
Pagi ini Windu sudah memasak dan menyiapkan sarapan pagi bagi semua orang yang ada di rumah ini. Selama Wibisono tidak pulang, tanggu jawab di rumah ini akan beralih pada Windu karena Yasinta pun tidak pernah lagi kembali ke rumah ini. Entah itu di sadari oleh Wibisono atau tidak yang jelas faktanya emmang begitu.
Windu sudah duduk di salah satu meja makan dan menunggu kedatangan para pekerja rumahnya.
Satu per stau para pelayang, tukang kebun dan satpam pun duduk di meja makan bersama Windu. Pintu pagar dan pintu depan rumah sudah tertutup rapat.
Windu tahu, saat ini Wibisono sedang mengalami depresi. Tingkat stres paling tinggi dan tidak bisa di ajak bicara baik -baik tetapi memilih diam dan menyendiri.
"Ada apa Nona? Kenapa kami semua di panggil untuk sarapan besama. Selama bertahu- tahun kami bekerja ini baru pertama kalinya kami makan bersama dengan majikan kami," ucap salah satu satpam yang paling senior di rumah itu.
__ADS_1
Windu hanya menanggapi ucaan satpam itu dengan senyuman yang tulus.
"Mungkin mulai pagi ini kita akan selalu makan bersama, dari sarapan pagi, makan siang dan makan malam," ucap Windu tegas.
Semua pelayan dan satpam menatap bingung namun terlihat bahagia. Dengan begitu uang bulanan mereka akan sering maan di rumha mewah ini tanpa harus embeli di luar dan menghabiskan uang bulanan yang seharusnya untuk di berikan kepada keluarganya.
"Nona Windu serius?" tanya Tini pelan.
"Serius. Tapi ada hal lain yang harus saya ungkap di sini. Saya mau minta maaf kepada kalian smeua, jika ada yang merasa kurang berkenan dengan ide saya ini," ucap Windu pelan. SEbenarnya ia ragu. Tapi hanya ini yang mampu menyelamatkan semua asset yaang ada.
__ADS_1
"Apa itu Nona. Dengan senang hai kami akan membantu," ucap salah satu satpam yang terlihat kekar tubuhnya.
Windu mulai menceritakan keadaan yang sebenarnya. Kondisi keuangan suaminya sedang tidak baik -baik saja. Windu kan membuka cafe di halaman rumah mewahnya ini. Jadi, niatnya dari halaman depan menuju samping akan di pakai untuk meletakkan meja kursi cafe yang di hias sedemikian rupa agar terlihat sangat menarik dan elegan. Windu juga meminta iji pada semua asisten rumah tanggany auntuk membawa keluarganya tinggal di rumah ini, bukan untuk mengusai tapi untuk membantu memasak.
Semua pelayang begitu tercengan dengan penuturan Windu. Ia percaya karena memang sudah satu minggu Wibisono tidk pulang. Dan beberapa kali memang ada pihak bank yang datang ke rumah ini dan menganalisis nilai jual rumaha besar ini.
Bukan takut miskin atau terpuruk. Windu hanya ingin menyelamatkan semuanya dnegan caanya sendiri. Mungkin selama satu minggu yang di berikan oleh pihak bank sebagai toleransi pun bisa di atasi dengan baik oleh Windu.
Kata sepakat pun di dapat dari hasil diskusi pagi itu. Mulai hari ini mereka akan sangat sibuk sekali. Membantu menata rumah besar itu yang di sulap sebagai cafe cantik.
__ADS_1
Windu menjual tiga mobil Wibisono yang tidak terpakai. Uang itu akan di pakai Windu sebagai modal awal untuk membuat cafe. Sebagian lagi uangnya ia pakai untuk membayar hutang ke bank sebaga awal ia mulai menyicil semua tunggakan.
Windu masuk ke kamar Yasinta. Ia mencari barang berharga yang masih bisa di jual untuk menutup hutang ke bank. Total hutangnya sebesar lima milyar. Tunggakan yang belum di bayar sekitar satu setengah milyar dengan total hutang masih sekitar tiga milyar. Hitungan yang sangat luar biasa besar. Terkadang kalau di pikir, uang sebesar itu kalau di belikan kopi kaal api tentu akkan mendapatkan bany dengan pabriknya juga.