Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
21


__ADS_3

Denis kembali ke rumah mewah itu dengan kepala tertunduk lemas. Harus kemana lagi Denis pergi mencari Dini, Sang Nona Muda.


"Kenapa raut wajahmu seperti itu. Mana Nona Muda?" tanya Rosa dengan ketus. Kepalanya celingukan mencari-cari keberadaan Nona Mudanya itu.


Tubuh Denis terasa sangat lemas sekali. Denis langsung terduduk di ruangan belakang. Ponselnya di letakkan di meja serbaguna itu, punggungnya bersandar pada kursi rotan yang sedang di dudukinya itu dengan kedua matanya di pejamkan meengadah ke atas menghadap ke arah langit-langit ruangan rumah meah itu.


Masih terngiang dengan jelas suara keras penuh amarah dari Tuan Herman. Sepertinya ada yang tidak beres, begitu juga dengan Benny, tangan kanannya itu.


"Hei ... Denis. Nona Muda Dini kemana? Kenapa dia tidak kembali pulang bersamamu? Atau Tuan Herman juga menjemputnya?" tanya Rosa yang semakin penasaran karena Denis sejak tadi hanya diam dan tidak memberikan respon atau penjelasan apapun.


Ponsel Denis berdering lagi. Suara nyaring yang begitu bergema memekakkan telinga. Ponsel itu seolah ikut mearsakan kesedihan Denis. Denis hanya menatap sekilas ke arah ponsel itu. Hanya ada satu nama Tuan Herman disana. Jantungnya berdegupo dengan sangat kencang. Entah bagaimana lagi harus bersikap. Ingin rasanya mengabaikan, namun pasti akan dikira lari dari tanggung jawab. Tapi, jika harus di angkat. Denis harus bilang apa? Kenyataannya Nona Dini tak berhasil ditemukan.


"Kamu kenapa Den? Terlihat cemas begitu? Itu kan Tuan Herman. Kenapa harus panik? Tinggal angkat saja," cetus Rosa dengan keras.


Denis menatap tajam ke arah Rosa. Tatapan yang tidak biasa seolah hendak memangsa Rosa saat ini juga. Kesal hatinya semakin terasa membuat Denis murka dan ingin memukul sesuatu dengan tangan kosongnya agar hatinya sedikit lega.


Telepon itu di angkat oleh Denis, mimik wajah langsung berubah pucat. Suara keas terdengar namun tidak jelas pengucapannya hingga Denis pun menjauhkan ponselnya dari telinganya.


Denis hanya diam dan tidak menjawab apapun. Hanya ada anggukan pelan yang tidak terlihat oleh orang yang sedang meneleponnya itu.


"Iya Tuan. Saya mengerti. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun memang tidak bisa menemukan Nona Dini," ucap Denis melemah. Denis sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya agar bisa menjelaskan hal ini kepada Tuan Herman. Denis sudah tentu dianggap lalai dalam hal ini.


Sambungan telepon itu sudah di matikan secara sepihak oleh Tuan Herman.


"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Rosa lagi-lagi dengan rasa penasaran yang sangat membuncah.

__ADS_1


Sejak tadi hanya ini pertanyaan yang muncul dari otaknya. Seperti ada sesuatu hal yang tidak biasa terjadi.


"Nona Dini menghilang," jawab Denis singkat. Lama-lama risih mendengar rengekan dan pertanyaan yang berulang-ulang di tanyakan Rosa kepadanya.


"Apa?!! Menghilang?!! Aku tidak salah dengar?" tanya Rosa kemudian dengan wajah bingung dan kedua mata melotot yang hampir keluar dari dudukan matanya.


Denis hanya melengos. Memalingkan wajahnya dari attapan aneh Rosa yang menurutnya terlalu lebay berekspresi.


"Biasa saja lihatnya!! Kayak todak pernah lihat orang ganteng saja. Tidak perlu kaget begitu dengar Nona Dini menghilang," ucap Denis sedikit menahan taa. Lama-lama lucu juga melihat rwaut wajah Rosa yag begitu.


Rosa menggelengkan kepalanya pelan.


