
Nara House,
"Selamat siang. Selamat datang di Nara House." Maura menghampiri dengan senyum ramah ceria pada pasangan muda yang masuk kedalam restoran."Mau pesan apa? hari ini menu kami ada Ttoekbokki, kimbap ... dan juga si kimchi menu andalan yang tidak pernah ketinggalan."
"Dan untuk minuman ada dalgona kopi, banana milk tea, popcorn latte, stroberi latte. Dan masih ada beberapa lagi. Silahkan dilihat mbak cantik." gadis bermata bulat itu memberikan daftar minuman pada pelanggan wanita berpakaian casual street style itu.
"Saya pesan kimbap dua, dan kimchi satu. Untuk minuman, stroberi latte dua." kata wanita itu, usai bertanya pada lelaki yang duduk disampingnya dengan nada lembut.
Maura bisa menebak, dua orang yang seusia dengannya ini adalah pasangan kekasih. Terlihat dari keduanya juga sedang memakai kemeja yang serupa. Menurutnya itu lucu. Membuat tanpa sadar mengulum senyum. Sebagai pecinta drama Korea, dan kerap mengikuti tren busana Korea itu, dirinya juga pernah memimpikan akan melakukan hal yang sama jika suatu hari nanti sudah memiliki kekasih.
"Oke, ditunggu, ya." Maura tersenyum usai mencatat pesanan tersebut, kemudian melangkah semangat menuju dapur restoran. Gadis cantik yang baru dua bulan menjajakan diri di dunia perkulineran itu sempat merapikan rambut sebahunya yang tak berantakan sebelum masuk.
Didapur, ia bisa melihat Deva sedang berjibaku memasak. Pria tinggi dengan ketampanan masuk rata-rata artis pria Korea itu acap kali membuat Maura terpesona melihatnya. Menurutnya, keinginannya untuk berjumpa dengan artis favoritnya Song Jong-ki sedikit terobati hanya dengan melihat wajah Deva. Bukan keturunan Asia Timur yang identik dengan kulit putih, tinggi, bermata sipit. Deva Aryan Wiguna adalah pemuda asli Indonesia berdarah, Jawa. Tapi entahlah, mungkin dari silsilah keluarga, entah nenek buyutnya yang mewariskan itu padanya. Hingga terlihat begitu tampan.
Deva begitu luwes memainkan wajan di atas api. Masakan yang terlempar keatas, jatuh dengan teratur kedalam wajan kembali. Persis seorang chef handal yang berperan didalam drama-drama Korea. Dan itu terlihat keren bagi Maura. Sempurna! tanpa sadar dirinya bergumam.
"Kimchi satu, Ttoekbokki satu!."
"Oke.!" seru Deva tanpa melihat sambil terus fokus memasak.
Seruan Aina dan sahut suara Deva membuat Maura yang sempat melamun akhirnya tersentak. Ia bergeleng konyol, beruntung Deva tak melihat tingkah bodohnya. Kalau tidak, ah, pasti akan malu sekali.
"Watermelon punch dua!." masih kedengaran suara Aina berseru dari meja luar pada Andre si karyawan barista.
"Oppa Deva, meja nomor 20 memesan ini." Begitulah sapaan Maura selalu pada pria tampan bermata sedikit sipit itu sambil menunjukkan catatan pesanan pelanggan.
"Oh, oke ... sebentar, ya." Deva tersenyum. Kemudian segera mencicipi kimchi dari dalam tempayan. Pria itu sempat mengangguk-anggukkan kecil kepalanya, ungkapan rasa kimchi yang menurutnya sangat lezat.
"Oppa Deva, kimchi buatanmu itu selalu lezat. Semua pelanggan yang datang kesini tidak pernah ketinggalan untuk memesannya."puji Maura sambil berdiri di sebelah Deva, menumpukan kedua tangan pada meja dapur.
Deva yang sedang menyiapkan kimchi diatas piring putih estetik dibuat terkekeh tanpa suara dengan celotehan kecil Maura.
