Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
36


__ADS_3

"Jangan beri aku pertanyaan yang sulit seperti ini Ibu?" ucap Adam semakin lirih.


Pelukan itu mengendur dan Adam menyandarkan punggungnya di sandaran sofa ruang tengah.


"Ini bukan pertanyaan sulit Adam. Ini fakta dan ini nyata sedang terjadi pada diri kamu," tegas Mita dengan nada sedikit lantang.


"Maafkan aku, Bu. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Ibu," ucap Adam lirih.


"Kamu menyerah? Atau kamu takut? Padahal cinta itu harus di perjuangkan," ucap Ibu pean sambil tertawa kecil.


"Ibu yang sejak tadi malah menyudutkan aku. Sampai aku tidak berkutik sedikit pun," ucap Adam pelan sambil memijat keningnya yang sedikit pening memikirkan perasaanya saat ini.


PRANK!!


Mita dan Adam menoleh ke arah pecahan kaca yang terdengar sangat jelas terjadi di dalam rumahnya.


"Suara apa itu?" tanya Mita pelan. Tubuhnya bergetar dan bergidik ngeri. Pagi-pagi begini pun terasa sangat horor.


Adam bangkit berdiri lalau berjalan ke arah ruang tamu. Tadi suara itu sangat jelas berasal dari arah ruang tamu. Adam melihat sekilas ada empat pria dengan menggunakan motor pergi begitu saja dengan tertawa gembiri. Wajahnya tidak jelas karena tertutupi oleh helm.


"Ibu, kaca jendela pecah,' ucap Adam setengah berteriak.


Adam melihat setengah kaca jendelanya pecah dan telah hancur berkeping-kepin di lantai ruang tamu itu. Tidak jauh dari sana, trdapat batu besar yang terbungkus kertas yang sedikit kusam dan lecek.


Merasa dirinya di panggil, Mita pun berjalan cepat menuju arah ruang tamu. Adam sedang memgang batu besar itu dan membuka kertas yang membalutnya.


Tulisan di dalam kertas itu sangat jelas dan begitu besar.


'JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN KITA. SERAHKAN GADIS ITU, AGAR HIDUPMU TENANG!! PAHAM!!' batin Adam membaca di dalam hatinya.


Adam tidak bisa berkutik. Tubuhnya menegang dan ada rasa cemas di dalam hatinya.


"Ada apa Adam?" tanya Mita pelan sambil ikut membaca tulisan yang ada di kertas itu. Mita berusaha tenang dan tegar membaca seluruh pesan singkat yang bertuliskan dengan huruf besar.

__ADS_1


"Ada apa sebenarnya ini? Ada apa dengan Dini? Siapa dia sebenarnya?" tanya Mita kepada dirinya sendiri.


Ini baru satu hari. Keluarga Mita sudah mendapatkan teror yang seperti ini. Lalu bagaimana jika Dini harus tinggal lama di rumah ini, bisa-bisa petaka besar menghantui keluarganya.


"Dini pasti sedang berada dalam masalah besar," ucap Adam tiba-tiba menyimpulkan.


Mita terlihat sangat panik, berusaha tenang dengan menarik napas panjang berali-kali, lalu di hembukan dengan sangat pelan untuk mengontrol detak jantung yang sejak tadi berdetak dengan sangta keras dan cepat.


"Berikan saja gadis itu. Agar kita tidak ada masalah besar seperti ini," ucap Mita pelan yang semakin cemas pada hidupnya.


"Ijinkan aku menjaga Dini dan anak yang ada di kandungnya. Bukankah tadi Ibu sudah setuju dengan permohonan Adam," ucap Adam pelan dengan nada memohon.


"Lupakan dia, Adam. MAsih banyak wanit baik dan cantik yang tidak berbahaya sepertiini," ucap Mita semakin geram dan kesal. Mita hanyalah seorang Ibu yang malas memiliki musuh apa lagi hidupnya harus terganggu dan mengganggu orang lain.


Tatapan Adam semakin sendu dan memohon kepada Mita, Sang Bunda agar mengabulkan permohonannya.


