Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
KEDATANGAN YASINTA


__ADS_3

Dugaan Windu sangat tepat sekali. Wibisono depresi sekali dnegan kejadian ini. Satpam kantor berulang kali menilik ke ruang kerja Wibisono untuk mengantarkan makanan yang di antar langsung oleh Windu untuk suaminya.


Sementara waktu Windu tidak mau mengganggu Wibisono. Biarkan Wibisono menenangkan pikirannya dan Windu berusaha sekuat tenaga mempertahankan rumah dan semua aset penting yang perlu di pertahankan.


Kini Windu berada di kamar Yasinta di temani oleh Tini. Merapikan kamar itu yang sudah lama tak di buka dan tidak di bersihkan.


Windu mencari beberapa barang berharga di lemari Yasinta. Satu laci besar dengan berbagai macam perhiasan dan surat berharga.


"Kalian cari apa?" tanya Yasinta keras dan lantang. Yasinta masuk ke dalam kamarnya scera tiba -tiba dan menggebrak pintu kamar tidurnya dengan sangat keras saat melihat Tini dan Windu seolah sedang mengacak -acak lemari pakaiannya.


"Mbak Yasinta?" ucap Windu yang merasa kaget dengan kedatangan Yasinta tiba -tiba.


"Kenapa kaget?" tanya Yasinta ketus.


"Kamu ngaain di sini? Mau cari apa, hah?" tanya Yasinta dnegan kesal.


YAsinta mengambil koper besar di atas lemari, dan membuka koper itu lalu memasukkan semua barang berharganya yang ada di laci besar yang sempat di lihat oleh Yasinta.


"Maaf Mbak. Bukan mau lancang. Tapi, MasWibisono dalam masalah besar. Mungkin ada baiknya beberapa asset bergerak bisa kita jual, untuk menyelamatkan rumah ini dan perusahaan milik Mas Wibisono," ucaap Windu pelan.


"Hah? Apa membantu suamiku untuk bangkit? Itu sama sekali tidak pernah ada dalam pikiran aku selama ini. Kalau kamu mau bantu, ya bantu saja, gak usah cari -cari aku. Ini barang -barang aku yang di kasih sama Mas Wibisono. Terserah mau aku apakan kan?" ucap Yasinta ketus.


Ia mulai membuka koper yang lain dan memeasukkan smeua pakaian mahalnya dan stau koper lgi berisi sepatu mahal dan tas -tas ber -merk koleksinya. Tidak akan ada yang di sisakan satu barang pun kecuali tisu kotor.

__ADS_1


"Kok bak gak peduli sama Mas Wibisono. Padahal Mas Wibisono itu sayang banget sama Mbak. Dia bahkan rela melakukan apapun untuk kebahagiaan Mbak," ucap Windu menjelaskan.


Windu tidak pernah iri pada Yasinta. Ini hanya sekedar menjelaskan saja dan tidak ada maksud lain.


Windu tahu persis perjuangan Wibisono yang tetap bertahan pada pernikahan ini. Karena beliau menganggap Yasinta wanita paling baik dan sempurna karena bisa menerima tanpa mengeluh. Tapi, ternyata tidak setulus yang di bayangkan.


"dari dulu aku memang tidak peduli pada dia. Aku mneikahi dia karena uang. Karena dia kaya raya. Apalagi setelah aku tahu, dia itu lemah syahwat. Dia tidak bisa membahagiakan aku di ranjang. Tidak bisa menafkahi aku secara batin agar aku puas. Lalu, aku harus bertahan? Aku wanita normal, aku juga punya hasrat dan aku punya nafsu untuk bisa bercinta. Tapi tak pernah ku dapatkan sedikit pun dari lelaki lemah itu. Jadi ku pikir tidak ada salahnya jika aku meminta banyak uang padanya untuk memperkaya diriku sendiri. Kini, giliran waktu kamu yang berjuang untuknya. Aku sudah lelah dan ingin pergi dari kehidupannya untuk selamanya. Apalagi yang aku harapkan? Di asudah bangkrut dan tidak punya apa -apa," ucap Yasinta dengan rasa sombongnya.


Tini hanya diam dan menunduk saat Yasinta terus menjelaskan tanpa henti.


Semua koper sudah di tutup rapat. Yasinta berteriak pada satpam untuk membantunya mengeluarkan empat koper besar dan membawa ke mobil miliknya.