"Hah?! Apa katamu? Aku lebay? Aku hanya bingung dan merasa aneh. Apa yang ku dengar itu seperti drama. Nona Dini itu sudah besa, sudah dewas, bisa berjalan sendiri, lu kamu bilang menghilang?! Bukankah itu aneh?! Kamu saja terlalu berpikir keras. Toh, nanti bisa pulang sendiri?" ucap Rosa dengan segala pemikirannya sendiri tanpa tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya.


"Kamu itu kebiasaan. Bicara dengan segala alibimu sendii, tanpa tahu fakta yang terjadi itu seperti apa?" ucap Denis dengan kesal.


"Huh ... Masih di ajak bicara malah pergi. Lalu, Nona Dini kemana? Atau mungkin ke rumh teman atau sahabatnya untuk mengerjakan tugas. Bukankah kalau orang kulih itu pasti banyak tugas?" ucap Rosa yang terus memberikan penjelasan dan kemungkinan yg terjadi.


Denis pun membalikkan tubuhnya saat mendengar penjelasan terakhir untuk kemungkinan yang terjadi pada Rosa.


"Ke rumah teman atau sahabatnya? Untuk mengerjakan tugas?" ucap Denis kembali mengulang ucapan Rosa.


Rosa mengangguk pelan membenarkan apa yang baru saja di ucapkannya.


"Ya. Nona Dini pasti punya teman dekat? Sahabat perempuan begitu?" tanya Rosa kemudian.

__ADS_1


Selama ini Nona Dini selalu bepergian bersama dengan Denis. Dn Nona Dini tidak pernah sekali pun pergi sendiri sesuai dnegan instruksi Tuan Herman.


"Entah. Aku tidak pernah tahu hal itu. Yang jelas, tadi siang Nona Dini di jemput lelaki tua yang mengaku sebagai kolega Tuan Herman yang di utus datang untuk menjemput Nona Dini untuk di ajak berkencan," ucap Denis pelan yang akhirnya membuka suara.


"Hah?! Benarkah?" tanya Rosa kembali masih dnegan rasa tidak percaya.


Herman mengangguk pelan, "Untuk apa aku berbohong. Toh, tidak ada untungnya untukku," ucap Denis lantang.


Denis paling tidak suka di curigai. Sama seperti Tuan Herman yang berpikir bahwa Denis lah yang sudah bersekongkol untuk menyembunyika Dini atau kemungkinan lai, Denis dianggap memberikan celah bagi Dini untuk melarikan diri.


"Kenapa tidak lapor ke polisi saja?" tanya Rosa dengan suara pelan. Kini gantian Rosa yang bingung setengah mati ikut berpikir keras.


"lapor ke polisi?" tanya Denis seolah melupakan hal itu.


"Iya ... lapor polisi dan buat berita kehilangan. Nona Dini telah hilang. Mungkin polisi bisa melacak keberadaannya," ucap Rosa memberikan saran.


"Ya, betul juga. Kenapa aku tidak berpikir ke arah sana ya? Baiklah aku akan melaporkan kejadian ini kepada polisi. Aku ingin polisi bisa melacak keberadaan Nona Dini, saat ini juga. Aku pergi dulu saja, untk melakukan pelaporan," ucap Denis dengan suara pelan.


"Lebih cepat lebih baik, Denis. Jangan sampi terlambat," ucap Rosa mengingatkan.


Denis pun langsung keluar rumah dan menyalakan mesin mobilnya. saat ini, mencari kantor polisi untuk membuat laporan orang hilang. Denis setidaknya ingin menjelaskan kepada Tuan Herman, baha Denis tidak ikut campur dalam permasalahan keduanya Denis memnag hanya sebagai pengawal untuk menjaga dan mengikuti kemana pun Nona Dini pergi.


Rasanya seperti mendapat angin segar yang membiat hatinya lega dan tidak sesak bagai terhimpit dua batu besar hingga buntu dan berasa tidak ada jalan keluarnya. Intinya memang harus tenang agar bisa berpikir jernih. Setidaknya dari kebawelan Rosa tadi mendapatkan sebuah hikmah berupa jawaban.


Di tempat lain yang begitu gelap dengan penerangan yang seadanya. Tuan Herman sudah merasa lelah di siksa batinnya seperti ini.

__ADS_1


"Lihatlah, Ini baru enam laki-laki yang aku kirim untuk merusak hidup istri sirimu itu!!" ucap lelaki berkaca mata hitam itu.


__ADS_2