Terdengar tarikan napas Mita yang sangat kasar. Wanita paruh baya itu hanya bisa pasrah dengan keadaan.


"Terserah kamu, Adam. Ibu tidak mau ikut campur dan terlibat dalam masalah besar yang berahya ini. Lihat ancaman ini bukan main-main. Apalagi kita hanya hidup berdua, di daerah yang sepi. Seharusnya kamu bisa paham dengan ini semua," ucap Mita dengan sangat kesal. Mita hanya kecewa pada Adam, kenapa harus memepertahankan Dini, wanita yang jelas-jelas sedang terlibat masalah besar.


Mita hanya terdiam dan duduk di tepi sofa ruang tamu itu. Mita hanya sedang berusaha tenang. Dadanya begitu sesak karena rasa takut dan cemas yang timbul begitu saja, hingga membuat penyakit jantungnya pun sedikit kambuh.


"Ada apa ini?" tanya Dini yang datang tiba-tiba dari arah dalam.


Adam yang terkejut dengan kedatangan Dini pun langsung menyimpan kertas acaman tadi ke dalam saku belakang celananya setelah di lipat kecil terlebih dahulu.


"Dini? Bukankah kamu harsu istiraht? Lihatlah kasihan kandnganmu jika kamu terlalu lelah," ucap Adam dengan sangat lembut.


Tatapan Adam pun seolah terlihat sayang dan penuh perhatian hingga membuat Dini pun dibuat merasa nyaman dan semakin nayaman di rumah itu.


Berbeda dengan Mita, yang kembali kesal dan geram setelah kejadian teror ini.


"Ada apa? Dini terkejut seperti ada suara kaca pecah saat Dini tertidur pulas," uycap Dini dengan santainya.

__ADS_1


Adam tersenyum lebar.


"Oh iya benar sekali. Lihat ini, kaca jendela itu pecah. Entah ada apa? Kakak juga kurang tahu, " jelas Adam berbohong.


Adam hanya tidak ingin, Dini lebih jauh lagi memikirkan ini semua.


Dini memang melihat langsung serpihan kaca yang cukup banyak ada di bawah jendela besar ruang tamu.


"Kak Adam, Ibu, Dini ingin ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan Dini dan pakaian serta bahan makanan untuk di rumah ini," ucap Dini dengan pelan. Wajahnya menunduk karena malu untuk meminta pertolongan setiap saat.


"Bisa. Mau sekarang atau nanti? Kalau sekarang Kakak mau beresan ini dan telepon tukang kaca untuk langsung di pasang kembali. Yuk, Bu, siap-siap kita belanja untuk kebutuhan bulanan rumah," ucap Adam pelan sambil mengedipkan satu matanya kepada Mita, Ibunya.


"Iya sudah. Ibu mau siap-siap dulu. Itu suruh Pak Tono saja," ucap Mita pelan lalu pergi begitu saja.


Suasana hati Mita sedang tidak enak. Lebih baik diam dan tidak banyak bicara.


"Ibu kenapa Kak? Kayak sedikit beda? Apa ada masalah?" tanya Dini dengan polos.


Dini tidak sampai berpikir jauh tentang kejadian ini.


Adam pun menatap Dini dan hanya tersenyum saja.


"Mungkin Ibu lelah. Cepat bersiap kita ke suprmarket" jawab Adam sekenanya. Jujur Adam sedang tidak ingin bicara dan ditanya-tanyai.


"Ya sudah. Dini mau siap-siap dulu," ucap Dini dengan suaranya ynag khas maja dan selalu menggoda.


Adam pun bisa bernapas lega saat melihat Dini sudah mejauh sejauh mungkin. Napasnya bisa di hirup dengan lega tanpa adanya tekanan.


Benny masih berkutat dengan tali simpul mati yang masih mengaikat erat kedua tangan itu.


'Argh ... Kenapa ini sangat sulit sekali,' batin Benny di dalam hatinya.


Benny terus mencari cara agar ikatan simpul mati itu bisa terlepas dengan mudah.

__ADS_1


"Kamu sedang apa?" tanya lelaki itu saat melihat Benny yang sedang terlihat mencari cara.


__ADS_2