Ketulusan Seorang Wanita

Ketulusan Seorang Wanita
BENTAKAN


__ADS_3

Yasinta dan Wibisono sama -sama terdiam.


"Hei ... Istriku, kamu kenapa?" tanya Wibisono dengan suara lembut.


"Bisa kirimkan aku uang untuk pulang," jawab Yasinta lirih.


Suara tawa Wibisono begitu renyah sekali. Seolah tak ada maslah besar, semuanya bisa di atasi dnegan menjentikkan jarinya saja.


"Bukan kali pertamanya kamu minta uang padaku Yas. Dan meminta uang pada suami untuk memenuhi kebutuhan kamu itu adalah kewajiban kamu," ucap Wibisono dnegan suara pelan.


Yasinta menahan isak tangisnya. Ia hanya bisa diam seribu bahasa. Ia takut pulang tapi butuh uang.


"Yasinta?" panggil Wibisono pelan.


"Iya Mas." jawab yasinta singkat.


"Kamu butuh uang berapa?" tanya Wibisono kembali.


"Gimana Mas Wib aja," jawab Yasinta pelan.


"Oke Mas transfer sekarang. Kamu mau pulang kapan?" tanya Wibisono pelan.


"Ekhemmm ... Kayaknya tiga hari lagi Mas. Soalnya nunggu teman yang masih menyusul," jawabnya pelan.


"Ya sudah. Kamu baik -baik di sana. Kalau uangmu habis, kamu telepon Mas," titah Wiibisono pelan


Obrolan antara suami dan istri itu pun selesai. Setelah meminta uang dan di pastikan Wibisono akan mengirimnya. Yasinta bergegas merapikan smeua barang -barangnya dan pulang ke negaranya. Mungkin ia kan cari tempat lain atau kembali ke rumah orang tuanya dan mencari ketenangan sejenak, sambil mencari solusi atas kehamilannya dengan Yoga.


Skip ...


Hari ini adalah pembukaan usaha baru milik Windu. Usaha yang sesuai dengan bakat dan minatnya yaitu komestik.


Keluarga kecilnya dan Wibisono turut hadir dalam pembukaan dengan pengguntingan pita. Semuanya berjaln dengan lancar.


"Kamu senang?" tanya Wibisono pelan.


"Sangat senang. Terima kasih sudah mendukung Windu, karena dukungan dan ridho dari Mas Wibisono bisa membuat Windu semakin semangat menjalani ini semua," ucap Windu dengan senyum tulus.


Setelah ini keduanya akan sama - sama sibuk dengan kegiatan masing -masing. Tapi, Windu masih tetap berusaha untuk menyembuhkan Wibisiono.

__ADS_1


Satu minggu berlalu. Wibisono dan Yasinta tak lagi berkomunikasi. Windu sendiri sibuk mengurus tokonya hingga sore hari. Wibisono sendiri sibuk dengan usahanya. Perusahaanya sedang mengalami krisis, dan Wibisono lebih sering berada di kantor.


Sore itu setelah menutup tokonya, Windu sengaja datang ke kantor Wibisono. Biasanya Windu pulang dan menyiapkan makan malam dengan tangannya sendiri.


Tapi, sudah beberapa hari ini, Wibisono tidak pulang dan hanya mengabari dirinya lembur di kantor. Windu datang dengan tentengan untuk makan malam. Ia tahu suaminya paling suka dengan sushi dan dimsum.


"Sore Bu Windu," ucap ramah satpam yang membukakan pintu utama.


"Sore. Bapak ada?" tanya Windu lembut.


"Ada di atas," jawab satpam itu pelan sambil mengangguk kecil.


Pandangan Windu menyapu seluruh kantor yang sudah mulai gelap dan sepi. Beberapa furniture di kantor itu pun sudah ada yang tak terlihat dari pandangan Windu dan suasananya tampak lenggang sekali.


"Sepi banget. Terus kursi di sini juga tidak ada? mau di ganti?" tanya Windu kepada satpam yang mengantarkan Windu ke lantai atas dengan menggunakan lift menuju ruangan sang direktur.


"Maaf Bu Windu, sudah sampai. Itu ruangan Bapak, lampunya masih menyala, tandanya Bapak ada di dalam. Seharian ini beliau tidak keluar dari ruangannya," ucap satpam itu pelan menjelaskan.


Deg ...


Ucapan satpam itu seperti mengisyaratkan sesuatu misteri dan rahasia yang tak pernah di ketahui oleh Windu.


