
Arga sudah siuman satu jam yang lalu. Wanita paruh baya itu ternyata adalah Ibu Arga. Windu sempat tak percaya, namun setelah mendengar langsung Arga memanggil wanita itu degan sebutan Mama pun membuat Windu semakin yakin.
Ibu Lena baru saja selesai menyuapi Arga. Kini, ia berpamitan sebentar untuk pergi ke mini market dan memebeli beberapa makanan ringan untuk menemani Arga selama di rawat di rumah sakit.
"Windu, Ibu mau pergi belanja sebentar. Kamu ingin titip sesuatu?" tanya Ibu Lena lembut. Windu masih trelihat canggung, tapi Ibu Lena tetap berusaha membuat suasana hangat dan kondusif.
"Gak ada Tante. Windu lagi gak mau sesuatu," ucap Windu sopan.
"Kenapa anak mantu manggilnya masih Tante, Ga. Kamu gak ajari calon istrimu ini untuk memanggil Mama dengan sebutan Mama?" tanya Lena kepada Arag yang hanya tersenyum sambil melempar pandangannya ke arah Windu.
Windu yang di tatap Arga dan tersenyum dnegan manis itu semkin keki dan bingung.
Ibu Lena hanya tertawa kcil dan pamit keluar.
__ADS_1
"Windu ... Kemari," titah Arga dengan suuara lirih.
"Ya, Ga. Maaf ya, aku gak pernah tahu soal sakit kamu ini," ucap Windu pelan dengan penuh peyesalan.
"Kamu gak perlu tahu juga," ucap Arga ketus.
"Oh gitu. Aku tahu kenapa aku gak boleh tahu?" ucap Windu makin kesal.
"Kenapa?" tanya Arga menantang.
"Memang tidak. karena aku tidak mau. Aku tidak mau kamu sebagai teman, sahabat atau saudaraku. Aku hanya ingin kamu menjadi teman hidupku. Boleh aku egois?" tanya Arga juga kesal dnegan perasaannya sendiri.
"Ga. Kamu tahu kan? Aku ini istri orang. Aku punya suami. Dia, Mas Wibisono, anak buahmu sendiri," ucap Windu menjelaskan.
__ADS_1
"Ya. Aku tahu. Aku masih waras. Aku tak pernah menyuruh kamu untuk berpisah atau bercerai dari suami kamu. Aku bahkan memberikan support dan motivasi pada kamu untuk bisa mempertahankan pernikahan kamu," ucap Arga memelankan suaranya. Utuk apa berdebat dengan Windu, toh, dia hanay menganggap Arga sebagai partner saja dalam hal bisi.
Windu hanya terdiam. menarik napas dalam dan pelan ia keluarkan napas itu bersama dnegan beban hidup yang elama ini ia pikul sendiri.
"Boleh aku minta sesuatu dari kamu, Ndu? Aku minta tolong dengan sangat," ucap Arga memohon.
"Apa Ga? Kalau bisa aku bantu, pasti aku bantu dengan senang hati," jawab Windu pelan.
Windu duduk di tepi ranjang rumah sakit itu dan menatap Arga yang begitu lembut menatap Windu.
"Maafkan aku sebelumnya, Ndu. Aku mengakui kamu sebagai kekasihku. Aku merencanakan lamaran bersama kamu. Mama Lena menginginkan aku segera menikah agar aku memiliki gairah hidup lagi dan bisa sembuh. Padahal ...." ucapan Arga pun terhenti karena pintu kamar sudah terbuka dan memunculkan Ibu Lena.
Windu terlihat sedikit gugup. tapi, kini Windu jadi tahu posisisnya harus berbuat apa. Mungkin dnegan cara ini, Windu bisa membalas budi kebaikan Arga pada dirinya selama ini.
__ADS_1
Arga pun langsung memegang tangan Windu, agar Mama Lena melihat keduanya begitu terlihat saling mencintai dan menyayangi.
"Mesra banget sih?" ucap Mama Lema yang tak curiga sama sekali. Ia meletakkan tiga kantung plastik penuh dengan makanan, minuman dan beberapa kebutuhan sehari -hari.