
Seharian Windu berada di dalam kamarnya. Hari ini ia berdiam diri di dalam kamar sendirian. Ia tidak pernah menyesal menjadi istri kedua dari Wibisono. Ia tidak pernah menyesal telah membantu Wibisono pada saat dalam posisi terpuruk. Ia bahkan tak pernah mengeluh lelah telah berusaha keras banting tulang untuk menutup semua hutang yang bahkan tak tahu asal usulnya. Windu hanya ingin berbakti, mengabdi, selalu ada dalam suka maupun duka.
Perjalanan pernikahan kontraknya sudah hampir satu tahun. Lebih tepatnya usia pernikahan mereka hampir sepuluh bulan.
Windu sendiri sudah merasa tak yakin bisa menyelamatkan pernikahannya. Yasinta lebih segalanya di bandingkan dirinya hingga Wibisono lebih memilih kembali dengan istri pertamanya yang sudah jelas -jelas meninggalkan dia.
Tok ... tok ... tok ...
"Windu ...." panggil Sang Ibu sambil mengetuk pelan pintu kamar itu.
"Ya Bu. Masuk saja tidak di kunci," jawab Windu dari dalam kamar.
Ceklek ...
__ADS_1
Ibu Windu sudah membuka pintu kamar tidur. Lalu berjalan menghampiri Windu yang masih berada di atas kasur dan tak beranjak sejak pagi. Sarapan pagi yang sudah di antar adik Windu pun masih utuh ada di atas nakas dan tak tersentuh sama sekali.
Ibu hanya meliruk sekilas sambil membawakan segelas jus buah naga kesukaan Windu.
"Nak ... Minum jus dulu. Ini dingin dan manis. Setidaknya bisa membuat kepala kamu lebih dingin, hati kamu pun adem gak semrawut," titah Ibu Windu menasehati dengan logat bahasa jawa yang kental.
Windu masih terdiam. Tubuhnya hanya bersandar dibsandaran tempat tidur dengan kaki bersila dan di tutupi oleh selimut tebal. Kedua matanya terliha sayu dan sendu. Sedikit memerah dan bengkak di bagian bawah mata. Kelopak matanya juga menghitam.
"Windu. Masih dengar ucapan Ibu? Minumlah? Ibu gak mau lihat kamu sakit, Nduk," ucap Ibu Windu lebih lembut lagi.
Ibu Windu pun langsung menyodorkan gelas yang berisi jus buah naga itu untuk di minum Windu.
Perlahan Windu mulai menyeruput jus tersebut tanpa menjawab ucapan Ibu. Rasanya lega sekali tenggorokannya. Benar kata Ibu tadi. Kepalanya sedikit mendingin dan hatinya terasa adem setelah meminum jus buah naga dingin itu.
__ADS_1
Ibu menatap berkas dalam map yangbada di pangkuan Windu.
"Ini apa Nduk?" tanya Ibu Windu pelan sambil meletakkan gelas berisi jus itu ke nakas yang ada di sebelah ranjang Windu.
Windu tak menjawab. Ia hanya bisa menitukkan air matanya. Butiran air matanya begitu bening bagai kristal. Ketulusan hati Windu begitu di uji saat ini.
Sebagai seorang Ibu yang melahirkan Windu. Ibu Windu tak pernah melihat Windu menangis. Melihat Windu seperti orang terpuruk. Ibu Windu mengusap air mata Windu dengan telapak tangannya.
"Jangan seperti ini, Nak. Ibu hanya tidak mau kamu menjadi begini. Ibu tak mau melihat kamu sedih apalagi sampai menitikkan air mata. Boleh Ibu lihat?" tanya Ibu Windu lembut.
Ibu Windu bukan tipikal orang tua yang mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Ibu Windu tidak pernah sedikit pun bertanya tentang keadaan rumah tangga Windu yang sebenarnya terjadi saat ini. Cukup melihat, menyimak dan mendengarkan selentingan dari orang lain. Tapi sebisa mungkin, Ibu Windu selalu menutupi semua yang ia ketahui walaupun tidak langsung dari mulut Windu.
Perlahan Ibu Windu mengambik map itu lalu membukanya. Betapa terkejutnya ia melihat Windu mengambil formulir untuk menggugat cerai Wibisono, suaminya.
__ADS_1