Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
HAMIL


__ADS_3

"Aku hamil?" tanya Yasinta pelan pada dirinya sendiri. Yoga duduk di sebelah Yasinta dengan wajah panik.


Keduanya sudah berda di klinik untuk memeriksakan diri. Saat itu Yoga di periksa, namun semuanya baik -baik saja. Dokter malah menyarankan untuk memeriksakan Yasinta, karena dokter curiga jika ini adalah suatu tanda mengidam.


"Maafkan aku, Yas," ucap Yoga lirih.


Yasinta masih belum bisa percay kalau dirinya memang tengah hamil. Bukan tidak senang, tapi ini akan jadi pertanyaan besar di keluarganya. Semua orang tahu, Wibisono seorang suami yang lemah syahwat jadi ia tidak mungkin bisa memberikan keturunan untuk yasinta. Dan kini, yasinta tegah hamil tiga bulan. Ia bahkan tak menyadari itu dan tak pernah mengecek menstruasinya yang sudah telat selama tiga bulan.


"Maaf? Se -mudah itu? Kau harus tanggung jawab dong? Bukan malah lepas tangan," gertak Yasinta dnegan kasar.


Yasinta tentu muali panik dan cemas. Apalagi kalau kehamilan ini sampai di ketahui oleh Wibisono, tentu ia akan sangat marah besar dan bank berjalannya akan di hentikan secara se -pihak karena perselingkuhannya dengan Yoga, supir pribadinya.

__ADS_1


"Tanggung jawab bagaimana? kau sudah punya suami, Yas. Lagi pula usia kita jauh berbeda dan kau lebih pants aku panggil tante bukan ku jadikan sebagai kekasih atau seorang istri. Jangan mimpi, aku akan menikahimu. AKu hanya ingin bersenang -senang dengan kamu, menikmati uangmu, menikmati liburan, menikmati tubuhmu dan menyalurkan semua nafsu dan hasratku. Tapi tidak untuk bertanggung jawab. Lagi pula, bisa jadi itu bukan anakku? Itu anak kau dnegan lelaki lain? Kau kan wanita hiper yang tak pernah puas dengan satu lelaki," ucap Yoga sinis.


PLAK ...


Sebuah tamparan panas mendarat di pipi Yoga dengan sangat keras dan kuat sekali. Yasinta benar -benar marah dan tak dapat membendung emosinya untuk mencabik -cabik lelaki yang ada di sebelahnya. Mudah sekali berondong itu bicara tentang tidak mau bertanggung jawab, akrena semuanya di lakukan hanya bersenang -senang.


"Sudah puas menamparku? tampar lagi? Dan aku akan pergi selamanya dari kamu, Yas!!" teriak Yoga dengan suara keras.


Yoga bangkit berdiri dan benar -benar pergi meninggalkan Yasinta. Ia kembali ke hotel untuk menagmbil smeua pakaian dan tiket pulang, serta beberapa jumlah uang dan salah satu ATM milik Yasinta yang sudah iaketahui nomor pinnya.


"Brengsek ... Kau curi smeuanya dariku, Yoga. Akan aku cari kau sampai ke ujung dunia," teriak YAsinta dengan suara histeris.

__ADS_1


Leleran air matanya sudah tak bisa di hentikan. Semua luruh begitu saja bercampur dengan cairan yang keluar dari hidungnya. Uangnya sudah habis, dan hanay tersisa sedikit. ATM -nya pun lenyap.


"Mas Wibisono." jawabnya lirih.


Ia langsung menelepon lelaki yang menyayanginya sepenuh hati itu.


"Mas ... Kamu di mana?" tanya Yasinta lirirh. Ia menahan isak tangisnya agar tak terdengar oelh suaminya.


"Hai ... Yas. Apa kabarmu? Kenapa kau baru mengabari Mas? Kau sibuk di sana?" tanya Wibisosno pelan.


"Aku lupa Mas. Karena terlalu asyik pergi dan berbelanja. Mas ..." ucap Yasinta lirih. Sebenarnya ia merasa sangat berdosa sekali.

__ADS_1


"Iya Yas? Ada apa? Kau baik -baik saja, bukan?" tanya Wibisono pelan.


"Hu um. Semua baik -baik saja Mas. Hanya saja ...." ucapan Yasinta kembali terhenti. Dadanya begitu sesak, dan ia tak kuasa lagi menahan rasa sakit hatinya saat ini.


__ADS_2