"Aku pernah memakannya di restoran lain. Tapi tidak ada yang seenak racikan tanganmu."
Pria yang dikenal tak banyak bicara ini kembali terkekeh. Merasa tak habis-habisnya Maura memujinya. Anehnya, ia tak pernah bosan atau risih. Entah itu jujur atau tidak, tapi sebagai pria dewasa, Deva bisa melihat sorot mata gadis itu yang memancarkan kekaguman lebih terhadapnya.
"Jangan selalu memujiku, nanti aku bisa sombong. Lagipula, aku mendapatkan ilmu memasak ini dari Pak Damar. Kalau tidak ... aku juga pasti tidak akan semahir ini."ucap Deva sambil kembali membungkuk melanjutkan tangannya menyusun kimchi diatas piring dengan hati-hati agar rapi."Dan menurutku, orang yang seharusnya kamu puji itu adalah Chef Damar."
"Aku memang pernah sekolah memasak di Korea. Tapi tetap saja, Pak Damar tidak bisa tertandingi."pungka Deva sambil kembali berdiri tegak melihat pada Maura."Kalau kamu mau belajar, bisa sama dia .... Adik ipar, pasti gratis."
Maura menekuk bibir kesamping. Merasa jengah mendengar nama kakak iparnya disebut."Dia pelit ilmu. Kemarin aku minta di ajarin ... tapi katanya otakku enggak bisa menjangkau masakan asing. Malah disuruh belajar goreng telur dulu."
__ADS_1
Deva terkekeh pelan.
"Kalau oppa Deva yang ngajarin aku, mau enggak?."Maura kemudian bertanya dengan nada suara sedikit ragu.
"Emm ...."Deva menjeda kalimat seperti berpikir."Boleh." ucapnya akhirnya."Tapi lain kali, ya, kalau pelanggan lagi sepi. Kalau ramai begini enggak mungkin. Bisa-bisa aku dipecat gara-gara mengabaikan pengunjung."ia terkekeh pelan diakhir kalimat.
Mendengar itu Maura dibuat kegirangan. Itu artinya semakin mudah baginya untuk mendapatkan hati pemuda tampan itu."Makasih oppa."ucapnya kemudian dengan nada manja.
"Maura Serillya Ayu!."
Suara bariton membuat Maura terperanjat karena terkejut.
Pletak!!
Maura memekik pelan, reflek memejamkan mata ketika sentilan mendarat di keningnya.
"MAS DAMAR .... sakit, tau!!"sungutnya sambil mengusap kening yang jadi terasa panas.
Melihat adik dan kakak ipar itu, membuat Deva mengulum senyum tipis.
"Disini kerja, bukan pacaran!!."jelas Damar tegas."Sana!."sambungnya sambil menujukan sekilas dagunya pada pelanggan yang semakin ramai.
"Ssst, Oppa."
Deva mengangkat wajah.
"Semangat!." dengan bahasa Korea yang terbatas dan senyum malu-malu, Maura menujukan jarinya yang menyilang berbentuk hati pada Deva.
"Astaga, nih, anak. Buruan!!."ucap Damar sedikit geram.
Maura nyengir. Kemudian dengan gerakan secepat kilat langsung berjalan ke depan ketika melihat sang kakak ipar membeliakkan mata padanya. Sementara yang melihat itu hanya bisa bergeleng pelan mengulum senyum.
Begitu pun Damar yang akhirnya bergeleng.
Tadi, sebenarnya dirinya hanya ingin mengambil minuman. Sepertinya segelas air putih tak cukup menghilangkan dahaga akibat panasnya cuaca siang ini usai menyelesaikan rapat beberapa saat lalu. Namun lagi-lagi pemandangan didalam dapur membuatnya bergeleng kepala. Bukan sekali, atau dua kali. Namun ini sudah kesekian kali ia mendapati sang adik ipar kerap menggoda Deva.