"Aku ingatkan. AKku tidak akan kembali ke rumah ii lagi. Rumah ini hanya akan jadi kenangan setelah aku ambil alih. Srtifikat rumah ini ada padaku, aku bisa menjualnya sewaktu -waktu," tegas YAsinta.


"Aku beri tahu, jaminan bank itu adalah perusahaan atau bangunan kantor. Dan rumah ini adalah rumah ku. Sebenarnya aku bisa mengusirmu, tapi sudahlah. Lanjutkan saja," ucap Yasinta keus.


Ia pun keluar dari kamar itu dengan senyum bahagia. Rumah ini akan di jualnya dalam waktu dekat dan Windu akan bingung mencari tempat tinggal.


Windu terduduk di atas kasur itu. Padahal ia akan membuka cafe mulai besok. Kalau begini rencana harus berganti tempat.


"Nona Muda, bagaimana?" tanya Tini pelan.


"Sepertinya kita perlu tempat lain. Bagiamana kalau di ruko tempat usahaku. Kalian bisa tidur di lantai tiga. Dan lantai dua akan aku gunakan sebagai outlet kosmetik dan salon, sedangkan did bawa untuk cafe sampai di halaman ruko. Gimana kira -kira?" tanya Windu yang harus mencari solusi lain.

__ADS_1


"Kami akan tetap membantu Nona." jawab Tini pelan.


Skip ...


Hari ini juga, semua pelayan laki -laki datang di ruko milik Windu. Kebetulan ruko itu di beli Wibisono sebagai hadiahuntuk Windu. Smua pelayan mempersiapkan untuk pembukaan cafe.


Pelayan wanita membereskan barang -barang yang bisa di bawa dan akan di pindahkan ke ruko.


Hari ini adalah hari yang paling melelahkan. Windu hanya bis aberusaha dengan sisa uang yang ada sebagai modal. Keluarga Windu pun ikut membantu.


"Bagaimana Bu? Sudah bagus tempatnya?" tanya Windu kepada Ibunya.


"Sudah. Nanti biar yang lainnya tidur di rumah Ibu." titah Ibu pelan.


Windu hanya mengangguk dan memeluk Ibu dengan menangis. baru saja menikah dan belum merasakan manisnya pernikahan langsung di hadapkan sesutu yang pahit.


"Maafkan Windu Bu." civit Windu pelan.


"Sudahlah Windu jangan meminta maaf. Ibu akan tetap mendukung semua keputusan dan keinginan kamu, jika itu memang baik untuk bersama. Inilah peruangan pernikahan, suatu hari kamu akan memetik manisnya dari perjuangan kamu ini. Tidak selamanya yang pahit akan terasa pahit dan tidak selamanya juga yang manis akan tetap abadi manis," ucap Ibu Windu menasehati putrinya agar tetap kuat dan tetap bertahan pada badai yang tersu menerjang berkali kali.


"Makasih ya Bu. Selalu membuat Windu tenang dan nyaman dalam pelukan Ibu. Windu yakin smeuanya akan baik -baik saja. Windu ingin membantu Mas Wibisono terlepas dari masalah hutang -hutangnya dan memwujudkan untuk memiliki anak juga. Walaupun usia kita jauh berbeda, tapi smeua itu bisa terwujud kan bu?" tanya Windu yang kadang ragu.


"Ibu tahu. Kamu adalh gadis yang kuat sejak kecil. Kamu perempuan yang tak mudah menyerah dan selalu berjuang untuk mencapai semua cita -cita kamu. Ibu hanya berharap, pernikahan kamu dan Wibisono akan langgeng selamanya smpai maut yang memisahkan kalian. Usia bukan jaminan seseorang dewasa, umur yang sudah mendekati ajal, atau sudah tidak bisa sukses lagi. Tidak seperti itu. tapi, bagaimana keduanya menyikapi dan saling memotivasi. Ingat ya, tidak ada jalan tol yang mulus, kadang di tengah jaan ada lubang atau jalan yang tak rata. Paham kan maksud Ibu?" ucap Ibu Windu pelan.

__ADS_1


Windu hanay bisa mengangguk kecil. Ia benar -benar beruntung memiliki Ibu seperti ibunya.


__ADS_2