
Kedua orang tua Zya hanya bisa terdiam dan mengangguk pelan dnegan semua permintaan Zya. Zya adalah anak semata wayang dari Abi Pras.
Sejak kepulangan Zya dari rumah Ibu Mita, permintaan Zya semakin aneh. Zya memang pernah sekolah di Pesantren, namun tidak lama Zya keluar karena tidak betah. Hidupnya yang bebas membuat Abi Pras sebenranya kehilanga kendali untuk mengendalikan Zya yang semakin brutal di usia belianya.
"Kamu sudah yakin dengan Adam, anak Ibu Mita?" tanya Umi Ayu pelan kepada Zya.
Umi Ayu dan Abi Pras sedang duduk bersantai di teras belakang membahas usaha barunya yang baru saja dikelolanya.
Zya pun mengangguk cepat dan mantap.
"Abi dan Umi setuju kan? Jika Mas Adam pilihan Zya?" ucap Zya berharap.
Abi Pras hanya bisa mengangguk dnegan pasrah demi menyenangkan putri seta wayang kesayangannya. Begitu juga dengan Umi Ayu yang sangat menyayagi Zya sejak kecil walaupun hanya sebatas Ibu sambung.
"Abi akan berusaha menanyakan hal ini kepada Bu Mita," ucap Abi Pras pelan. Rasanay ragu sekali. Abi Pras dan keluarga kecilnya baru saja pindah ke daerah itu sekitar tiga bulan yang lalu.
Ada banyak permasalahan yang mereka hadapi di rumah yang lama. Kepindahannya saat ini ke tempat baru, selain untuk mencari suasana baru dan untuk mendapatkan sesuatu yang baru.
Usaha katering yang baru saja di rintis oleh Umi Ayu secara kecil-kecilan pun sudah terlihat membuahkan hasil. Umi Ayu pun meminta dukungan dan bantuan dari Abi Pras yang ikut memasarkan semua jenis makanan yang di kateringkan oleh istrinya itu.
"Abi harus janji ya?" ucap Zya menegaskan.
"Sebenarnya ada apa Zya? Satu bulan terakhir ini kamu sedikit aneh? Kamu tidak apa-apa kan? Tidak sedang sakit?" tanya Umi Ayu pelan kepada Zya yang memang terlihat berbeda dari biasanya.
Semenjak kepindahannya ke rumah ini, Zya pun menutup diri dan menutup auratnya. Zya lebih suka memakia pakaian panjang dan longgar serta hijab panjang yang menutupi setengah tubuhnya itu.
__ADS_1
Sempat Abi Pras berpikir buruk tentang Zya yang secara tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat itu. takut, anak gadisnya terjerumus pada halhal yang kurang baik lewat pencucian otak berbasis agama.
Zya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak apa-apa. Zya lelah mau istirahat," ucap Zya pelan lalu pergi begitu saja ke dalam kamar pribadinya.
Di dalam kamar Zya terus memandangi foto Adam yang di dapat dari Ibu Mita sekitar satu bulan yang lalu. Zya secara terang-terangan meminta foto Adam dan secara jujur menyukai dan ingin menjadi istri dari seorang Adam.
Sedikit banyak Zya merasa menyesal dengan semua kehidupan bebasnya sewaktu masih berada di rumah lama. Teman-teman dan sahabat Zya selalu memberikan pengaruh buruk bagi Zya.
Di ciumnya foto Adam berkali-kali. Adam adalah harapan terakhir bagi Zya untuk keluar dari permasalahan yang sedang di hadapinya. Bahkan kedua orang tuanya pun tidak mengetahui hal ini.
Posel Zya pun berbunyi dengan dering nada yang cukup keras. Hidupnya yang usdah mulai tenang masih tetap di hantui oleh masa lalunya.
"Hei cantik. Galak sekali kamu sekarag. Aku rindu padamu, aku ingin bertemu. Sudah sebulan ini, aku kesepian tanpa kamu," ucap Lelaki di sambungan telepon itu.
"Kamu?! Masih saja berani menggodaku? Aku muak dengan kamu!! Pergi jauh dari kehidupanku!!" teriak Zya dengan sangat keras hingga ponselnya pun ikut di lepar ke arah tembok kamarnya hingga terpecah belah.