Bagaimanapun, Damar tak suka melihat sang adik ipar terlihat lebih agresif dibanding pria. Untuk wanita, menurutnya itu menggelikan sekaligus memalukan. Meski hanya adik ipar, tapi Damar selalu memperlakukan adik kesayangan istrinya itu, seperti adik kandungnya sendiri. Ia selalu mengajarkan bahwa harga diri harus lebih tinggi diatas segalanya.
"Rapat Bapak sudah selesai?." tanya Deva sambil mengambil pisau yang bertuliskan inisial namanya di pangkal pisau.
"Sudah." Damar membuka jas hitam miliknya. Menggulung kedua lengan kemeja putihnya yang bersih bergantian. Kemudian mengambil apron, lalu memakainya. Untuk kemudian bersiap tempur dimeja dapur. Bermain dengan api, dan aroma masakan.
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya mengganti pakaian dulu, Pak? takut nanti kemeja putih itu kecipratan minyak."
"Tidak perlu. Cuma sebentar."sahut Damar mengambil pisau, lalu mencincang beberapa siung bawang putih dengan gerakan cepat dan teratur.
Memasak adalah bakat yang menyenangkan baginya. Menjadi pengusaha kuliner, itu impiannya. Damar Alga Zachni. Putra semata wayang pemilik pengusaha kontruksi terbesar nomor satu yang ada di Jakarta yaitu, Razdan Alga Zachni. Damar juga menguasai beberapa masakan tradisional Indonesia.
Hanya saja persaingan bisnis membuatnya belajar, mencari inovasi lain. Dua tahun berguru kuliner di Korea, membuatnya menjadi Chef handal. Berhasil mendirikan restoran dengan menu masakan khas Korea, yang diminati hampir setiap masyarakat kota Jakarta. Khususnya para kaum muda-mudi sekarang ini.
Kali ini, Damar menyiapkan Ttoekbokki pesanan pelanggan. Bumbu halus telah siap dalam beberapa detik. Ia tumis hingga satu persatu bahan menguarkan rasa yang kuat. Seraya memejamkan mata, ia merasakan aroma wangi bumbu.
Deva menatap kagum sang atasan. Gerakan yang cepat namun tertata. Menurutnya Damar masuk dalam list nama Chef terbaik, setelah beberapa chef terkenal di Indonesia yang ia kagumi. Dari Damar juga, beberapa menu terbaik dan tersulit telah dia pelajari.
"Damar, ponselmu tertinggal." Aira masuk kedalam dapur restoran. Menyodorkan ponsel tersebut pada Damar."Ini."
"Letakkan diatas jasku." Damar menoleh, sambil menujukan dagu ke arah jas yang tadi sempat ia letakkan diatas bufet kecil disudut ruangan.
Aira meletakkan ponsel itu kemudian mendekatinya."Damar, apa yang kamu lakukan? Kamu lupa kalau sebentar lagi kita ada rapat dengan Pak Gilang?."
"Astaga, lihat ... kemeja mu bernoda." Aira memegang lengan kemeja Damar ketika saat itu Maura masuk untuk menyampaikan catatan pesanan pada Deva. Gadis itu sempat melihat sikap Aira yang menurutnya berlebihan.
"Oppa, ini pesanan selanjutnya."ucapnya pada Deva
"Terima kasih, aku akan menyiapkannya."
Maura membalas dengan senyum tipis. Lalu berbalik hendak keluar. Namun masih melihat jelas bagiamana Aira tengah sibuk membersihkan noda yang menempel di lengan kakak iparnya itu. Hanya noda kecil, kenapa dia sepanik itu? Oh, ya ampun mbak Naomi. Semoga tidak ada pelakor dalam pernikahanmu.
"Terkena percikan bumbu itu hal biasa." Damar menarik tangannya."Kamu siapkan berkas. Sebentar lagi aku berkemas."
.
.
.
.
.
Mohon maaf jika masi banyak typo😊
jangan lupa like, comment dan sarannya. supaya author bisa berkarya lebih baik lagi 🙏
__ADS_1