saja memandangi wajah polos Dini yang selalu membayangi pikirannya kini berpaling menatap wajah Sang Ibu dari arah samping.
"Nanti ikut masuk, temani Ibu belanja," titah Mita pelan membuka percakapan. Keheningan sejak keberangkatan tiga puluh menit yang lalu tidak juga mencair.
Dini hanya menatap sekilas ke arah Mita dan Adam yag berada di depannya tanpa ikut menimbrung pembicaraan itu antara anak dan ibunya.
"Ya Bu. Adam pasti temani. Belanja saja, apa pun yang Ibu butuhkan, untuk stok di rumah. Adam tidak tahu, minggu depan bisa kembali pulang atau tidak, karena pertemuan dengan petinggi PT Royal sebagai pusat corporasi dari PT. Bangkit Jaya," ucap Adam pelan menjelaskan.
Mita hanya mengangguk paham dengan penjelasan Adam.
Ketiganya terdiam lagi, hingga tak terasa mobil Adam sudah terparkir di area parkiran sebuah toko terbesar dan terlengkap di kota itu.
Suasananya cukup ramai dan sedikit penuh.
"Dini, kamu ingin membeli baju?" tanya Adam pelan kepada Dini yang sedang merapikan pakaiannya setelah turun dari mobil itu.
"Iya Kak. Beberapa potong pakaian untuk sehari-hari," ucap Dini pelan.
"Ibu mau ikut antar dulu atau mau langsung berbelanja kebutuhan pokok?" tanya Adam pelan sambil mengunci pintu mobilnya yang telah di parkir.
"Ibu ingin cepat-cepat berbelanja, karena banyak barang kebutuhan yang akan Ibu beli dan Ibu harus memilih langsung. Dini, kamu bisa sendiri kan? Karena Adam akan menemani Ibu" ucap Mita pelan menatap ke arah Dini.
Dini hanya mengangguk pasrah.
"Tapi, Kak Adam antar Dini untuk mengambil semua uang di rekening Dini via ATM, " ucap Dini pelan.
"Baiklah. Ayo kita ambil uangnya," ucap Adam pelan.
Dini tidak punya pilihan lain selain menarik semua uang yang ia miliki untuk mencukupi kebutuhannya. Apalagi, saat ini Dini sedang mengandung. Tentu akan banyak kperluan yang ia butuhkan hingga nanti melahirkan anak tanpa Ayahnya yang sudah tidak lagi bersamanya.
__ADS_1
"Ya Sudah. Antar lah Dini untuk mengambil uang. Ibu akan langsung ke supermarket, nanti kamu susul Ibu ke adalam ya, Adam," titah Mita dengan tegas.
Adam hanya mengangguk. Ketigayan berpisah. Adam menemani Dini, dan Mita msuk ke dalam supermarket terlebih dahulu.
"Kamu yakin akan menarik semua uangmu? Bukankah lebih baik di simpan untuk keperluan melahirkan nanti?" ucap Adam menasehati.
Dini hanya bisa diam. Dini tidak ingin repot jika uang sudah di pegang seluruhnya.
"Tapi aku butuh uang itu. Biar aku pegang uangnya untuk usaha. Selama mengandung aku tidak mungkin bekerja," ucap Dini dengan suara pelan.
Dini sendiri bingung harus bagaimana.
"Dini, mengganggu?" ucap Dini tiba-tiba saat berjalan menyusuri koridor untuk mncapai tempat mesin yang mengeluarkan uang.
"Mengganggu? Apa maksudmu Dini?" tanya Adam pelan.
"Ya, Aku mengganggu berada di rumahmu Kak? Aku tidak enak dnegan Ibu," ucap Dini dengan suara pelan.
Dini bingung sekali. Ingin rasanya pergi dari rumah itu dan memulai hidup mandiri dengan apa yang di milikinya.
"Jangan berpikiran buruk, Dini. Kakak tidak suka!! Kamu sudah seperti adik untuk Kakak," ucap Adam pelan. Tatapan Adam pun terlihat kesal dnegan ucapan Dini yang membuat Adam sedikit jengah.
"Tapi ...." ucap Dini pelan.
