Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
42


__ADS_3

Setelah selesai berbelanja dan membeli semua barang yang di butuhkan Dini untuk kehidupan sehari-harinya, Dini pun langsung menuju tempat pertemuan yang telah di janjikan bersama Adam.


Di lantai atas, tempat untuk bersantai sambil menikmati makanan dan minuman yang berjajar di kios-kios sekitar toko besar itu.


Dini berjalan menuju eskalator. Satu pasang mata berbaju putih itu masih terus mengekori Dini dari arah belakang. Kedua matanya tetap tajam mentap ke rah Dini tanpa terlepas.


Kepala Dini berputar ke kanan dan ke kiri, mencari-cari keberadaan Adam dan Ibu Mita yang mungkin saja sudah lebih dulu berada di tempat itu.


"Dini!!" panggil seseorang dari arah samping saat Dini sudah sampai di lantai atas.


Dini menoleh ke arah orang yang memnaggil. Suara bariton dan sedikit serak yang khas di telinga Dini.


"Mas Adam!!" jawab Dini sambil tersenyum dan melambaikan tangan kanannya ke arah Adam.


Dini berjalan ke arah meja dan kursi yang sedang di duduki oleh Adam dan Ibu mIta. Tampak Ibu Mita menatap Dini dan beberapa tentengan yang ada di tangan Dini dengan merek terkenal.


"Sudah selesai belanjanya? Atau masih ada yang harus kamu beli?" tanya Adam pelan kepada Dini yang baru saja duduk di kursi makan itu.


Wajah Dini tampak kelelahan. Berputar-putar selama satu jam lebih hanya untuk mencari-cari pakaian, sepatu dan tas untuk keperluan pribadinya.


"Sudah sepertinya. Aku juga baru saja dari supermarket dan membeli banyak kebutuhan makanan dan minuman untuk kita. Tapi aku simpan di bawah di bagian penitipan barang," ucap Dini pelan sambil nyengir tanpa dosa.


"Lho, Ibu sudah belanja banyak Dini," ucap Mita tiba-tiba.


"Tidak apa-apa Bu. Dini juga ikut tinggal disana, sudah seharusnya Dini juga membeli bahan makanan setidaknya untuk Dini sendiri. Ibu Mita dan Mas Adam sudah terlalu baik untuk Dini, hanya ini yang bisa Dini lakukan untuk membalas semua kebaikan Ibu dan Mas Adam," ucap Dini pelan.

__ADS_1


"Dini ... Mas senang bisa membantu kamu. Jangan pernah sungkan jika ada apa-apa, tinggal bicara kepada Ibu atau Mas. Kita semua pasti membantu kamu," ucap Adam pelan.


"Tapi ... Kedatangan Dini malah membuat hal buruk ikut terjadi pada keluarga kecil Mas Adam," ucap Dini pelan.


"TIdak Dini. Jangan pernah berpikir buruk seperti itu. Mas Adam dan Ibu tidak pernah merasa terganggu. Kejadian tadi mungkin hanya kebetulan saja. Jangan kamu pikirkan dan jangan risau, Dini. Kamu tetap fokus dan pikirkan bayi yanh ada dalm kandunganmu," tegas Adam.


"Iya Mas Adam. Terima kasih semuanya telah menerima dan membantu Dini. Untuk Ibu Mita juga," ucap Dini lirih. Tak terasa air matanya luruh begitu saja terjatuh di pangkuannya. Baru beberapa hari tinggal bersama Ibu Mita dan Mas Adam tapi rasanya seperti sudah lama sekali.


Adam menghirup napas panjang. Inginmenanyakan sesuatu sesuai janji Dini tadi yang ingin bercerita tentang dirinya.


"Ada apa Mas? Kok kayak cemas gitu?" tanya Dini pelan sambil menikmati makanan yang tersaji di depannya.


"Ceritakan tentang dirimu ynag sebenarnya Dini. Tentang uang itu, tentang kehamilanmu, tentang semuanya. Jangan ada yang kamu tutupi atau kamu sembunyikan dari Mas atau Ibu. Biarkan kami berdua benar-benar tahu siapa kamu. Bukan menjadi alasan terrtentu setelah mengetahui tentang kamu, setidaknya kami tahu kebenarannya dari kamu sendiri, bukan dari orang lain. Apapun kamu, siapapun kamu, kami disini tetap menerima kamu dengan baik dan tulus," ucap Adam pelan menjelaskan.


Dini terdiam sedikit ragu untuk menceritakan tentang dirinya sendiri. Ragu karena masa lalunya yang tidak baik, ragu karena ada ketakutan tersendiri jika kejujurannya malah membuat Ibu Mita dan Mas Adam tidak bisa menerimannya lagi atau tidak bisa menerima masa lalunya yang hanya seorang wanita malam.


Mita menggeser kursinya dan duduk di sebelah Dini. Satu tangan Ibu Mita memeluk Dini. Terkadang ada perasaan iba kepada Dini, tapi juga kadang ada perasaan tidak suka terhadap gadis cantik itu. Mungkin rasa tidak sukanya karena Dini tidak jujur tentang siapa dirinya sebenarnya.


