
..."Kamu itu sederhana. Tetapi ketika aku melamun sedikit saja kemudian mengingatmu, kau adalah riuh paling gaduh dalam kepala."...
^^^_Firdass2208_puisi^^^
"Angkat, angkat ... bawa ke markas!" terdengar seruan dari salah satu suara pria yang berkumpul.
Pria sempoyongan itu pun kembali menarik tangannya dengan paksa."Ayo, ikut kami!"
"Jangan! ... Lepaskan!." Maura kini menangis berusaha memberontak, ketika sebuah mobil tiba-tiba berhenti dan seorang pria turun dari dalam.
"Lepaskan dia!."
Suara bariton yang terdengar membuat semuanya menoleh, termasuk Maura. Ditengah ketakutan dan hujan lebat yang sudah membasahi seluruh pakaiannya, dirinya sedikit bisa bernafas lega melihat kehadiran Damar. Akan tetapi kelegaannya hanya sementara. Karena pria yang sedang mabuk itu, menariknya paksa menuju lorong gelap dengan langkah tak beraturan. Meski mabuk, namun genggaman tangan itu membuat lengan Maura terhimpit nyeri. Seketika bungkusan sate yang sedari tadi ia genggam jatuh ketanah.
"Lepaskan! Lepaskan aku!." air mata Maura kembali jatuh tak terbendung. Suara nya bergetar sarat akan ketakutan yang teramat sangat."Tolong, Mas!."ia melihat pada Damar sebelum pria itu menariknya semakin jauh. Ia sempat melihat Damar ingin mengejar, namun salah seorang pria berambut gondrong dengan tanpa permisi langsung menunjang Damar hingga terhuyung kebelakang.
"Mas!!." Maura menjerit menangis, namun pria sempoyongan itu menyeret langkahnya semakin jauh.
"Lepaskan dia!." sambil memegangi perut Damar berteriak. Pria gondrong yang baru saja menendangnya itu menatapnya seraya tertawa menyeringai seperti iblis. Kemudian mengangkat satu kaki hendak melayangkan sepak terjangnya kembali, tapi tertahan karena dengan sigap Damar mengelak langsung menangkis. Detik itu tunjangan keras dari kaki panjangnya menghantam perut pria gondrong itu.
Dengan hanya sekali tendangan pria gondrong itu langsung terpental ketanah. Berdesis kesakitan sambil memegangi dada, dan sedetik kemudian tak sadarkan diri. Sementara tiga orang yang sejak tadi berdiri akhirnya berlari kabur ketar-ketir.
Dengan berlari menerobos derasnya hujan, Damar mencari sumber teriakan Maura yang masih sayup-sayup terdengar. Terus berlari menyusuri lorong gelap. Hanya sedikit pencahayaan dari lampu jalan yang memberi segaris sinar. Dan suara itu semakin jelas ditelinganya. Dari jarak beberapa meter dan dengan pandangan yang terbatas karena hujan lebat, kaos putih yang Maura kenakan masih bisa ia lihat. Sementara pria berambut gondrong itu tampak seperti binatang kelaparan menghimpit tubuh Maura pada dinding lorong, nyaris tak berjarak. Tanpa sadar jemarinya terkepal kuat dengan rahang mengetat. Gegas berlari dengan langkah panjang dan cepat.
Bugh!!
Pria mabuk itu langsung terpental menghantam tembok lorong yang memang buntu usai sepak terjang dilayangkan oleh Damar. Seketika jatuh terkulai tak berdaya. Meski begitu, Damar dengan membabi buta masih meninju berkali-kali wajah pria itu. Pemandangan tadi, bagaimana pria itu menciumi paksa Maura, rintihan memohon dan tangis Maura, membuat hatinya sakit seolah tak rela.
Dengan netra memerah dan wajah bergetar menahan geram Damar terus meninju. Tanpa sadar setitik bulir bening menitik di pipi, bersamaan air hujan yang terus jatuh membasahi bumi. Pria sempoyongan itu tak lagi bergerak. Bahkan darah segar mengalir dibibir pria itu yang sepertinya robek akibat hantaman demi hantaman tangannya. Hingga suara isak pilu dari belakang terdengar dan berhasil menghentikannya. Seakan lemas dengan tenaga yang telah terkuras habis, ia lalu menoleh kemudian berdiri tegak, mendekati Maura yang masih berdiri kaku, menangis sesenggukan dengan kedua tangan erat melingkupi dada, menatapnya.
__ADS_1
Dingin, dan ketakutan yang teramat sangat seolah berbaur menyelimuti wajah gadis itu. Dengan perlahan Damar membawa tubuh mungil kedinginan itu dan memeluknya erat. Didepan dadanya, tangis Maura pecah sejadi-jadinya. Menumpahkan semua rasa yang mengungkung.
"Sekarang kamu aman. Jangan menangis lagi." lirih Damar pelan sambil mengusap halus kepala Maura menenangkan. Sepertinya berhasil, perlahan tangis itu reda, dengan tubuh Maura yang tiba-tiba lemas tak berdaya. Hampir merosot kebawah tapi berhasil ia tahan.
"MAURA?!"
Deru mobil yang berhenti diluar membuat Bik Imah yang sejak tadi menunggu diruang tamu dirundung perasaan cemas langsung berdiri membuka pintu. Ia terkejut melihat Damar turun sambil menggendong tubuh Maura.
"Astaga, Tuan ... Non Maura kenapa bisa pingsan? Apa yang terjadi Tuan?."
"Nanti saja aku ceritakan, bik. Sekarang Bibi tolong ikut aku ke atas."
Meski penasaran, Bik Imah menyetujui dan langsung menutup pintu, buru-buru berjalan mengikuti Damar ke lantai atas.
