
"Hei ... Gadis cantik?! Bangun, kita sudah sampai," ucap Adam pelan sambil menepuk lembut pipi Dini yang masih terlelap.
"Eungh ...." leguh Dini sambil membenarkan posisi duduknya. Kedua matanya masih terpejam lengket dan tidak mau membuka.
"Cantik ... Kamu tidak mau turun? Tidak mau makan? Ibuku sudah memasak makanan yang sangat lezat," ucap Adam menjelaskan.
Adam pun meyentuh pipi Dini, lalu pindah ke bagian kening. Tubuh Dini mulai menghangat.
"Hei .... Bangunlah ...." ucap Adam lembut sambil menepuk-nepuk pelan pipi Dini yang tak kunjung bangun.
Sang Bunda penasaran, sejak tadi Adam berada di pintu samping mobil. 'Apa yang sedang di kerjakannya?' batin Sang Bunda di dalam hati.
Mita terkejut, langkah kakinya terhenti. Entah harus senang atau sedih melihat Adam membawa perempun untuk pertama kalinya. Namun, pilihannya kenapa harus seperti itu.
"Siapa dia, Adam? Kenapa tidak kamu ajak masuk? kenalkan pada Ibu," ucap Mita pelan.
kini giliran Adam yang terkejut. Adam berdiri tegak dan menatap Sang Bunda yang sudah mendekat ke arahnya.
"Eh ... Ini ... Anu Ibu .... jangan salah paham," ucap Adam pelan tergagap. Adam bingung dan cemas bagaimana harus menjelaskan kepada Ibunya tentang Gadis yang ia tolongnya di jalan.
"Kenapa wajahmu panik?" tanya Sang Bunda yang langsng menghampiri Adam. Mita mendekat untuk melihat perempuan yang di bawa oleh Adam. Kenapa gadis itu tidak mau turun dan masuk ke dalam rumah.
Adam menggelengkan kepalanya dnegan pelan dan berusaha menutupi gadis itu dengan tubuhnya. Adam malu, membawa gadis yang tidak menutup aurat dan hanya terbalut oleh jaket kulit miliknya untuk menutupi tubuh polos gadis cantik itu.
"Argh .... Kenapa di kakinya menglir darah? Darah apa itu? Siapa gadis ini sebenarnya? Jelaskan kepada Ibu, Adam?" ucap Sang Bunda yang ikut panik setengah mati.
Mita hanya takut, Adam melakukan hal yang tidak terpuji. Adam sejak kecil selalu di didik dengan pondasi iman yang kuat. Jadi, kalau dalam perjalanan hidupnya mengalami kegoyangan maka harus ada yang di pertanyakan. salah Mita dalam mendidik Adam di bagian mana?
__ADS_1
"Ini I-Ibu yang ingin Adam minta tolong. A-adam menemukan gadis ini setelah di perkosa secara bergilir di pematang sawa," ucap Adam pelan menjelaskan kepada Mita, Sang Bunda.
"Angkat sekarang. Bawa masuk ke dalam, baringkan di kamar Ibu, biar Ibu siapkan air hangat dan peralatan medis untuk memeriksa gadis ini," ucap Mita pelan.
Tanpa pikir panjang lagi, Adam langsung mengangkat tubuh mungil yang setengah polos itu untuk segera di bawa masuk dan segera mendapatkan perawatan dari Sang Bunda. Mita sendiri langsung menyiapkan air hangat untuk mengelap tubuh Dini dan segera memberikan pertolongan pertamanya.
Dengan telaten, Mita merawat Dini yang ternyata tidak sadarkan diri. Seluruh tubuh Dini di elap bersih dengan air hangat. Darah yang keluar dari pahanya masih di cari tahu, apa penyebabnya.
Mita keluar dari kamar tidurnya dan ikut duduk di samping Adam yang sejak tadi terlihat panik dan cemas. Mita mengambil air teh manis hangat dari cangkir yang ada di meja.
"Sebenarnya gadis itu siapa?" tanya Mita dengan suara lembut, sambil meletakkan cangkir di meja.
Tatapannya lembut mencari penjelasan di kedua mata Adam. Adam hanya menarik napas panjang, danmenghembuskan pelan napas itu melalui rongga hidungnya.