"Terima kasih Pak, sudah mengantar saya," ucap Windu pelan sambil melangkahkan kakinya keluar dari lift itu.


Langkah kaki Windu begitu pelan meuju ruangan Wibisono. Windu yakin sesuatu terjadi dengan Wibisono dan perusahaannya.


Tok ... Tok ... Tok ...


Suara ketukan dari luar mengagetkan Wibisono. Baru saja ia akan memejamkan kedua matanya, ruangannya suda ada yang mengetuknya.


"Masuk," ucap Wibisono dengan suara tegas. Ia juga tampak berpikir siapa yang datang malam begini. Bukankah semua karyawannya sudah pada pulang.


Windu pun masuk ke dalam sambil mengucap salam.


"Malam Mas ...." ucap Windu dengan senyum manis. Ia berjalan masuk menghampiri meja kerja Wibisono.


"Windu? Ada apa kesini?" tanya Wibisono pelan.


Windu hanya tersenyum kecut. Bukan suatu pertanyaan yang di harapkan.

__ADS_1


"Mas? Kamu kok aneh. Istrinya datang bukannya bahagia malah di bilang ngapain kesini?" tanya Windu kesal.


"Mas lagi ingin sendiri Windu. Lebih baik kamu pergi dan jangna pernah datang ke kantor ini lagi," tegas Wibisono dengan suara keras dan lantang.


Windu meletakkan tas palstik di atas meja. Niatanya datang ingin makan malam bersmaa tapi ternyata kedatangannya pun tak di harapkan sama sekali.


"Kamu ini kenapa Mas? Kalau ada masalah itu bicara? Kita obrolin baik -baik bukan malah diam, menyendiri dan tidak membahas sama sekali. Aku ini istrimu bukan teman, atau orang lain. Seharusnya Mas bisa mengajak aku diskusi, jika terjadi sesuatu pada diri Mas atau apapun itu," ucap Windu pelan.


Windu merasa ada sesuatu hal yang yang di rahasiakan.


BRAK ...


Meja kerja itu di gebrak dnegan sangat keras. Wibisono sudah menujukkan muka marah dan kesal. Seluruh wajahnya memerah menahan emosi hingag membuat Windu bergidik ngeri dan mundur satu langkah menjauhi meja kerja itu.


Wajah Windu sedih. Ia menahan air matanya yang tiba -tiba saja mengumpul di pelupuk matanya karena bentakan keras itu begitu menusuk di dadany. Sesak sekali rasanya di bentak seperti itu oleh suaminya sendiri. Windu baru kali ini melihat amarah Wibisono karena sebelumnya tidak pernah sama sekali, Wibisono menujukkan sikap arogan.


Tatapan Wibisono begitu tajam dan nyalang ke arah Windu sampai membuat istri mudanya itu ketakuan.


Windu tak tahan lagi dengan sikap aneh Wibisono. Ia pun segera berbalik arah dan keluar dari ruanag kerja itu dan membanting pintu kerja itu lalu berlari kencang menuju pintu lift.


Pikirannya hanyaa ingin sampai di rumah dan menanagis. Apa gunanya ia menikah kau tak pernah di butuhkan, di ajak diskusi dan lain sebagainya.


Sesampai di lobby, Windu terus berlari sambil sesekali memejamkan kedua matanya menahan tangisnya.


BRUK ...


"Hati -hati Bu," ucap satpam itu sambil membantu Windu berdiri karena menyenggol tiang penyangga bangunan.


Windu tetap diam dan berdiri kembali untuk melanjutkan berjalan menuju depan halaman kantor.


"Ibu menangis?" tanay satpam itu yang begitu peduli dengan Windu.


Satpam itu sudah mengabdi lama di perusahan Wibisono. Ia tahu persis Wibisono lelaki seperti paa.


"Maaf Pak. Tolong carikan saya taksi," pinta Windu pelan.


"Baik Bu," jawab satpam itu dneans segera keluar dari bangunan kantor itu dan mencari taksi untuk mengantarkan Windu pulang ke rumah besarnya.


Sambil menunggu taksi itu datang. Satpam itu kembali menemani Windu.

__ADS_1


"Biarkan Pak Wibisono sendiri. Itu biasa di lakukan," ucap satpam itu memberi tahu.


Kedua mata Windu menatap satpam yang menjelaskan tentang siapa Wibisono sebenarnya. Tentu ia lbih kenal di bandingkan dirinya sendiri yang memang hanya istri mudanya.


__ADS_2