Usai mengganti seluruh pakaiannya yang basah, Damar mendekati tempat tidur, dimana bik Imah tengah duduk disisi ranjang sambil memijati kaki Maura yang berada dibalik selimut. Wanita yang wajahnya mulai dipenuhi keriput itu menatapnya.
"Tadi sudah sadar, Tuan. Ini lagi tidur ... habis saya kasih rebusan air jahe hangat."
"Tadi juga sempat minta ambilkan ponselnya dikamar sebelah." Bik Imah melihat pada benda tipis berwarna hitam diatas nakas, ketika itu suara notifikasi berbunyi."Tapi pas saya balik lagi, Eh, non Mauranya sudah tidur." buk Imah tertawa tanpa suara."Ini sepertinya ada pesan dari temannya."
"Oh, iya ... saya juga membuat air jahe untuk, Tuan. Langsung diminum, ya .... takut dingin."
Damar mengangguk pelan."Terima kasih, ya, Bik."
"Iya, Tuan." Bik Imah beranjak pelan-pelan takut ranjang itu bergoyang dan membangunkan Maura."Saya permisi dulu."
Damar mendekati nakas ketika bik Imah sudah keluar. Meraih segelas air jahe hangat yang masih utuh, lalu meneguknya dua kali. berhasil memberikan rasa hangat dari dalam tubuhnya yang terasa dingin akibat hujan yang membasahinya beberapa saat lalu. Sebuah notifikasi membuat layar ponsel itu kembali menyala, ketika Damar meletakkan gelas kembali. Beberapa kalimat bisa ia lihat dari layar tipis dalam mode terkunci itu.
Aina
__ADS_1
Besok kami jemput, standby pukul delapan.
Aina
Kenapa tidak dibalas, Ra? Jadi ikut, kan?
Ia lalu melihat pada Maura yang tertidur dengan wajah pucat. Kemudian mendudukkan diri dibibir ranjang, tepat disisi gadis itu.
Ingatannya kembali pada kejadian beberapa saat lalu. Ah entahlah. Jika dirinya terlambat sedikit saja, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Maura saat itu. Hanya membayangkan saja ia merasa ngeri.
Tadi, usai sepulang dari kantor, Bik Imah memang langsung memberitahukannya, perihal Maura yang pergi keluar mencari sate. Namun ketika dirinya selesai membersihkan diri pun, Maura tak kunjung pulang. Sempat menghubungi ponsel gadis itu, tapi deringnya justru terdengar dari kamar sebelah. Hingga akhirnya mendung datang, ia akhirnya memutuskan keluar untuk menjemput. Tapi siapa sangka, ketika mobil yang ia kemudi baru saja keluar menuju jalan besar, pemandangan tak mengenakan menyita perhatiannya.
Satu tangan Damar terulur mengambil bantal disisi Maura. Tapi gumaman tak jelas mampir ditelinganya. Ia kembali melihat Maura yang tengah terpejam sambil menggerak-gerakkan kepala ke kanan dan ke kiri seperti gelisah. Damar akhirnya meletakkan bantal kembali, menyentuh dahi halus nan putih itu. Suhu tubuh gadis itu lebih tinggi, menyalurkan rasa panas dipunggung tangannya.
Gegas Damar berdiri dan keluar dari kamar. Tak lama kembali sambil membawa handuk kecil dan air dingin didalam wadah berukuran sedang. Kemudian meletakkannya diatas nakas. Gadis itu masih terus bergumam mengigau.
"Tolong!."
"Tolong aku!"
Begitu gumaman tak jelas yang tertangkap ditelinganya. Sepertinya kejadian tadi menyisakan trauma dalam diri gadis itu. Sambil bersandar pada dinding tempat tidur, dengan pelan-pelan Damar meletakkan handuk peras di dahi putih itu. Hingga beberapa saat, barulah suara gumaman itu berhenti.
Namun itu tak lama, karena 15 menit kemudian Maura kembali bergumam seperti tadi. Terus meracau dengan kata-kata yang sama. Masih dengan mata terpejam, pucat.
Damar pun, mengambil handuk kecil yang kini ikut terasa panas dan hampir mengering itu hendak merendamnya kembali. Tapi sebelumnya, ia memperbaiki posisi leher Maura yang sedikit tertekuk dan terlihat tak nyaman, ketika saat itu ia dibuat terkesiap karena gadis itu tiba-tiba menarik tangan kanannya dengan tubuh bergetar, seperti menggigil kedinginan. Gerakan cepat dan tanpa diduga itu membuat tubuh Damar tertarik ke depan. Membuatnya menelan ludah, karena saat ini jarak mereka benar-benar sangat dekat.
Hal itu menghadirkan kembali perasaan aneh yang belakangan ini kerap muncul. Tapi kali ini lebih terasa diikuti dengan degup jantungnya yang kian berdetak lebih cepat. Ia menelan ludah. Refleks ingin menarik tangan. Namun lagi lagi ia dibuat terkejut dengan kedua bola mata terbelalak ketika bibir gadis itu tiba-tiba bertaut di bibirnya. Damar mematung, dengan jakun bergerak naik turun menelan ludah kasar karena gugup.
Saat itu, hawa nafas hangat nyaris panas terasa sekali di mulutnya. Ia merasakan tubuh Maura bergetar menggigil. Dan dengan pertautan bibir yang semakin dalam seolah meminta kehangatan. Entah apa yang ada didalam pikirannya, Damar seakan dibuat hanyut. Tanpa sadar membalas pertautan itu. Perlahan memejamkan mata, mengimbangi bibir hangat nan lembut milik Maura yang terasa bergerak tak beraturan.
__ADS_1