Air mata Zya sudah turun dengan deras. Sakit rasanya di permainkan oleh lelaki yang selama ini telah menjadi kekasihnya dua tahun terakhir ini.
"Kenapa harus kamu yang menghancurkan hidupku!! Di saat aku benar-benar mengharapkanmu saat itu!! Tapi apa!! KAmu hanya anggap aku sama dengan adikmu yang kau nodai itu!!" teriak Zya dengan suara yang tertahan.
Zya tidak ingin kedua orang tuanya mengetahui masalahnya yang di hadapi.
Zya pun merebahkan tubuhnya ke arah samping. Wajahnya yang fokus melihat pemandangan dari luar jendela kamarnya. Air matanya masih saja turun dan membasahi pipi hingga bagian kasur yang dipakainya.
__ADS_1
Satu tangannya terus mengusap perutnya yang mulai terasa keram karena terlalu stres dan kelelahan. Kedua matanya pun menutup dan tertidur pulas.
Mita yang masih duduk di sofa ruang tengah itu pun mulai menyandarkan tubuhnya kembali di sandaran sofa itu. Ucapan Adam tadi cukup membuat Mita jadi berpikir dua kali untuk menjodohkan Zya dengan Adam. Walaupun Mita sudah berjanji penuh untuk mendekatkan Adam, anak semata wayangnya kepada Zya.
Keningnya di pijit dengan pelan menggunakan jari-jari tangan kanannya hingga peningnya sedikit hilang rasanya.
'Aku memang belum mengenal Zya sepenuhnya. Gadis itu memang sedikit misterius. Mungkin aku hanya tertarik karen gadis itu bisa menutup tubuhnya dnegan pakaian panjang dengan hijab yang panjang pula. Padahal hati dan sikap yang sebenarnya menentukan bukan pakaiannya,' batin Mita di dalam hatinya.
Sama seprti Adam yang masih gelisah di atas kasur empuk kamar pribadinya. Adam bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi tempat tidurnya. Pikirannya terus melayang. Dua gadis yang berbeda karakter itu terus mengganggu otaknya.
'Aku ini kenapa? Kenapa tiba-tiba dua gadis itu terus mengganggu pikiranku,' batin Adam di dalam hatinya.
Zya, wanita muda pilihan Mita, Ibunya yang menurut Adam memiliki sisi berbeda dari sifatnya. Dini, gadis mungil yang begitu cantik dengan segala pesona yang telah membuat Adam jatuh hati sejak pandangan pertama. Gadis penuh gairah dan hasrat yang membuat setiap pria manapaunpasti akan menyukainya.
'Tapi, Dini sedang mengandung. Dan itu nyata, tapi entah dengan siapa? Atau memang Dini sudah memiliki suami? Bukti cincin berlian yang begitu mewah dan mahal itu jelas melingkar di jari manis Dini. Itu menandakan Dini bukan wanita sembarang. Dini adalah wanita yang berkelas dan tidak mudah untuk di dapatkan,'' lirih Adam di dalam hatinya.
Hatinya kini di selimuti kebimbangan. Usia Adam memang sudah tidak muda lagi, sudah mencapai kepala tiga. Usia matang bagi lelaki untuk hidup berumah tangga. Betul sekali ucapan Mita, Sang Ibu. Jodoh itu tidak hanya menunggu untuk di tunggu, kita juga perlu mengenal wanita untuk mengetahui sifat dan karakter perempuan. Kita ingin yang seperti apa? Nah, kalau sudah jodoh pasti akan di dekatkan. Bukan hanya menunggu hingga jodoh itu datang sendiri dari langit.
Adam mulai berpikir keras. Mencari sosok wanita lain yang akhir-akhir ini dekat dengannya. Namun, sayang sudah tiga bulan terakhir ini, Adam tidak memiliki stok perempuan yang menjadi fansnya yang biasa mengejar-ngejar dirinya.
Sikap Adam yang selama ini kelewat cuek dan dingin sedingin es kepada wanita, membuat para wanita yang ingin dekat dengannya pun mundur teratur karena tak ada respon positif dari Adam.
"Argh ...." teriak Adam keras sambil memukul kasurnya dengan kepalan tangannya dengan sangat kencang.
"Adam? Kamu kenapa Nak?" panggil Mita dari arah luar kamar sambil mengetuk pintu itu pelan.
__ADS_1