"Coba pelan-pelan kamu ceritakan siapa dirimu? Ceritakan dengan runtut, apa yang sebenarnya terjadi dengan dirimu Dini," pelan Mita menanyakan dengan sanga lembut. Mita sendiri berusaha untuk tidak bertanya dengan cecar kepada Dini, takut ucapannya akan menyinggung perasaan Dini.


Dini masih terdiam dan menunduk. Dini juga bingung harus memula menceritakan dirinya mulai dari mana.


Dini menarik napas dalam dan menghembuskan napas itu perlahan. Dini berusaha menenangkan hati dan pikirannya agar saat menceritakan tentang dirinya bisa lebih tenang.


"Ayolah Dini. Mas juga ingin mendengarkan secara langsung dari mulutmu sendiri. Mas ingin membantumu jika memang kamu membutuhkan bantuan Mas. Setidaknya Mas jadi tahu apa yang sebenarnya terjadi dan menimpa diri kamu," ucap Adam pelan.

__ADS_1


Dini semakin tegang rasanya. Bukan karena permintaan Ibu Mita dan Mas Adam untuk Dini jujur tentang dirinya. Tapi, banyak faktor yang mmebuat Dini semakin berkeringat dingin. Seolah setelah ini ada kejadian lain yang tidak baik akan menimpanya.


"Baiklah. Dini akan bercerita. Dini bukanlah wanita baik. Dini adalah wanita malam. Awalnya Dini di jual oleh Paman dan Bibi Dini, karena sejak kecil Dini di asuh oleh mereka dan Dini tidak mengenal siapa orang tua Dini sebenarnya. Mulai sejak itu Dini bekerja dengan Bunda Mawar, seorang mucikari. Baru-baru ini seorang pelangga Dini menikahi Dini secara siri, i apria tuayang baik, yang mau menerima Dini dan menarik Dini dari lembah hitam yang telah lama menggelayuti kehidupan Dini. Tapi, lelaki itu pergi meninggalkan Dini karena istrinya tidak terima karena suaminya menikah kembali. Lalu, ingin menjual Dini sebagai pemuas hasrat teman-temannya ...." ucapan Dini pun menggantung dan Dini terdiam menelan pahit getir kehidupannya yang begitu menyedihkan.


Sakit rasanya harus mengulang, menceritakan dan mengingat kembali apa yang telah terlewati.


Adam menatap sendu dan hanyut dalam cerita Dini yang begitu pilu. Adam bisa merasakan kesedihhan yang dirasakan gadis cantik itu. Kehidupannya dan orang-orang di sekitarnya yang membuat Dini terperosok dalam dunia lembah hitam.


"Lalu, Kamu kabur?" tanya Adam tiba-tiba mengingat Dini yang keluar dari parkiran lalu menyetop angkutan umum yang lewat tanpa melihat arah tujuannya.


Dini mengangguk pelan. Dirinya memang kabur saat itu.


"Iya, saat itu ada lelaki tua yang menjemputku dan katanya itu adalah pemesan tubuhku yang telah di jual oleh suami siriku sendiri untuk mendapatkan uang, karena usahanya telah bangkrut. Dini takut, dan Dini tidak mau menjadi wanita pemuas nafsu bagi pria-pria kesepian. Dini hanya ingin hidup normal sebagai perempuan yang bisa sekolah lalu bekerja dan hidup bahagia. Dini menyesal!!!" teriak Dini yang tertahan oleh isakan tangisnya.


Air matanya sudah luruh jatuh ke pangkuannya. Rasa getir di hatinya semakin terasa sekali dan membuat sesak di dadanya.


"Sabar Dini. Ada Ibu saat ini yang akan membantu Dini. Ada Adam juga yang tentu akan menjagamu karena kamu sudah kami anggap keluarga," ucap Mita lirih. Kedua mata Mita juga ikut basah mendengar cerita Dini yang tidak biasa.


Rasanya tentu berat di usia belia harus di jual oleh keluarganya sendiri apapun alasannya keluarganya menjual Dini.


"Dini seblumnya di perkosa oleh Vian, sepupu Dini, anak dari Paman dan Bibi Dini. Sampai saat ini hidup Dini selalu di teror karena Vian sudah kecanduan harus menikmati Dini setiap malam, kalau tidak tiubuh Via akan bergetar hebat seperti orang yang sedang sakau.


Adam menatap Dini yang masih terisak. Adam tahu semua yang dikatakan Dini adalah kejujuran. Mita hanya bisa manatap Adam dan saling menarik napas panjang mendengar kisah yang pilu itu.


"Ya Bos. Saya sudah menemukan wanita malam itu. Kini dia ada di depan saya dengan keluaga barunya yang telah menolongnya. Kira-kira ini perlu di eksekusi kapan?" tanya lelaki berbaju putih itu sambil menelepon Sang Bos yang menyuruhnya.

__ADS_1


Anggukan paham dari lelaki itu dan menatap tjaan bagaikan elang uang ingin memangsa ke arah Dini. Lelaki itu mencoba mencari waktu yang tepat sesuai rencananya.


__ADS_2