Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
41


__ADS_3

"Apa Kak?" tanya Dini pelan. Dini masih menatap Adam dari arah samping menunggu lanjutan ucapan Adam.


"Tidak jadi. Bukan sesuatu yang pentung, " ucapnya sambil tersenyum ke arah Dini.


Dini mencoba membalas senyuman itu secara di paksakan dan menatap ke arah tangannya yang masih di genggam erat oleh Adam tanpa sengaja.


"Eh ... Maaf. Kamu keberatan Dini?" tanya Adam pelan. Entah kenapa hatinya bergetar memegang tangan kanan Dini yang begitu lembut.


"Tidak apa-apa Kak. Hanya saja Dini takut dengan Kak Zya bila melihat ini semua menjadi salah paham," ucap Dini pelan.


"Kakak dan Zya tidak ada apa-apa. Kami tidak punya hubungan khusus. Hanya saja, Ibu ingin menjodohkan Zya denganku," jawab Adam dengan jujur.


Adam menatap Dini yang tidak merespon apa pun. Sebebarbya Adam berharap, Dini merespon apa yang di ucapkannya.


"Kamu tidak merespon?" tanya Adam yang merasa bingung.


Menggandeng tangan adalah suatu bentuk rasa kagum dan rasa suka Adam terhadap Dini, tapi Dini terlihat biasa saja dan tidak menanggapi.


Bagi Dini, di manjakan oleh lelaki adalah hal biasa. Kehidupan malam yang telah di laluinya telah mengajarkannya untuk membuat hati dan perasaannya membeku dan tidak mengenal rasa cinta serta kasih sayang. Dini hanya tahu tentang kebaikan, menghargai dan saling membantu. Hanya itu.


"Aku harus bersikap bagaimana Kak? Bahagia atau senang?" tanya Dini sedikit ketus.


Adam menggelengkan kepalanya.


"Tidak Dini. Maaf kalau Kakak lancang. Kamu lanjutkan semua pencarian kebutuhanmu di toko ini. Lihatlah ke atas. Itu tempat pertemuan kita. Setelah Kakak dan Ibu selesai belanja kita akan langsung kesana," ucap Adam menegaskan.


"Iya. Baiklah," ucap Dini pelan.


Keduanya berpisah. Adam menyusul Ibu Mita untuk masuk ke dalam supermarket, sedangkan Dini melanjutkan pencariannya untuk memilih berbagai perlengkapan untuk kebutuhannya.


Satu tangannya mengusap perut ratanya yang kini telah di tinggali makhluk suci tanpa berdosa.

__ADS_1


"Sabar sayang. Mama pasti akan menjagamu dengan baik. Mama tidak akan membuat kamu merana seperti yang dirasakan Mama selama ini," lirih Dini sambil mencari-cari pakaian yang pantas untuk dirinya.


Dini bertekad untuk merubah dirinya. Setidaknya bisa bersikap baik dan menghargai orang lain adalah salah satu sikap yang sering di ajarkan Ustad di salah satu mushola tempat dulu Dini sering belajar mengaji.


'Argh ... Rindu masa-masa itu. Walaupun aku tidak pernah tahu, siapa Ibuku dan siapa Ayahku,' batin Dini di dalam hatinya.


Tubuh Dini seolah tergerak untuk memasuki salah satu butik yang ada di tko besar itu. Toko itu hanya menjual pakaian panjang yang menutupi seluruh tubuh.


'Mana pantas aku memakia baju seperti itu. Dosaku sudah terlalu besar untuk bisa mendapatkan maaf dari Sang Pencipta,' batin Dini mengeluh.


"Mau cari apa?" tanya seorang pelayan kepada Dini.


"Oh ... Pakaian yang tertutup yang penting sopan," ucap Dini terbata-bata. Rasanya sangat malu sekali bicara seperti itu.


"Pakai hijab?" tanya wanita muda itu yang memnag bertugas membantu memilihkan pakaian yang di butuhkan oleh pelanggannya.


"Hijab? Penutup kepala maksudmu?" tanya Dini pelan setengah berbisik.


"Ya itu penutup kepala maksudku," jawab pelayan itu agak ragu. Lucu juga Hijab harus di katakan penutup kepala, lalu apa bedanya dengan handuk yang sering di lilitkan emak-emak di rumah setelah keramas, itu juga penutup kepala. Pelayan itu tertawa di dalam hatinya.


