Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
WANITA PARUH BAYA


__ADS_3

Arga sudah di bawa ke ruang perawatan. Kamar rawat inap kelas VIP. Windu juga ada di ruangan itu menemani Arga yang belum terbangun juga.


Windu duduk di sofa sambil menonton TV dan menikmati cemilan yang di belinya di kantin rumah sakit.


Sesekali kedua matanya melirik ke arah tempat tidur pasien sambil mengecek infusan yang masih ada atau perlu di ganti yang baru.


Arga masih terlihat pulas dan terlelap. Suara berisik televisi pun sama sekali tak membuatnya terganggu.


Windu tak mengenal keluarga Arga satu pun. Dokter pun sama sekali tak membahas itu tadi.


Tok ... tok ... tok ...


Kedua mata Windu menatap pintu kamar rawat inap dan meletakkan cemilan yang sedang di nikmatinya di atas meja. Windu bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu, lalu membuka pintu kamar itu.


"Arga mana?" tanya wanita paruh baya yang masuk ke dalam kamar rawat inap itu dengan kasar mendorong pintu.

__ADS_1


Jelas terlihat panik di wajah perempuan itu. Windu hanya menutup kembali pintu ruangan rawat inap itu dan berjalan mengikuti perempuan paruh baya tadi.


Wanita paruh baya itu langsung menghampiri Arga yang masih terbaring lemah di ranjang pasien dan emmegang tangan Arga dengan erat.


Windu hanya berdri di ujung ranjang pasien arah berseberangan dan menatap lekat wajah wanita paruh baya itu dan apa saja yang di lakukannya.


Merasa gerak geriknya sedang di awasi. Wanita paruh baya itu pun menoleh ke arah WIndu dan membalas tatapan Windu. Raut wajahnya beubah drastis. Semula pas datang wanita paruh baya itu nampak cemas, panik dan takut. Namun kini, lebih terlihat sedikit tenang, walaupun masih terlihat ada kekhawatiran di wajahnya.


"Kamu pasti Windu?" tanya wanita itu langsung menuduh dengan tepat.


"Kenapa? Kamu terkejut? Kalau saya bisa kenal kamu? Tahu nama kamu?" tanya wanita paruh baya itu pun langsung to the poin.


Ucapan wanita paru baya itu pun juga semakin membuat Windu bingung. Belum juga hilanag dari rasa penasaran ingin tahu siapa wanita paruh baya ini? Di tambah mengetahui nama Windu dengan tepat dan kini ia bicara seolah telah mengenal Windu dengan baik.


Windu hanya mengangguk pasrah dengan wajah terkejut yang masih terlihat bodoh.

__ADS_1


"Betul. Nyonya siapa?" tanya Windu pelan. Pertanyaan bodoh yang sama sekali tak baik di lontarkan kepada wanita di depannya itu. Wanita yang sembilan bulan mengandung Arga dan melahirkan puteranya itu dengan sehat.


"Kenalkan, Nama saya Lena. Saya ibu kandung Arga. Arga sudah banyak cerita tentang kamu, Windu, kekasihnya," ucap Lena dengan suara lantang.


Deg ...


Deg ...


Deg ...


Suara lantang Ibu Lena masih terngiang di telinga Windu dan membuat kepalanya sedikit oleng tak wajar. Bukan tak percaya, tapi Windu terkejut di katakan sebagai kekasih Arga. Padahal, Windu masih berstatus istri Wibisono dan bukan perempuan single. Dan pastinya ARga tahu tentang itu, kenapa juga harus berbohong dan membohongi mentah -mentah wanita paruh baya yang mempercayai begitu saja ucapan Arga.


"Hei ... Windu? Kenapa melamun? Kamu masih tidak pecaya? Jika kita bertemu di tempat ini. Seharusnya pertemuan kita masih dua hari lagi. Tapi takdir membawa kita bertemu lebih cepat," ucap Ibu Lena dengan tegas.


Ibu Lena menjelaskan semuanya tanpa ada rasa canggung dan tanpa basa basi. Sejuta pertanyaan kini berada di kepala Windu. Pertemuan apa dua hari lagi? Lalu sebenarnya ada apa ini? Drama apa lagi? Masalahku dengan Mas Wibisono saja belum juga beres, dan ini muncul masalah baru.

__ADS_1


Windu terus mengumpat dalam hatinya. Bukan menggerutu karena menyesal. Tapi, mengeluh sebenarnya ada apa ini. Hanya itu saja


__ADS_2