Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
BAHAGIA PUNYA BAYI


__ADS_3

Enam bulan kemudian ...


Semua sudah kembali normal. Windu dengan aktivitasnya menjalanakna usahanya yang kian sukses. Begitu juga dengan wibisono yang berhasil membuat kejutan dengan mendapatkan banyak keuntungan dari proyek raksasa itu hingga Arag pun ikut bertepuk tangan dan mengacungi jempol atas usaha dan kerja keras Wibisono selama ini.


Arga mendapatkan banyak keuntungan dari bisnisnya ini. Ia makin mempercayai kinerja Wibisono yang benar -benar mumpuni.


"Hai ... Selamat ya ... Aku dengar bisnismu makin membukit," tawa Windu sambil mengantarkan pesanan makanan Arga yang duduk manis sambil memainkan ponselnya.


"Hei ... Apa kabar? Aku baru mampir lagi, banyak kerjaan di luar kota juga," ucap Arga pelan sambil menyeruput es rainbow yang menjadi minuman spesial di cafe bambu.


"Gimana?" tanya Windu yang ikut duduk di depan Arga.


Windu sudah lama tak berkomunikasi dengan suaminya, Wibisono. Ia hanya mengantarkan makanan setiap hari untuk Wibisono tanpa tahu bagaimana keadaannya.

__ADS_1


"Gimana apanya? Bukannya hubunganmu sudah membaik?" tanya Arga pelan menatap lekat ke arah Windu.


"Hah? Apa? membaik? Dari mana? Dari dulu juga belum ada komunikasi. Aku hanya mengantar makanan saja, gak lebih. karena pernah di tolak, pernah di kembalikan, pernah di usir juga," ucap Windu pelan mengingat itu semua.


"Kau tahu. Dia memenangkan banyak keuntungan dari proyek ini. Jadi aku ke sini untuk mengembalikan modal kamu. Lagi pula Wibisono sudah bisa berdiri sendiri. Finansial di perusahaannya sudah cukup kuat untuk mandiri, walaupun aku sudah percaya penuh padanya," ucap Arga pelan menjelaskan.


Windu menggelengkan kepalanya pelan seolah tak percaya. Wakti yang singkat bisa merubah semuanya menjadi lebih baik. Bahkan hutang Wibisono pun sudah lunas berkat usaha Windu selama ini tanpa di ketahui Wibisono.


"Wah ... Aku ikut sennag. Tapi, di mana dia tinggal sekarang?" tanya Windu pelan.


"Jangan bercanda. Ya tingga sama kanulah? Gak usah main -main sama Arga," ucap Arga menelisik.


"Main -main gimana? Tinggal sama aku? Aku saja tinggal sama Ibu. Kalau Mas Wibisono tinggal sama aku, tentu Ibu dan Bapak juga tahu. Ini gak ada. Eh ... istri Mas Wibisono kan bukan aku aja. Tapi ...." uacpan Windu terhenti. Ia ingat, dia bukan satu -satunya istri Wibisono. Masih ada istri yang lainnya.

__ADS_1


"Windu? Kamu kenapa? Wajahmu murung. Hei ... Cantik, apa yang kamu pikirkan?" tanya Arga pelan.


"Ahh ... Tidak apa -apa. Kau lupa? Aku bukan istri satu -satunya Mas Wibisono," ucap Windu lirih. Dadanya bergemuruh dan sesak sekali rasanya.


Arga meletakkan sendoknya. Ia lupa akan hal itu. Bisa saja selama ini Wibisono tinggal bersama istri tuanya.


"Kau tidak bercanda kan? Dia bilang, dia beli apartemen dan tinggal bersama. Dan dia sedang berbahagia .... Karena ..." ucapan Arga kini yang berhenti.


Ya, Arga melupakan sesuatu. Arga lupa tentang keluh kesah Windu saat itu. Windu adalah wanita kedua yang di minta istri pertamanya untuk menemani Wibisono dan di harapkan bisa mengandung anak dari Wibisono.


"Bahagia? Bahagia kenapa?" tanya Windu penasaran.


"Dia memiliki bayi dari istrinya. Aku lupa, jika kamu bukan istri satu -satunya. Tapi ... Dia punya bayi, itu tandanya dia bisa menghamili, istrinya?" ucap Arga pelan tanpa menyinggung perasaan Windu.

__ADS_1


Windu terdiam. Ia tak menjawab. Ia sama sekali tidak pernah berhubungan badan dengan Wibisono, suaminya.


__ADS_2