'Untung saja cantik, jadi tidak perlu berdebat karena kepolosannya,' batin pelayan itu masih tersenyum kecut.


"Saya tidak memakai itu. saya hanya ingin pakaian yang sopan dan tidak terbuka atau vulgar," ucap Dini memberikan penjelasan pakaian yang di inginkan.


Pelayan itu mengangguk dan mulai memilihkan beberapa pakaian panjang dengan panjang selutut dan berlengan tanpa kerah terbuka. Setidaknya tubuh Dini tidak terekpos dengan polos.


"Seperti ini?" tanya pelayan itu saat memberikan satu contoh pakaian yang di pilihnya.


Dini tampak melihat pakaian cantik itu. Terlihat simple, sederhana, namun kesannya tetap elegan.


"Boleh. Kalau ada yang sedikit panjang dnegan arn alain dan corak yang bermacam. Aku akan membeli satu lusin baju sore ini," ucap Dini pelan namun tetap dengan nada menegaskan.

__ADS_1


"Sa-satu lu-lusin? Itu sama saja dua belas potong baju? Be-betul kan?" tanya pelayan itu mendadak sakit jantungnya kambuh. Bagaimana tidak, harga di toko itu sangat mahal. Satu pakaian bisa di bandrol dengan harga jutaan rupiah. Misalkan saja satu pakaian itu seharga kisaran lima juta sampai sepuluh juta. Lalu, kalau dua belas potong pakaian itu bisa sejumlah seratus dua puluh juta rupiah. Bukan uang sedikit, dengan melihat Dini yang tampak biasa saja, sepertinya agak kurang bisa di percayai bila memiliki uang sebanyak itu.


"Iya. Dua belas potong pakaian. Apa ada yang salah dengan permintaan pesanan saya? Siapkan saja sesuai permintaan saya," titah Dini dengan tegas.


"Ta-tapi Nona ... Di sini semua pakaian itu sangat mahal. Gajiku saja tidak cukup untuk membeli pakaian di butik ini," ucap pelayan itu menjelaskan.


"Lalu! Maksudmu aku juga pasti tidak sanggup membayar pakaian-pakaian yang aku pesan? Begitu maksudmu?" tanya Dini dengan galak. Rasanya kesal bila tidak di percayai seperti ini.


"Aku punya uang untuk membeli pakaian itu. Untuk membeli Butik ini pun aku mampu!! Lihat ini!!" teriak Dini yang semakin kesal. Dini membukakan tasnya dan membuka resletingnya, memperlihatkan semua uang yang berjejer di dalam kantong tas itu.


Pelayan wanita itu terkejut bukan main. Melihat uang yang sangat banyak tertata rapi di dalam tas Dini.


"Ba-baik akan saya siapkan semua pakaian yang di pesannya. Maaf atas kejadian tadi," ucap pelayan wanita itu dengan suara pelan dan wajah menunduk karena malu dengan ucapannya tadi.


Dini hanya bisa menarik napas dalam dan menghentikan emosinya yang sempat meledak-ledak. Dini menutup kembali resleting tasnya.


Satu pria paruh baya menghampiri Dini dan menepuk bahu Dini dengan sangat pelan agar tidak mengejutkan Dini.


"Maaf Nona," ucap Lelaki itu pelan.


Dini pun memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah lelaki paruh baya itu.


"Ada apa?" tanya Dini ketus masih dalam perasaan kesalnya.


"Maafkan pelayan saya yang tidak bisa menjaga sikap dan ucapannya. Pelayan saya tidak sepatutnya berkata seperti itu kepada Nona. Saya selaku pemilik butik ini ikut meminta maaf atas kejadian yang kurang mengenakkan ini," ucap pemilik butik itu dengan sangat santun.


Dini hanya tersenyum kecut. Berusaha tetap ramah dan mengangguk pelan.


"Aku maafkan. Tolong, jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali," ucap Dini pelan lalu pergi meninggalkan pemilik butik itu yang hanya bisa terdiam membeku.


Ada sosok satu pasang mata yang memperhatikan Dini sejak tadi. Mengikuti Dini dan terlihat sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2