Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
32


__ADS_3

Mita terdiam dan tidak menjwab. Rasanya bukan itu maksud dari ucapannya. Dini suah salah paham dengan maksudnya.


"Bukan Dini. Maksud Ibu, semua itu bukan untuk menolak kamu. Ibu bahkn senang bila kamu memang mau tinggal di sini. Ibu seperti memiliki anak perempuan dan mungkin hari-hari Ibu tidak kesepian lagi," ucap Mita pelan menjlaskan semuanya dengan detail.


Dini melempar senyum yang hangat. Baru satu hari di rumah ini, Dini seperti merasakan rumah kedua baginya. Suasananya sungguh hangat dan benar-benar baik untuk dirinya.


"Maafkan Dini yang sudah salah paham, Bu. Dini takut jika Ibu dan Kak Adam memang tidak menerima Dini saat ini. Entah bagaimana nasib Dini tanpa ada kalian berdua," ucap Dini pelan sambil meneuk kembali air yang masih tersisa di gelasnya tadi.


Mita bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Dini yang duduk di kursi berhadapan dnegannya. Memeluk gadis itu dari arah belakang dan mencium pelan kepala Dini dnegan penuh kasih sayang. Entah apa yang membuat Mita tiba-tiba menjadi begitu sayang dan peduli dengan Dini.


"Pintu maaf Ibu akan sellau terbuka untuk kamu, Dini. Maafkan Ibu yang juga sudah berpikiran buruk tentang kamu kemarin. Ibu hanya merasa takut kehilangan Adam dalam waktu dekat. Ibu hanya memiliki Adam. Rasanya Ibu belum bisa melepaskan Adam walaupun untuk perempuan pilihannya. Ibu takut akan di tinggalkan begitu saja, da mereka mencari kehidupannya sendiri," ucap Mita pelan menjelaskan.


Dini memegang kedua tangan Mita yang berada di dadanya dan mengusap lembut tangan itu.


"Ibu ... Kan sudah ada Dini. Kak Adam juga sudah dewasa, kalau pun sudah memiliki calon istri untukk dikenalkan kenapa Ibu harus risau? Bukankah itu hal bik, tandanya Ibu akan memiliki seorang menantu dan cucu dari keturunan Ibu?" ucap Dini pelan. Kata-kata bijak itu lolos begitu saja dari bibirnya.


Memang secara tidak langsng sikap dan tutur kata Dini terbilang cukup baik da tidak kasar. Sebagai pekerja **** dan wanita malam, Dini termasuk gadis yang baik dan jujur. Kepolosan dan kebaikannya ini, membuat Dini banyak di sukai oleh lelaki hidung belang yang ingin memakai jasanya.


Bukan hanya untuk memuaskan di ranjang saja. Kadang Dini di ajak untuk sekedar menemani para lelaki hidung belang itu makan malam di tempat yang luar biasa mahal sekelas dengan para sultan.


"Kamu baik sekali Dini. Ibu malah berbalik menjadi lebih sayang kepadamu. Oh iya, bagaimana? Kamu sudah cek kandungan kamu? Ibu suda meletakkan alat pendeteksi kandungan di atas meja rias?" tanya Mita pelan sambil mengendurkan pelukannya.


Dini menoleh ke arah Mita yang sedang menunggu jawabanny.


"Ekhm Ibu ... Dini tidak tahu cara pakainya seperti apa?" tanya Dini pelan penuh keraguan. Pertanyaan polos yang mencelos begitu saja dari bibir mungil Dini tanpa dosa.


Sontak saja Mita tertawa pelan. Bukan untuk menghina tapi cukup merasakan lucu dengan apa yang di ucapkan Dini. Ini jaman modern, dan semua tutorial apalagi hal yang sudah umum bisa di pelajari dari internet termasuk cara pemakaian alat pendeteksi kehamilan itu. Apalagi, anak remaja sekarang sudah berani melakukan hubungan **** secara bebas, untuk penggunaan alat pendeteksi kehamilan pun bukan maslah yang sulit.

__ADS_1


"Kamu yakin tidak bisa menggunakannya?" tanya Mita pelan dengan wajah penuh keheranan.


Wanita yang terlihat high clas seperti Dini, tapi hal penting dan umum seperti itu saja tidak di ketahuinya.


Dini menggelengkan kepalanya dnegan cepat. Tertawwa Mita dnegan mimik wwwwajah yang terlihat ini hnya lelucon pun membuat Dini seolah menjadi wanita yang sangat bodoh. Ada banyak hal di luar sana yang tidak di ketahui oleh Dini. Karena semua kehidupan Dini yng serba terbatas. Dini hanya berada di rumah, kalau sore di antar Pamannya ke rumah prostitusi Bunda Mawar untuk bekerja hingga pulang larut malam atau bahkan hingga pagi-pagi buta Dini baru kembali ke rumah. Lalu, memasak dan istirahat dan seperti itu terus kehidupannya selama ini. Tidak ada pengalaman lain atau pembelajaran lain.


