
Windu hanya bisa mengubur masa lalunya. Persahabatannya dengan Arga menjadikan pelajaran yang begitu berharga baginya di kemudian hari.
Arga selalu mengajarkan arti ketulusan. Sejak awal pertemuan keduanya. Arga memang mencintai Windu. Tapi Arga tidak pernah memaksakan Windu untuk menerima cintanya walaupun celah itu ada.
Arga sadar, dirinya hanya mencintai sosok Windu. Windu yang baik, lembut dan perhatian. Satu lagi, Windu yang setia selalu mencintai suaminya, Wibisono. Padahal Arga tahu persis, bagaimana kisah cinta antara Windu dan Wibisono yang sebenarnya.
Kehidupan itu akan sellau berputar. Kini, Windu hanya fokus pada kesembuhan suaminya pasca kecelakaan.
"Bagaimana kondisi, Nak Wibisono?" tanya Ibu Windu pelan.
Windu yang sedang melamun pun lngsung menatap ke arah sang Ibu yang sudah duduk di samping Windu.
__ADS_1
"Belum siuman Bu. Kata dokter, sepertinya ada luka pada retina matanya. Jadi, bisa di pastikan Mas Wibisono akan menglami kebutaan," ucap Windu pelan.
"Apa? Bu -buta? Ya ampun, Ndu. Sabar ya, Sayang," ucap Ibu Windu lirih. Tangannya langsung mengulur dan memeluk Windu dari arah sampin dan membawa kepala Windu ke bahu sang Ibu.
Ibu Windu tahu, Windu pasti amat terpuruk mendengar kondisi Wibisono. Kecelakaan itu terjadi, karena Wibisono ingin menyelamatkan Windu dari maut, namun nahasnya Wibisono yang malah emnjadi korban dalam kecelkaan itu.
"Windu sabar Bu. Windu benar -benar di uji lagi seperti dulu," ucap Windu pelan.
"Ibu tahu. Kamu adalah perempuan kuat dan hebat. Makanya kamu selalu di uji. Menguji kesetiaan kamu, ketulusan kamu, cinta dan kasih sayang kamu. Dan selama ini, walaupun sempat goyah, kamu mampu bertahan dan menjalani semuanya dengan kata ikhlas, sabar dan pasrah. Pasrahnya bukan nerima tapi juga dengan doa dan usaha yang menurut Ibu, tidak smeua perempuan itu bisa dan sanggup untuk melakukannya," ucap Ibu Windu pelan menasehati.
Air matanya terjatuh. Windu tak lagi mampu membendung semua air mata itu. Air mata luka di hatinya selama ini, air mata kesedihan yang selalu campur aduk membuat hati dan batinnya sedikit tersiksa.
__ADS_1
"Jangan menangi Windu. tangisan itu malah membuat lukamu semakin besar," ucp Ibu Windu menasehati.
"Windu hanya ingin melepas beban Windu selama ini yang Windu simpan di pundak Windu, Bu. Windu hanya ingin membuang semuanya. Windu baru tahu dari Mama Lena tentang Arga selama ini menghilang karena ingin menjauhi Windu, ia sengaja pergi dari kehidupan Windu agar Windu bisa bahagia kmebali dengan mas Wibisono," ucap Windu pelan.
"Mama Lena? Kapan kamu bertemu dnegannya?" tanya Ibu Windu kaget setengah mati.
"Sebelum kejadian kecelakaan itu Bu. Tidak sengaja kita bertemu di supermarket. Windu sedang berbelanja, Mama Lena juga sedang berbelanja sendiri mendorong kereta dorong," ucap Windu berusaha mengingat kejadian tiga hari yang lalu.
Windu juga sempat tak sadarkan diri saat itu. Tapi luka -lukanya tidak parah.
"Kau ingat kejadita kecelakaan itu? Mobilnya mungkin? Karena menurut kabar berita, tak satu pun orang mengenal mayat yang ada di dalam mobil itu. Katanya mayat itu seorang perempuan paruh baya dnegan belanjaan yang sangat banyak di bagasi mobilnya," ucap Ibu Windu yang mencari tahu tentang keceakaan itu.
__ADS_1
Windu menatap sang Ibu dnegan bingung.
"Maksud Ibu? Ibu menuduh Mama Lena? Dan mobil yang terbakar itu mobil Mama Lena?" tanya Windu lirih