Dini mengangguk pelan. Keduanya masuk ke dalambilik mesin pengambil uang. Dini memasukkan kartu dan menekan beberapa tombol rahia untuk masuk ke menu rekeningnya secara virtual.
"Dini .... Uangmu banyak sekali?" tanya Adam saat melihat jumlah uang yang dimiliki Dini dalam jumlah yang sangat besar.
Wajah Adam benar-benar kaget. Bukan karena tidak pernah melihat nominal angka sebanyak itu, tapi Adam hanya tidak menyangka bahwa Dini memiliki uang sebanyak itu.
Dengan uang sebanyak itu, bisa untuk membeli atau mengambil alih perusahaan Bangkit Jaya.
Dini sendiri juga bingung. Terakhir waktu mengambil uang untuk membeli beberapa pakaian dinas untuk keperluan di ranjang pun jumlah uangnya tidak sebanyak ini.
Adam memutar tubuh Dini dan berdiri tegak menghadapnya.
"Siapa kamu sebenarnya? Beri tahu Kakak?" taya Adam dengan sara pelan.
Dini cukup terkejut dengan perlakuan Adam yang terlihat bena-benar terkejut.
__ADS_1
"Aku? Aku Dini. Kenapa Kak? Apa terlihat aneh aku memiliki uang sebanyak itu?" ucap Dini dengan suara pelan. dini sendiri ikut cemas melihat angka yang tidak biasa itu. jantungnya ikut berdegup keras, takut terkena audit pencucian uang.
"Uangmu banyak sekali? Siapa kamu?" tanya Adam dengan suara yang semakin meninggi.
"Apa ada yang aneh? Jika aku memiliki uang sebnayak itu?" tanya Dini pelan.
"Bukan aneh lagi. Ini tidak wajar!! Usiamu masih belia, dan uangmu sangat banyak sekali," ucap Adam yang semkin penasaran.
"Aku titipkan sebagian uang ini pada Kakak. Apakah Kakak mau menolongku?" tanya Dini pelan menatap lekat ke arah Adam.
"Kakak akan bantu. Asal kamu menceritakan dengan jujur siapa kamu sebenarnya? Dari mana asal usulmu," ucap Adam dengan suara tegas.
Dini mengangguk dnegan pasrah.
"Baiklah. Setelah ini, kita bertemu di food court. Aku akan cerita semua siapa diriku, di hadapan Kak Adam dan Ibu," ucap Dini lirih.
Dini sudah tidak memiliki pilihan lain. Memang sudah saatnya Dini mengatakan dengan jujur sejak awal sebelum semuanya terlambat. Paling tidak, Dini bisa ikut tinggal sementara di rumah Adam dan Ibu Adam tanpa ada kebohongan.
"Kakak setuju. Setelah selesai urusan kita masing-masing kita ketemu di food court," ucap Adam pelan.
Dini mengambil uang dalam jumlah besar dan sisanya di kirimkan ke rekening Adam.
"Kamu percaya padaku, Dini?" tanya Adam pelan saat semua uang itu secara otomatis berpindah tuan kepada Adam.
Dini tersenyum dan mengangguk pelan.
"Aku sangat percaya kepada Kakak. Kak Adam dan Ibu adalah orang yang sangat baik. tapi, Ibu tampaknya kurang menyukaiku?" ucap Dini dengan suara yang lirih. Lalu meotong kartu ATM itu dan membuang ke dalam tong sampah.
"Dini ...." ucap Adam pelan. Adam bingung harus berkata apa.
"Ya, Kak Adam," jawab Dini pelan sambil merapikan uangnya di fdalam tas yang agak besar.
Adam menggelengkan kepalanya pelan. Adam pun menarik napas panjang dan menghembuskan dengan pelan.
"Tidak jadi. Yuk, Sudah selesai kan?" tanya Adam pelan.
Dini hanya mengangguk pasrah lalu keluar dari dam bilik itu.
Tangan Adam secara reflek menggandeng tangan Dini, hingga membuat Dini terkejut dengan perlakuan Adam.
__ADS_1
"Kamu tahu?" tanya Adam tiba-tiba kepada Dini.
Dini pun menoleh ke arah Adam dan menunggu lelaki itu meneruskan ucapannya.