
Malam itu Windu baru saja mendapatkan kebenaran walaupun hanya singkat. Sudah satu minggu ini, perusahaan Wibisono mengalami defisit. Beberapa karyawannya di hentikan secara se -pihak karena Wibisono tak lagi mampu membayar gaji mereka secara penuh. Hanya tinggal beberapa karyawan yang loyal saja yang masih mau membantu Wibisono untuk tetap bertahan dan bangkit lagi seperti dulu.
Usut punya usut, kebangkrutannya ini ada kaitannya dengan Yasinta yang begitu boros dan selalu meminta uang kepada Wibisono hingga Wibisono menggunakan uang perusahaan untuk keperluan pribadi istrinya.
Windu terdiam di atas kasur. Tubuhnya sudah lela seharian menjaga toko dan melayani customernya yang makin lama makin banyak. Dua karyawannya pun tak mampu memegang kendali customer yang kadang datang bersamaan.
Punggungnya di sandarkan di sandaran ranjang. Kedua tangannya memeluk guling dengan kaki yang sudah terbalut selimut.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Windu lirih kepada dirinya sendiri.
Ujian ini begitu berat dan tidak mudah mencari solusinya. Apalagi, Wibisono ternyata lelaki keras kepala yang tak mau berbagi dengan masalahnya.
"Lalu? Mbak Yasinta juga belum pulang?" tanya Windu lagi masih penasaran.
Tok ... Tok ... Tok ...
__ADS_1
"Masuk," jawab Windu pelan.
"Nona muda. Tadi siang ada surat penting dari pih bank," ucap Tini pelan.
"Surat penting? Mana? Biar aku baca," titah Windu yang langsung duduk tegal dan menerima amplop cokelat lalu di buka dan di baca.
Surat itu berasal dari pihak bank, yang menginginkan rumah itu di kosongkan dalam waktu satu minggu. Atau bisa juga, membayar semua tagihan yang sudah kelewat jatuh temponya.
Windu membaca surat penting itu dnegan tenang. Wajahnya begitu sendu dan terlihat baik -baik saja. Ia tidak ingin mmebuat suasana menjadi semakin panik dan cemas.
Ia mengambil buku kecil dan pulpen dari laci nakas dan mulai menulis jumalh pelayan yang ada di rumahnya.
"Pelayan ada lima, tukang kebun ada dua dan satpam ada tiga. Semuanya ada sepuluh ornag," jawab Tini pelan sambil menghitung dengan jarinya agar tidak ada yang terlewat.
"Oke. Lalu, semuanya tinggal di sini atau ada yang pulang?" tanya Windu kemudian.
__ADS_1
"Semuanya pulang dan hanay ada dua yang tinggal di sini, saya dan Inah," jawab Tini dengan cepat.
"Jumlah mobil di rumah ini ada berapa?" tanya Windu kemudian.
"Ada lima, satu di pakai tuan besar Wibisono, satu lagi di pakai Nyonya Yasinta dan tida ada di garasi, jarang di pakai kecualai untuk urusan penting," ucap Tini pelan.
"Oke. Kamu tahu Mbak Yasinta kemana? kenapa sudah hampir dua minggu ia tak kembali? Lalu supir itu, siapa namanay?" tanay Windu pelan karena lupa.
"Yoga, Nona," jawab Tini pelan.
"Ahhh iya ... Yoga. Dia bahkan tak kembali lagi setelah ijin pulang kekampung?" tanay Windu pelan.
Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama ingin ia tanyakan. Tapi, ingin bertanya langsung pada Wibisono. Tapi, semua itu tak mungkin ia lakukan, ini bukan waktu yang tepat.
"Saya juga tidak tahu Nona. Untuk Nyonya besar juga tidak ada kabar. Ponselnya juga sepertinya sudah lama tidak aktif," ucap Tini pelan.
__ADS_1
"Oke. Kamu bisa kembali ke kamar kamu. Ini sudah malam, dan kamu bisa istirahat. Jangan lupa bilang pada semua pelayan dan satpam di rumah. Besok pagi kita sarapan bersama di meja makan. Ada hal penting yang harus saya sampaikan perihal surat penting ini. Sepertinya Bapak tidak akan pulnag ke rumah dalam waktu yang lama," ucap Windu pelan. Sesak juga rasanya mengatakan itu. Biasanya mereka berdua ada di dalam akmar ini. Walaupun tidak melakukan apa -apa, tapi Wibisono bisa di ajak bercanda dan bisa membuatnya tertawa. Entah apa yang di lakukan suaminya saat ini di dalam ruangan sempit itu. Wajahnya tadi terlihat kuyu dan tak cerah seperti biasanya. Beban pikirannya mungkin terlalu banyak dan terlalu berat.