
Tatapan Ibu Windu bingung. Tak ada angin dan tak ada hujan bagai di sambar petir rasanya melihat Windu sudah mengisi formulir itu.
"Kau ingin bercerai Nduk?" tanya Ibu Windu mulai panik.
Windu tak menjawab. Tatapannya begitu nanar. Hanya air mata yang mampu memberitahukan kepada Sang Ibu bahwa Windu sedang terluka hatinya. Windu sedang dalam keadaan tidak baik.
"Windu ... Windu sayang ... Jawab pertanyaan Ibu, Nduk. Kamu ingin bercerai dari Wibisono? Sebenarnya apa yang terjadi dengan rumah tanggamu, Nduk? Bukankah semuanya nampak baik -baik saja?" tanya Ibu Windu terus menerus.
Tangan Sang Ibu mulai mengulur dan menghapus air mata Windu yang terus luruh terjatuh di pipinya lalu membasahi ke baju. Wajahnya sembab dan terluhat kusut serta kuyu.
__ADS_1
Otaknya begitu keras memikirkan keputusan terbaik untuk di ambilnya dan ternyata keputusan singkat itu jatuh pada gugatan cerai.
Tatapan Windu kini beralih kepada Sang Ibu yang selalu sabar menemani Windu dalam suka dan duka.
"Apa salah? Kalau Windu menggugat cerai Mas Wibisono? Suami Windu? Apa salah?" tanya Windu dengan suara tegas. Windu hanya ingin ibunya tahu bahwa keputusannya sudah bulat dan tak bisa di ganggu gugat lagi.
Ibu Windu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak mau membuat Windu semakin terluka. Sang Ibu hanya mengikuti permainan Windu dulu. Namun, perlahan ia akan memberikan saran, masukan serta nasihat untyk Wundu mempertimbangkan semuanya sebelum ia menyesali keputusannya.
"Tidak ada yang salah dengan keputusan jika memang sudah di pikirkan dengan matang. Keputusan yang di ambil harus secara sadar di ambil dengan sadar pula tahu akan resiko baik dan buryknya di kemudian hari. Bukankah setiap keputusan memang ada plus minusnya? Jadi tak ada masalah dan tak ada yang salah. Tapi ... Suatu keputusan akan salah jika kamu mengambil keputusan itu karena terburu -buru. Karena tidak memikirkan resikonya. Lalu kamu menyesali semua yang telah kamu lakuka termasuk mengambil keputusan itu. Paham?" tanya Sang Ibu dengan suara yang begitu lembut.
__ADS_1
Windu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dengan cepat ia menghapus sisa air mata dan emnekan hidungnya agar leleran cairan dari hidung itu berhenti dan tidak menyatu dengan air mata yang turun melaluinya.
Ibu Windu memegang map itu dan membuka lagi. Membaca alasan gugatan Windu yang membuatnya tersenyum.
"Alasan bercerai? Tak memiliki keturunan karena Sang Suami lemah syahwat? Kamu yakin alasan ini bisa di terima?" tanya Ibu Windu sambil tertawa keras.
Windu, putrinya masih terlalu kecil untuk membicarakan kata cerai. Usia pernikahannya pun belum genap satu tahun tapi ia sudah menyerah sebelum berjuang.
"Memangnya alasan begiti tidak kuat? Bukankah anak itu penting dalam suatu pernikahan?" tanya Windu bingun.
__ADS_1
"Memang penting. Lebih tepatnya itu takdir. Bisa di rubah juga? Tidak serta merta vonis itu akan terus melekat di dahi suamimu dan ia tervelenggu dengan vonis yang sebenarnya masih bisa sembuh karena usaha, doa dan keajaiban. Dari mana? Dari doa Sang Istri yang begitu tulus. Tentu Tuhan akan memgabulkan dengan caranya sendiri. Mungkin tiba -tiba nemu obat? Atau ketemu dokter dan memberikan tips dan trik? Atau memang Tuhan mengembalikan kejantanan suami kamu," ucap Ibu Windu menasehati.
Windu hanya menatap Ibunya yang sedang menasehati. Tapi setelah di simak, semua yang di katakan Ibunya adalah suatu kebenaran yang nyata.