"Baiklah Ibu. Adam akan menceritakan sejelas-jelasnya. Jujur, Adam tidak mengenal siapa gadis itu sebenarnya. Adam bertemu gadis itu tanpa sengaja dua kali, yang pertama saat berada di kampus dan yang kedua saat menolong dari perkosaan lelaki yang tidak bertanggung jawab," ucap Adam pelan dan menutup rapat kedua bibirnya.
"Lalu apa Bu? Tidak ada kelanjutannya, hanya itu," jawab Adam singkat.
"Peduli sekali kamu dengan gadis itu? Kenapa harus kamu bawa kemari, kenap tidak kamu tinggal gadis itu di klinik atau rumah sakit? Atau mungkin antar ke rumahnya? Kamu tahu, jika gadis itu di sini, akan banyak timbul masalah baru," ucap Mita pelan.
Adam pun terkejut dengan ucapan Sang Ibu. Adam tidak berpikir panjang hingga ke arah sana. Adam hanya berpikir, Mita, Sang Ibu adalah seorang peraat dan tentu bisa membantu gadis yang ditemukan tidak sengaa itu. Hanya itu, tidak ada yang lain.
"Adam hanya bersikap manusiawi, Bu. Dalam pikiran Adam hanya ingin membantu, tidak lebih," ucap Adam pelan. Dirinya memang tidak berpikir macam-macam.
Mita hanya mengangguk pelan dan paham dengan apa yang di jelaskan oleh Adam.
"Lalu, kamu mau menunggu hingga gadis ini siuman? Tidak mau mencari tahu keluarganya?" tanya Mita pelan.
__ADS_1
"Ibu keberatan? Jika gadis itu sementara berada di sini? Takutnya gadis itu trauma?" ucap Adam memberikan penjelasan.
"Bukan keberatan. Tapi, Ibu tidak mau maslaah ini akan menimbulkan masalah baru. Gadis itu orang baru. Kamu pun tidak mengenalnya dengan baik. Lalu, jika gadis itu sudh sadar, apa ia akan terima dengan segala kebakan kamu?" tanya Mita pelan.
"Ibu ... tolong jangan suudzon dengan semua ini. Kit hanya membantu. Hanya itu, setelah itu kita antarkan gadis itu pulang ke rumahnya," ucap Adam meyakinkan Sang Ibu.
"Ya sudahlah. Kit makan dulu, tadi Ibu sudah masak, bia Ibu siapkan. Ibu tunggu di meja maan," ucap Mita pelan.
Mita pun berlalu ke arah dapur untuk mempersiapkan berbagai makanan yang telah di masaknya. Hari ini adalah hari kedatangan Adam, anak kesayangannya. Mita selalu masak apapun yang menjadi kesukaan Adam.
Di lain tempat, Denis berputar-putar mencari keberadaan Dini. Sudah tiga kali Denis mengitari area kampus dan meminta bantuan satpam untuk turut mencari Dini, Nona Muday.
Ponselnya beberapa kali berdering, Tuan Herman menelepon berkali-kali untuk mengetahui keberadaan Dini.
"Pengawal macam apa kamu!! Menjaga Dini yang kecil dn mungil begitu asaja, kamu tidak bisa!! Kamu tahu, Dini itu asset untukku!! Dia bisa menjadi mesin penggerak uang untuk aku dapatkan demi menjalankan usaha bisnis baruku!! Cari Dini sampai ketemu!! Atau hidupmu selesai!!" ancam Tuan Herman dengan kasar dan tegas.
Denis hanya bisa terdiam dan tidak bisa menjawab apapun yang di pertanyakan Tuan Herman. Memang seperti ini kenyataannya, Dini melarikan diri dengan alasan meminta di belikan makanan dan minuman. Alasan itu ternyata hanya tipu muslihat Dini, untuk pergi dari jeratan baru yang di lakukan Herman kepada dirinya.
PROK!!
PROK!!
PROK!!
"Bagus sekali aktingmu Tuan Besar. Hanya dengan cara ini, hidupmu dan kebahagiaanmu dengan Siska bisa di kembalikan," ucap Lelaki berkaca mata hitam yang sejak tadi berada di dekat Herman yang tidak lagi berdaya.
"Tolong, Jangan buat Dini menderita dengan mengambil kesempatan ini," ucap Herman memohon kepada lelaki berkaca mata hitam itu.
__ADS_1
"Cih ... Lihat!! Tanpa Siska hidupmua akan selamanya miskin. Untuk apa memiliki perempuan cantik sekelas Dini, jika tidak kamu gunakan untuk mencari uang?!!" tegas lelaki berkaca mata hitam itu.