Mita langsung menutup mulutnya saat melihat raut wajah Dini yang terlihat sangat sedih dan murung. Bisa-bisanya hal seperti ini jadi bahan tertawaan. Mungkin saja memang Dini tidak tahu apa-apa, dan soal kehamilan itu bisa saja dari hasil pemerkosaaan. Gadis ini begitu sangat lugu dan polos sekali, batin Mita di dalam hatinya.


"Maafkan Ibu, Dini. Apakah kamu benar-benar tidak tahu cara memakainya?" tanya Mita pelan menatap lekat kedua mata Dini.


Dini megangguk pelan dan begitu pasrah. Memang itu kondisi yang sebenarnya.


"Nanti, Ibu bantu ya. Sekarang kita makan dulu ya. Ibu sudah tidak tahan melihat semua masakan kamu ini untuk segera mencicipinya," ucap Mita pelan untuk menghibur Dini.


Tepat di waktu yang bersamaan, Adam pun keluar dari tempat persembunyiannya. Sejak tadi Adam menguping pembicaraan kedua anita yang berbeda usia itu. Entah kenapa, Adam semakin kagum dan ingin mengenal Dini lebih lagi. Adam hanya tahu, Dini adalah wanita baik dan terhormat, selebihnya Adam tidak tahu. Mungkin kalau Adam tahu tentang siapa Dini sebenarnya , bisa jadi Adam akan membenci Dini atau malah sebaliknya. Entahlah biarkan semua takdir perjalanan hidup menghampiri setiap manusia secara wajar.


Mita hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Mita sangat tahu, sejak tadi Adama berada di balik dinding ruangan ini, tentu tahu apa yang sejak tadi di obrolkan oleh Mita dan Dini.


Adam menarik kursi makan lalu duduk dan bergegas mengambil piring.


"Adam. Pelna-pelan Nak. Ikan nilanya juga tidak akan kabur," ucap Mita dnegan pelan.


Adam pun tertawa kecil. Ibunya tidak tahu saja, sejak ikan ini dalam minyak panas dan menghasilkan aroma wangi yang luar biasa, perutnya sudah berteriak menginginkan ikan nila itu dengan segera berpindah ke dalam perutnya.


"Ibu. Adam ini sangat lapar, habis joging," jawab Adam sambil tertawa.


Dini hanya tersenyum lalu mengambilkan nasi ke dalam piring Adam.

__ADS_1


"Sini Kak Adam, biar Dini ambilkan," ucap Dini pelan dn penuh ketulusan.


Dini memang sudah biasa melakukan ini. Dulu kepada Vian, sepupunya yang sangat manja. Lalu, satu bulan kemarin, Dini benra-benar belajar menjadi seorang istri yang baik untuk melayani Herman, suami sirinya.


Kini, Dini hanya melakukan kebiasaan baik itu kepada Adam bukan untuk maksud lain.


Adam menatap Dini tanpa berkedip. Gadis cantik di depannya ini benar-benar bagaikan bidadari tak bersayap yang datang dalam wujud manusia. Jarang-jarang, Adam menemukan wanita yang peka dan terlihat nagat anggun seperti Mita, Sang Ibu.


"Ini ikannya cukup? Mau bakwan jagung juga?" tanya Dini pelan saat nasi putih sudah berada di piring dan Dini mengambilkan lau pauknya.


Adam masih menikmati wajah Dini dan melamunkan gadis itu yang selalu ada di pikirannya saat ini.


"Kak Adam?" panggil Dini saat menoleh ke arah Adam yang sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.


Mita pun menyenggol lengan Adam yang masih melamun sambil senyum-senyum sendiri menatap kososng ke arah Dini.


"Adam!!" panggil Mita dengan tepukan pelan di bahu adam hingga membuat anak lelakinya itu terpernjat kaget.


"Iya Bu," jawab Adam yang sadar dari lamunannya. Mimpinya seolah buyar dan wajahnya kini merengut karena kaget.


"Kamu ini. dini sejak tadi bertanya, mau seberapa banyak ikan nilanya? Kamu diam saja. LAgi mikirin apa sih?" tanya Mita pelan sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Eh anu itu ... Tadi kepikiran sama kucing tetangga yang mau melahirkan," jawab Adam sekenanya. Adam takut apa yang yang di pikirkannya bisa di tebak dengan tepat oleh Mita, Sang Ibu.


"Kak Adam, ini ikannya sudah cukup?" tanya Dini kembali mengulang sambil tersenyum manis.


Adam menoleh ke arah Dini. Senyuman itu sssangat inadh sekali. Lesung pipi Dini begitu sempurna menghiasi pipi gembil Dini. Rambut yng d cepol ke atas dan memperlihatkan jenjang leher yang putih mulus membuat Adam sebagai laki-laki pun bergairah melihat Dini. Padahal Dini mekmakai daster panjang berlengan milik Mita, Sang Ibu. Daster yang terlihat kebesaran, namun membentuk tubuhnya dengan sempurna karena bahan daster itu yang sangat tipis dan tidak mengembang.

__ADS_1


__ADS_2